BLITAR KAWENTAR - Fenomena konten quotes di TikTok kini menjadi perhatian serius kalangan psikolog dan akademisi. Format sederhana berupa teks motivasi atau galau yang dikombinasikan dengan video random dan backsound emosional ternyata menyimpan potensi bahaya psikologis yang tidak disadari penggunanya.
Dr. Sarah Nuraini, psikolog sosial dari Universitas Indonesia, menjelaskan fenomena ini melalui teori resonansi dalam sosiologi. "Konten quotes populer karena beresonansi dengan pengalaman emosional audiens. Ketika seseorang merasa terwakilkan, mereka cenderung membagikan konten tersebut, menciptakan efek viral," ungkapnya.
Algoritma media sosial semakin memperkuat fenomena ini. Platform seperti TikTok mendorong konten yang mendapat engagement tinggi, menciptakan siklus di mana quotes yang paling "relatable" mendapat exposure maksimal, regardless kualitas atau akurasi pesannya.
Penelitian terbaru dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada mengidentifikasi beberapa dampak negatif konsumsi berlebihan konten quotes:
Pertama, overgeneralisasi masalah kompleks. Fenomena seperti tren "Marriage is Scary" menunjukkan bagaimana quotes sederhana dapat menciptakan ketakutan kolektif terhadap institusi pernikahan tanpa konteks yang memadai.
Kedua, ketergantungan pada validasi emosi instan. Dr. Made Kartawinata, peneliti perilaku digital, menekankan bahwa "generasi muda menjadi tergantung pada affirmation eksternal ketimbang mengembangkan resiliensi internal untuk menghadapi masalah."
Ketiga, glorifikasi kesedihan. Konsumsi berlebihan konten galau dapat menjebak individu dalam siklus emosi negatif, di mana mereka lebih nyaman berlama-lama dalam kesedihan ketimbang mencari solusi konstruktif.
Aspek paling mengkhawatirkan adalah hilangnya filter kredibilitas. Konten quotes dapat dibuat oleh siapa saja tanpa verifikasi keahlian, terutama yang berkaitan dengan mental health atau advice kehidupan.
Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui program literasi digital telah mengidentifikasi quotes menyesatkan sebagai salah satu bentuk misinformasi halus yang sulit dideteksi karena tampak harmless namun dapat mempengaruhi persepsi publik secara masif.
Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, pakar psikologi sosial, merekomendasikan pendekatan critical media literacy dalam menghadapi fenomena ini. "Masyarakat perlu dibekali kemampuan mempertanyakan sumber, konteks, dan validitas setiap informasi yang dikonsumsi, termasuk quotes sederhana."
Platform edukasi digital seperti Indonesia Baik dan Literasi Digital Kominfo mulai mengembangkan program awareness tentang konsumsi konten yang sehat dan kritis.
Solusi dan Pencegahan
Para ahli menyarankan beberapa langkah preventif:
- Diversifikasi sumber informasi dan tidak bergantung pada satu platform
- Verifikasi kredibilitas creator sebelum mengadopsi advice mereka
- Batasan waktu konsumsi konten quotes untuk mencegah ketergantungan
- Konsultasi profesional untuk masalah mental health ketimbang mengandalkan quotes media sosial
Konten quotes di TikTok mencerminkan kompleksitas era digital di mana akses informasi yang mudah tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas. Diperlukan kolaborasi antara platform, pemerintah, dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem digital yang sehat, di mana motivasi dan inspirasi dapat diperoleh tanpa mengorbankan kemampuan berpikir kritis dan kesehatan mental. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah