BLITAR - Ada sensasi senang dan bangga ketika berhasil menuntaskan lari trail atau lari lintas alam. Bagi Nur Azarine Putri Yasmin, berlari di alam memiliki tantangan tersendiri. Warga Desa Sukosewu, Kecamatan Gandusari, ini langganan podium di sejumlah event lari trail.
Trek Gunung Kelud menjadi menu latihan setiap minggu. Sebisa mungkin seminggu sekali berlari di kawasan pegunungan maupun perbukitan. “Namun, untuk hari-hari biasa, saya latihan di jalan umum atau road,” ujar Putri kepada Jawa Pos Radar Blitar Kamis (26/12).
Olahraga lari bukanlah aktivitas baru bagi Putri. Dia sudah menekuni olahraga yang mengandalkan kaki ini sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Semua berawal saat penjaringan atletik untuk ajang Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) di madrasah tsanawiyah (MTs) tempatnya menimba ilmu.
Kala itu, perempuan 22 tahun ini mengikuti penjaringan lari 5.000 meter. Perjuangannya tidak sia-sia dan sukses terjaring dalam seleksi Porseni. Di kompetisi Porseni itu, Putri berhasil meraih juara.
Dari momen itulah, Putri semakin bersemangat untuk menekuni lari. Dia memahami ada potensi dan peluang besar dari olahraga lari tersebut. Terlebih, keluarga dan teman juga mendukung.
Motivasinya saat itu adalah ingin mendapat nilai bagus di mata pelajaran olahraga. Tak disangka, semangat larinya mampu mengantarkan Putri hingga seperti sekarang. “Selepas lulus sekolah, saya terus menekuni lari hingga akhirnya mengenal lari trail,” ungkap perempuan berjilbab ini.
Pertama ikut lari lintas awal itu karena iseng. Putri mencoba mengikuti event lari trail yang diadakan oleh komunitas lari terbesar di Blitar, Patria Run. Saat itu, dia penasaran dengan lari yang disebut memacu adrenalin itu.
Padahal, pengetahuan lari trail saat itu masih sedikit. Meski begitu, dia berusaha untuk belajar dan saling bertukar pengalaman dari pelari trail senior. “Sedikit demi sedikit, pemahaman tentang lari trail bertambah. Saya semakin penasaran untuk menjajalnya,” tuturnya.
Lewat event lari trail tersebut, Putri mencoba tektok gunung. Alhasil, dia tertarik dan menyukainya. “Di situ, adrenalin saya semakin terpacu. Saya makin tertantang,” ujarnya.
Putri semakin ketagihan dengan lari lintas alam tersebut. Dia makin rajin latihan secara rutin demi bisa mencapai target. Menurutnya, ada potensi dan peluang besar di olahraga lari trail tersebut.
“Di samping itu, keluarga dan teman-teman di sekeliling saya terus mendukung. Di situ, saya makin bersemangat untuk terus mengembangkan diri,” ungkap anggota Patria Run sejak 2022 ini.
Potensi dan peluang besar yang dimaksud yaitu upaya meningkatkan kemampuan dalam berlari trail. Selain itu, terus belajar dan berlatih bersama teman-teman senior.
Nah, momen berkesan mengikuti lomba lari trail yaitu saat bisa bersaing dengan peserta lainnya dari berbagai daerah. Pasalnya, setiap peserta memiliki karakter dan kemampuan yang berbeda. “Di situ, saya semakin tertantang dan terpacu untuk mencatatkan hasil terbaik,” terangnya.
Pengalaman mengikuti lomba lari trail selalu ada suka dan dukanya. Seperti saat mengalami cedera, bagi Putri itu hal yang wajar dan sudah risiko. Terpenting menjaga keamanan saat berlomba menjadi prioritas.
“Alhamdulillah, selama ikut race, cedera yang saya alami tidak begitu serius,” katanya.
Sedikitnya sudah 12 event race lari trail diikuti Putri tahun ini. Mulai dari kelas 12K (12 kilometer) hingga kelas 50K. “Kelas 50K ini yang terjauh. Saat itu, event Bromo Desert Race 50 alias Broder 50 dan mendapat juara 2,” tuturnya.
Meski seorang perempuan, berlari di alam bukanlah merupakan suatu ancaman. Putri ingin membuktikan bahwa perempuan juga memiliki kemampuan. “Intinya, kita tetap harus rutin berlatih dan menjaga pola makan serta nutrisi,” pungkasnya. (*/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila