Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Pengalaman Suherman, Pelukis Manual Asal Blitar, di Era Digitalisasi Tetap Punya Banyak Peminat

Muhamad Ilham Baha’udin • Jumat, 24 Mei 2024 | 03:26 WIB
JIWA SENI: Suherman ketika mengerjakan pesanan lukisan berupa wajah beberapa waktu lalu.
JIWA SENI: Suherman ketika mengerjakan pesanan lukisan berupa wajah beberapa waktu lalu.

BLITAR - Di era modern ini, segala sesuatu telah dipermudah dengan teknologi digital. Dunia seni lukis terkena dampaknya karena banyak anak muda memilih menggambar melalui coretan digital. 

Namun, tak sedikit seniman yang tetap eksis melukis manual menggunakan pensil ataupun media cat.

Seperti Suherman, pelukis asal kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo. Sejak 2017, dia tetap eksis melukis dengan kuas.

SALAH satu stan di pameran yang diselenggarakan salah satu dinas beberapa waktu terlihat berbeda.

Puluhan gambar ilustrasi wajah terpampang. Tak hanya itu, para penjaga stan juga tampak sibuk dengan pensil dan buku sketsa miliknya. 

Setelah menyelesaikan gambarnya, seorang pria menyapa Koran ini dengan ramah. Dia mengaku bernama Suherman.

Pemilik sekaligus pelukis puluhan sketsa wajah yang dipajang di stan tersebut.

“Awal melukis dulu lebih ke mural. Kemudian mulai agak fokus sketsa wajah baru-baru ini,” ungkap Suherman, sambil meneruskan menggores sketsa wajah setengah jadi di kertas di depannya.

Berbagai daerah di Jawa Timur telah dijelajahi untuk unjuk kebolehan pada event menggambar.

Menurut dia, karyanya bisa dipesan secara online dan siap dikirim ke berbagai daerah di penjuru Nusantara. “Paling banyak orang Jakarta yang pesan,” akunya.

Macam-macam jenis lukisan manual ditekuni, mulai dari mural, sketsa, dan lukis wajah. Bahkan, dia juga membagikan ilmu yang dimilikinya melalui sanggar lukis miliknya.

Pria berusia 45 tahun ini tak minder dengan maraknya seniman digital. Dia tetap fokus menekuni pekerjaannya sebagai pelukis manual yang berbicara lewat goresan pensil. 

“Saya tak terlalu ambil pusing dengan persaingan antara seni digital dan manual. Toh, rezeki sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa,” ungkapnya.

Dia tak ingin membandingkan antara seni manual dan digital. Baginya, baik seni digital dan manual itu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Tak jarang, banyak seniman manual yang mahir menggunakan media digital karena keduanya saling melengkapi. Sketsa manual akan bertahan sampai kapan pun. 

Sebab, seni memiliki nilai estetika yang tinggi. Ciri khas warna hitam-putih pada goresan gambar yang ditampilkan pun memiliki kesan klasik dan lebih artistik.

Suherman telah banyak membuat sketsa wajah orang dan tokoh-tokoh besar. Sketsa menjadi istimewa tak lepas dari sentuhan senimannya. 

Dia berpesan kepada para pelukis yang menggambar sketsa manual untuk terus memberikan hasil terbaik kepada para pencinta seni dan memastikan kepuasan terhadap hasil karyanya. 

“Inilah yang membuat sketsa manual bisa bertahan di zaman yang serbadigital ini,” tuturnya.

Bersama rekan-rekan komunitas Tukang Gambar Blitaran, Suherman sering kali sasar event-event untuk unjuk kebolehan melakukan lukis sketsa wajah on the spot yang hasilnya bisa ditunggu. 

Dibanderol seharga Rp 30 ribu per wajah, sudah mendapatkan ilustrasi wajah seukuran kertas A4. 

“Untuk pengerjaan memakan waktu berkisar 30 menit hingga 1 jam, tergantung kesulitan dan permintaan pemesan,” bebernya. (*/c1/ady)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#manual #melukis #Kecamatan Sukorejo