Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mengenal Jejak Sejarah Gunung Penanggungan, Peninggalan Zaman Kerajaan Majapahit

Prima Suci Maharani • Rabu, 23 Juli 2025 | 21:00 WIB
GUNUNG PENANGGUNGAN (DIKUTIP DARI https://pariwisata.mojokertokab.go.id/)
GUNUNG PENANGGUNGAN (DIKUTIP DARI https://pariwisata.mojokertokab.go.id/)

BLITAR – Gunung Penanggungan, terletak di perbatasan Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Mojokerto.

Di balik keindahannya tersimpan jejak sejarah sejak zaman Kerajaan Majapahit yang jarang orang ketahui. Bagaimana kisah sejarahnya? Simak di bawah ini!

Gunung Penanggungan kerap dikenal dalam peradaban kuno sebagai Pawitra, bukan sekadar wisata alam biasa. Gunung dengan ketinggian 1.653 meter di atas permukaan laut ini menyimpan warisan spiritual dan budaya yang sangat penting dalam sejarah Jawa Kuno, khususnya pada masa keemasan Majapahit.

Pawitra berarti “suci” dan dalam Prasasti Cunggrang bertahun 851 Saka (929 M). Prasasti itu menjadi bukti arkeologis tertua yang mengakui kesucian gunung ini.

Pada masa itu, Penanggungan difungsikan sebagai Dharma Karasiana, sebuah tempat para pertapa mendekatkan diri kepada Sang Hyang Pencipta.

Di lerengnya, terdapat Sumber Belahan, yang dipercaya sebagai tirta suci atau air tempat penyucian diri.

Di petirtaan ini harus membersihkan diri sebelum naik ke Pawitra, simbol naiknya spiritualitas dari dunia fana ke alam kesucian.

Gunung Penanggungan dikelilingi oleh 8 puncak yang menggambarkan mandala, sebuah struktur sacral dalam kosmologi Hindu-Buddha.

Mandala ini menggambarkan pusat semesta, dengan Pawitra sebagai porosnya.

Itulah mengapa banyak candi dan situs pertapaan ditemukan di lereng-lerengnya. Bahkan, arah bangunan-bangunan di era Majapahit diyakini banyak yang berorientasi ke Pawitra yang menunjukkan bahwa gunung ini bukan sekadar titik geografis, melainkan titik spiritual.

Data arkeologis terakhir mencatat lebih dari 198 situs kuno tersebar di area Gunung Penanggungan. Dari Candi Wayang dengan relief kisah Panji, hingga gua-gua pertapaan.

Gunung Penanggungan bukan sekadar medan pendakian atau destinasi wisata. Ia adalah cagar budaya kolektif yang harus dilestarikan. Pawitra adalah warisan budaya dan generasi muda adalah pewarisnya. (*)

Editor : Anggi Septian A.P.
#Jejak Sejarah #Peradaban Kuno #gunung #mojokerto #peninggalan sejarah #pemandangan #jawa kuno #kabupaten pasuruan #hindu buddha #pendakian gunung #wisata mojokerto #kerajaan majapahit #penanggungan #destinasi wisata