BLITAR - Menjadi pambiwara atau pembawa acara tradisional Jawa tidak hanya pandai berbicara di depan umum. Namun juga harus memperhatikan tata bahasa, intonasi, dan kata yang diucapkan agar diminati masyarakat. Seperti dilakukan Susianto, warga Desa Popoh, Kecamatan Selopuro.
Tidak banyak pembawa acara atau master ceremony (MC) yang memakai bahasa Jawa di Kabupaten Blitar.
Jika dihitung, mungkin bisa dihitung dengan jari. Salah satunya Susianto yang sejak 2010 menggeluti dunia pambiwara ini.
Susianto mengawali karier sebagai pambiwara sejak usia 25 tahun dengan mengikuti kursus khusus di salah satu lembaga di Blitar. Itu karena dia tidak bisa belajar otodidak dan merasa kurang yakin jika belajar sendiri. Jika lewat kursus bisa lebih terjamin ilmu terkait pambiwara.
“Saya menjadi pambiwara karena menyukai seni. Apalagi, saya juga menggemari pewayangan. Saya juga terinspirasi ketika pernikahan kakak yang ada pambiwara adat Jawa. Saya berminat dan bingung untuk memulai belajar,” ujar Susianto.
Dia menuturkan sempat terkendala mendapatkan informasi belajar terkait pambiwara. Cukup lama hingga dia menerima informasi tempat kursus tersebut.
Kemudian, dia mendengar informasi dari radio terkait adanya kursus pambiwara. Tanpa menunggu lama, dia segera mendaftar dan ikut kursus.
Di tempat kursus pambiwara ini, terang dia, sempat merasa minder dan malu karena para peserta kursus rata-rata sudah berusia cukup lanjut. Meskipun ada juga beberapa yang masih muda. Dari 20 peserta kursus, kurang lebih hanya 12 orang yang mengikuti hingga “diwisuda” sebagai pambiwara.
Saat ini, teman seangkatan yang masih eksis menjadi pambiwara di Bumi Penataran tinggal tiga orang.
Mereka semua laki-laki dan syukurnya masih banyak diminati oleh masyarakat untuk membawakan berbagai hajatan khususnya adat Jawa.
“Dalam sebulan, saya diundang lebih dari lima acara. Syukurnya sudah banyak yang mengenal. Saya hanya pambiwara prosesi adat Jawa seperti tedak siten, siraman manten, sisetan, dan prosesi adat lainnya,” ungkapnya.
Laki-laki 37 tahun ini mengaku hanya di Sura, Sela, dan puasa, undangan sebagai pembawa acara ini sepi. Biasanya hanya ada dua hingga tiga acara yang dibawakannya dan tentu bukan acara pernikahan. Peminatnya cukup banyak karena telah diakui dan banyak pengalaman.
Baginya, belajar pambiwara ini gampang-gampang susah, karena dalam pekerjaan ini harus banyak belajar tentang perbendaharaan kata dan artinya. Selain itu, pembawa acara pernikahan juga harus memperhatikan kondisi di lokasi. Logat dan intonasi juga harus cocok dengan lagu yang dibawakan pada acara.
Menjadi pambiwara juga harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Bila pambiwara dahulu pembawaannya kalem, Susianto kini membawakan acara lebih cepat. Karena menurut dia, pemilik hajatan tidak suka yang bertele-tele.
Susianto sering melakukan improvisasi ketika menjadi pambiwara, yang menjadi nilai tambah baginya. Dia sering membawakan intonasi dan kata-kata lucu dalam bahasa Jawa yang dicocokkan dengan gending yang mengiringinya. Kata yang sering dipakainya yakni “besane teko”, yang menjadi ciri khasnya ketika menjadi pambiwara.
Susianto menyebut tarifnya untuk menjadi pambiwara sekitar Rp 350 ribu hingga Rp 1 juta. Paling sering yang diterimanya Rp 350 ribu hingga Rp 400 ribu. Karena, masyarakat desa yang meminatinyajuga dari tingkat ekonomi berbeda.
“Saya bulan ini banyak permintaan untuk menjadi pambiwara adat Jawa. Bahkan, hari ini (red, kemarin) saya membawakan acara tedak sinten di Kecamatan Wlingi. Alhamdulillah, setiap bulan pasti ada kerjaan, Mas,” pungkasnya. (*/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila