BLITAR – Desa Adat Kasepuhan Ciptagelar di Sukabumi, Jawa Barat, menjadi salah satu contoh nyata bagaimana warisan budaya Sunda tetap lestari di tengah arus modernisasi. Terletak di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, desa adat ini berada di kawasan hutan lindung Gunung Halimun, dengan pemandangan alami yang memesona serta kehidupan masyarakat yang masih memegang teguh tradisi leluhur.
Perjalanan menuju Desa Adat Kasepuhan Ciptagelar dimulai dari Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Medannya menantang, menembus perbukitan dan hutan tropis yang rimbun. Namun begitu sampai di kawasan yang kini dikenal sebagai Gelar Alam, rasa lelah langsung terbayar. Udara sejuk, keramahan penduduk, serta suasana desa yang damai membuat siapa pun yang datang merasa seolah kembali ke masa lampau.
Di tengah desa berdiri bangunan utama bernama Imah Gede, rumah besar yang menjadi pusat kegiatan adat sekaligus tempat tinggal pemimpin adat, Abah Ugi. Imah Gede memiliki nilai spiritual tinggi bagi masyarakat Ciptagelar. Di sinilah segala keputusan adat dibuat, musyawarah dilakukan, dan berbagai ritual penting seperti Seren Taun (panen raya) digelar setiap tahunnya. Bangunan ini terbuat dari bambu, kayu, dan daun salak—seluruhnya bahan alami yang diambil dari hutan sekitar.
“Konsep rumah adat itu perlindungan dari alam dan untuk alam,” tutur salah satu warga setempat dalam video perjalanan tersebut. “Segalanya dibangun tanpa merusak, tapi justru menjaga keseimbangan dengan alam.”
Ciri khas lain dari Kasepuhan Ciptagelar adalah sistem pertanian tradisional yang sepenuhnya organik. Warga menanam padi tanpa bahan kimia dan mengikuti kalender adat yang diwariskan turun-temurun. Mereka percaya bahwa padi adalah makhluk hidup yang harus dihormati, bukan sekadar komoditas.
Padi hasil panen disimpan di lumbung yang disebut leuit, dan salah satu yang paling sakral adalah Leuit Si Jimat. Leuit ini berfungsi sebagai cadangan pangan komunal dan simbol ketahanan pangan masyarakat adat. Diperkirakan total cadangan padi di seluruh wilayah Kasepuhan mencapai 12.000 leuit—cukup untuk bertahan hingga 95 tahun tanpa panen sekalipun. Sebuah sistem yang terbukti jauh lebih berkelanjutan dibanding pertanian modern.
Meskipun banyak wisatawan datang berkunjung, Kasepuhan Ciptagelar bukanlah destinasi wisata komersial. Warga menegaskan bahwa desa ini adalah tempat hidup dan menjalankan amanah leluhur. “Siapa pun boleh datang, tapi harus mengikuti tatanan adat. Tidak ada tiket, tidak ada harga makan atau menginap. Semua dianggap tamu dan saudara,” ujar Abah Ugi dalam salah satu wawancara.
Prinsip tersebut mencerminkan filosofi hidup orang Sunda yang menjunjung tinggi kebersamaan dan rasa syukur. Para tamu dipersilakan tinggal di rumah penduduk, makan bersama, dan ikut dalam aktivitas harian tanpa dipungut biaya. Namun mereka juga diajak untuk memberikan sebutan rasa terima kasih sebagai bentuk penghargaan, bukan pembayaran.
Keunikan lain dari Desa Adat Kasepuhan Ciptagelar adalah cara mereka membangun dan memindahkan permukiman secara gotong royong. Pada tahun 2022, seluruh komunitas memindahkan desa ke lokasi baru di Gelar Alam—termasuk rumah adat, lumbung padi, dan bangunan utama. Semua dilakukan tanpa alat berat, hanya dengan tenaga manusia dan alat tradisional. Lebih dari 3.000 orang terlibat dalam proses ini.
Kini, suasana di desa baru tersebut sudah tertata. Rumah-rumah bambu berdiri rapi di lereng bukit, dikelilingi sawah hijau dan kabut tipis yang turun setiap pagi. Kehidupan masyarakat berjalan sederhana tapi penuh makna. Mereka hidup berdampingan dengan alam, menjaga air dari sumber mata air langsung, dan menolak penggunaan bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih dari sekadar komunitas adat, Desa Adat Kasepuhan Ciptagelar adalah cermin kebijaksanaan leluhur dalam menjaga harmoni antara manusia dan alam. Di tengah isu global tentang krisis lingkungan dan pangan, keberadaan Ciptagelar menjadi pelajaran penting: bahwa kearifan lokal bisa menjadi solusi untuk masa depan.
“Selama manusia hidup dekat dengan alam, alam akan memberi kehidupan,” kata Abah Ugi, menutup perbincangan dengan kalimat penuh makna.
Editor : Anggi Septian A.P.