Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Geluti Sejak Lama, Kades Binangun Blitar Ini Tetap Bertani di Tengah-tengah Kesibukan meski Pernah Merugi

Agung Prasetiyo • Jumat, 9 Agustus 2024 | 21:00 WIB
Kepala Desa (Kades) Rejoso, Kecamatan Binangun, Wawan Aprillianto
Kepala Desa (Kades) Rejoso, Kecamatan Binangun, Wawan Aprillianto

BLITAR - Kesibukan menjadi Kepala Desa (Kades) Rejoso, Kecamatan Binangun, tak serta merta membuat Wawan Aprillianto meninggalkan dunia pertanian tebu yang sudah digelutinya sejak lama.

Adapun alasan Wawan memilih bertani tebu, selain karena dasarnya adalah seorang petani, juga faktor efisiensi waktu. Menurut dia, bertani tebu susah susah gampang, tidak menyita banyak waktu.

"Setelah menanam, tinggal proses pemupukan, roges (memangkas daun), dan ditutup atau orang Jawa menyebutnya digulud. Jadi masih bisa disambi (pelayanan kepada masyarakat). Selain itu orang tua saya dulu menjadi petani tebu," tuturnya.

Lanjut pria sudah tiga periode menjabat sebagai Kades Rejoso ini mempunyai trik tersendiri menyiasati membagi waktu antara mengabdi masyarakat dan bertani.

"Saya sehabis subuh sudah pergi ke ladang tebu mengecek kondisi tanamn, mempersiapkan para pekerja yang akan melaksanakan kegiatan di ladang,” ungkapnya.

Jika di ladang sudah cukup, akan kembali ke rumah untuk bersiap-siap ke kantor di pagi hari. Lantas ke ladang kembali di sore hari setelah pulang dari kantor.

Dengan ketekunan serta konsistensi, tebu miliknya bisa berkembang dan panen rutin setiap tahun. “Pernah mengalami masa keterpurukan, yakni pada tahun 2020,” tandasnya.

Saat itu, kata dia, musim penghujan dalam waktu lama, artinya pada waktu panen tebu hujan tetap turun, mengakibatkan medan atau jalur menuju ladang tebu menjadi sulit dilalui.

Truk pengangkut panen waktu itu tidak bisa masuk, mengakibatkan banyak tebu tidak dipanen. Sedangkan tebu sudah dipanen namun tidak segera diangkut akhirnya tebu busuk dan tidak layak dijual.

Pada saat itu, satu setoran (satu rit)  dikalkulasi mulai dari ongkos tebang dan ongkos muat tebu minus Rp 150.000.

Itu belum dihitung biaya perawatan, mulai dari pupuk dan lain-lain berakibat omzet turun lebih dari 30 persen.

Belum lagi jika kurang asupan air, bisa berdampak pada bobot dan panjang dari tebu, sehingga mempengaruhi jumlah panen. Untuk pertumbuhan tebu yang terhambat, berpotensi menurunkan hasil panen.

Dia menyampaikan kunci dari segala usaha adalah konsistensi. Apapun yang dikerjakan harus disyukuri dan digeluti.

“Harus tetap mengerjakan semaksimal mungkin, ditambah dengan beberapa inovasi, sehingga bisa mendapatkan hasil optimal," pungkasnya. (iyo/din)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Kepala Desa Rejoso #Bertani #Kota Blitar