BLITAR – Dulu, memiliki rumah adalah simbol kesuksesan hidup. Tapi hari ini, banyak generasi muda justru mengesampingkan mimpi itu.
Prioritas hidup mereka telah berubah drastis. Generasi muda lebih memilih investasi daripada membeli rumah.
Fenomena ini menandakan pergeseran besar dalam cara berpikir generasi muda.
Mereka tumbuh melihat bagaimana orang tua mereka bersusah payah mencicil rumah puluhan tahun, bahkan harus mengorbankan lebih dari 30% pendapatan bulanan hanya untuk membayar kredit rumah.
Bagi sebagian anak muda, itu adalah contoh nyata dari kondisi house poor atau punya rumah, tapi tidak bisa menikmati hidup.
Generasi milenial dan Gen Z kini lebih memilih hidup yang fleksibel. Rumah tidak lagi menjadi simbol keamanan, melainkan beban yang membatasi mobilitas.
Mereka menyewa tempat tinggal yang dekat kantor atau kampus, dan mengalokasikan penghasilannya untuk hal-hal yang mereka anggap lebih produktif seperti investasi saham, kripto, bisnis, pendidikan, hingga pengalaman seperti traveling atau mengikuti kursus.
Perubahan ini juga dipengaruhi oleh realitas ekonomi. Harga rumah terus meningkat, sementara pendapatan riil stagnan.
Kesenjangan ini membuat kepemilikan rumah menjadi semakin tidak realistis, apalagi di kota-kota besar.
Sementara itu, akses ke investasi digital semakin mudah. Dengan modal yang lebih kecil, mereka bisa mulai berinvestasi dari mana saja, kapan saja.
Anak muda juga lebih sadar akan pentingnya kualitas hidup. Mereka tak ingin mengulang kisah orang tua mereka yang terlalu fokus membangun aset fisik tapi mengorbankan waktu, hiburan, dan keseimbangan hidup.
Baca Juga: BPBD Kota Blitar Mulai Waspada Kekeringan, Tunggu Laporan Masyarakat Kesulitan Air
Mereka ingin menikmati hidup sekarang, bukan menunggu puluhan tahun sampai rumah lunas.
Kini, rumah bukan lagi satu-satunya impian. Bagi generasi muda, kebebasan finansial, mobilitas, dan kesempatan untuk berkembang adalah rumah mereka yang sebenarnya.
Editor : M. Subchan Abdullah