Blitarkawentar.jawapos.com – Fenomena sound horeng ternyata memiliki jejak sejarah panjang yang tidak banyak diketahui publik. Di Benggala Barat, India, tradisi adu audio yang kini viral berakar dari budaya festival Hindu yang telah berlangsung puluhan tahun.
Menurut laporan kedati demikian YouTube, perayaan keagamaan di pedesaan India menjadi tempat pertama kali dentuman keras sound system dipakai untuk menarik massa. Sejak saat itu, sound horeng menjadi bagian tak terpisahkan dari pesta rakyat.
Bukan sekadar hiburan, sound horeng lahir dari semangat kolektif warga desa yang menjadikan suara keras sebagai simbol persaingan. Dari situ, kompetisi audio berkembang menjadi tradisi baru yang diwariskan antar generasi.
Tradisi Pandal dan Musik Keras
Di India, khususnya Benggala Barat, setiap tahun digelar berbagai festival Hindu. Salah satu ciri khasnya adalah pandal, bangunan sementara untuk menaruh arca dewa yang disembah selama perayaan.
Antar desa biasanya bersaing menghadirkan pandal paling megah dan meriah. Bukan hanya soal dekorasi, tapi juga hiburan yang mampu menarik perhatian pengunjung.
Dari sinilah musik keras lewat pengeras suara mulai memainkan peran. Lagu puja, nyanyian religi, hingga musik Bollywood diputar kencang sebagai daya tarik utama.
Benih Kompetisi Suara
Kebiasaan memutar musik dengan volume tinggi di pandal melahirkan benih persaingan. Desa yang satu ingin pengunjungnya lebih ramai daripada desa tetangga.
Cara tercepat untuk menarik massa adalah dengan memutar musik lebih keras. Lama-kelamaan, adu volume antar pandal menjadi hal biasa setiap festival berlangsung.
Fenomena inilah yang menjadi cikal bakal tradisi kompetisi audio di pedesaan India. Meski awalnya informal, persaingan itu membentuk budaya baru yang semakin mengakar.
Peran Sound System dalam Kehidupan Desa
Selain festival, sound system juga dipakai dalam hajatan pernikahan, karnaval, hingga acara komunal lain. Operator musik box menjadi tokoh penting yang bertugas mengoperasikan audio sesuai kebutuhan.
Awalnya, peralatan itu hanya digunakan untuk acara resmi. Namun saat tidak ada pesta atau festival, perangkat audio sering menganggur di desa.
Kondisi ini mendorong pemuda untuk mencari hiburan baru. Mereka pun menggelar lomba sound system mandiri sebagai cara mengisi kekosongan.
Lahirnya Sound Battle di Pedesaan
Sekitar satu dekade terakhir, kompetisi ini berkembang menjadi tradisi populer. Pemuda desa mulai merakit speaker tambahan, memperkuat ampli, hingga membuat remix lagu populer dengan dentuman bas yang lebih keras.
Sound battle pun menjadi hiburan alternatif yang ditunggu-tunggu. Malam hari, lapangan desa berubah menjadi arena perang suara penuh semangat.
Suasana yang tercipta mirip pertandingan olahraga. Warga desa datang mendukung timnya dengan sorakan riuh dan rasa kebersamaan yang kuat.
Ekonomi dan Popularitas
Kompetisi ini juga memberi dampak ekonomi. Operator yang berhasil memenangkan battle akan lebih dikenal dan berpeluang mendapat order hajatan lebih banyak.
Sound battle ibarat ajang promosi gratis. Tim dengan speaker paling gahar akan populer dan dipercaya luas oleh masyarakat.
Fenomena ini ikut menghidupkan bisnis elektronik lokal. Permintaan speaker, ampli, dan peralatan audio rakitan meningkat tajam di pedesaan Benggala Barat.
Internet dan Viralitas
Perkembangan teknologi mempercepat penyebaran budaya ini. Sejak 2010-an, smartphone dan internet mulai masuk ke desa-desa India.
Para pemuda bisa membuat remix, merekam battle, dan mengunggahnya ke media sosial. Video mereka kemudian viral hingga dikenal luas di luar negeri.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana tradisi lokal bisa menembus batas lewat platform digital. Sound horeng pun menjelma menjadi tontonan global yang mencuri perhatian.
Sensasi Penonton di Tengah Dentuman
Bagi penonton, berada di tengah dua kubu sound system adalah pengalaman yang tak terlupakan. Getaran bass membuat tubuh beresonansi, menciptakan sensasi adrenalin unik.
Anak muda, orang tua, hingga anak-anak tumpah ruah di lapangan desa. Mereka menjadikan battle sebagai pesta rakyat yang meriah dan gratis.
Bagi warga desa, pengalaman ini jauh lebih berharga dibanding hiburan modern di kota besar. Suasana kebersamaan membuat mereka selalu menantikan battle berikutnya.
Polemik Kebisingan
Meski digemari, kompetisi audio juga menuai kritik. Volume yang dihasilkan seringkali melampaui batas aman kesehatan telinga.
Para ahli mengingatkan risiko tinnitus dan gangguan pendengaran akibat paparan suara di atas 100 desibel. Warga sekitar arena juga sering mengeluhkan gangguan kenyamanan.
Pemerintah India sebenarnya memiliki aturan tegas. Penggunaan pengeras suara dilarang setelah jam 10 malam. Namun kenyataannya, aturan ini sering dilanggar saat festival atau battle digelar.
Identitas Budaya yang Bertahan
Terlepas dari kritik, perang suara tetap bertahan sebagai bagian identitas pedesaan Benggala Barat. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat desa menyalurkan kreativitas dan kebersamaan.
Kompetisi audio bukan hanya soal keras-kerasan, tetapi juga kebanggaan kolektif. Desa pemenang mendapat kehormatan, sementara yang kalah termotivasi untuk tampil lebih kuat.
Dari festival Hindu hingga lapangan desa, sound horeng telah menjadi simbol ekspresi budaya. Ia lahir dari akar tradisi, berkembang lewat teknologi, dan bertahan sebagai hiburan rakyat.
Editor : Anggi Septian A.P.