BLITAR — dr. Ikhsanuddin Koti memperingatkan bahwa gejala serangan jantung sering disangka masuk angin oleh pasien dan keluarga. Ia menekankan pentingnya membedakan ciri asli serangan jantung agar penanganan darurat tidak terlambat.
Dokter muda ini bercerita pengalamannya saat bertugas di IGD dan menerima banyak pasien dengan nyeri dada yang awalnya dianggap angin duduk. Menurutnya, salah kaprah itu berisiko karena serangan jantung memerlukan penanganan cepat.
"Saya sering dengar pasien bilang 'masuk angin', padahal keluhannya lebih khas serangan jantung," kata dr. Ikhsan. Ia menjelaskan pengalaman praktisnya untuk membantu pembaca mengenali perbedaan dasar.
Ciri utama yang perlu dicurigai adalah nyeri atau ketidaknyamanan pada dada yang tidak bisa ditunjuk satu titik. Rasa seperti ditekan atau ada beban berat di dada, yang bisa menjalar ke punggung, lengan kiri, atau rahang, merupakan sinyal waspada.
Berbeda dengan kram perut atau masuk angin yang biasanya terasa lokal dan dipengaruhi makanan, nyeri jantung cenderung meresap dan tidak hilang dengan waktu singkat. Pasien juga mungkin berkeringat dingin, mual, pucat, atau merasa pusing—gejala yang sering diremehkan.
Secara medis, serangan jantung dibagi beberapa tingkat, antara lain STEMI, NSTEMI, dan angina pectoris. Intinya adalah ada penyumbatan aliran darah ke otot jantung akibat plak yang menghambat pembuluh darah koroner.
Diagnosis awal biasanya melalui rekam jantung (EKG) untuk melihat apakah ada elevasi ST yang mengindikasikan STEMI. Jika EKG menunjukkan gambaran khas, tindakan cepat seperti reperfusi atau pemasangan ring bisa menyelamatkan otot jantung.
"Time is muscle — jantung itu seperti otot, semakin cepat ditangani semakin kecil kerusakannya," tegas dr. Ikhsan. Ia menambahkan bahwa idealnya tindakan reperfusi pada pasien serangan jantung tertentu harus dilakukan sesegera mungkin, bahkan ada target 30 menit sejak diagnosis.
Faktor risiko yang memperbesar peluang serangan jantung antara lain hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, dan kebiasaan hidup tidak sehat. Meski umumnya terjadi pada usia menengah ke atas, kasus serangan jantung pada usia 20–40 tahun juga pernah ditemui, terutama jika ada obesitas dan gaya hidup buruk.
Banyak pasien menunggu dan mencoba obat lambung terlebih dahulu bila curiga "angin", padahal hal itu bisa menghabiskan waktu emas. Dr. Ikhsan menyarankan: bila muncul nyeri dada berat, disertai gejala menyertai seperti napas pendek atau pingsan, segeralah ke IGD.
Untuk masyarakat umum, langkah awal yang aman adalah tidak mengabaikan keluhan dada yang tidak biasa. Lebih baik ke IGD untuk pemeriksaan sederhana (EKG dan pemeriksaan darah) daripada menunda diagnosis yang bisa berakibat fatal.
Selain itu, pendidikan dini tentang perbedaan gejala penting diberikan di lingkup keluarga dan komunitas. "Jangan menunggu — jika ragu, bawa ke fasilitas kesehatan terdekat," kata dr. Ikhsan mengulang pesan pentingnya respons cepat.
Di Puskesmas, dokter umum dapat melakukan skrining awal dan merujuk pasien ke rumah sakit rujukan bila perlu tindakan lanjutan. Peran keluarga juga krusial untuk mengenali tanda bahaya dan mengantar cepat ke IGD.
Pengalaman dr. Ikhsan di IGD selama masa internship mengajarkan bahwa setiap detik berarti bagi pasien jantung. Kisah nyata pasien yang awalnya disangka angin sampai penanganan cepat menegaskan urgensi edukasi publik.
Kesimpulannya, bedakan antara gejala masuk angin dan serangan jantung dengan memperhatikan sifat nyeri, radiasi, dan gejala penyerta. Jika ada kecurigaan serangan jantung, jangan ragu membawa pasien ke IGD—penanganan cepat menyelamatkan nyawa.
Editor : Anggi Septian A.P.