BLITAR-Baru sebulan duduk di kursi Menteri Keuangan, Purbaya Yudistira Dewa langsung mencuri perhatian publik. Sosok yang sempat disebut “menteri tercepat bikin blunder” kini justru menjelma menjadi figur populer di media sosial. Gaya bicaranya yang lugas, spontan, dan ceplas-ceplos dianggap segar di tengah komunikasi pejabat yang selama ini kaku dan penuh angka.
Dalam diskusi yang disiarkan Metro TV, pengamat komunikasi politik Hasnat menilai bahwa Purbaya Yudistira Menteri Keuangan berhasil membangun kedekatan emosional dengan masyarakat lewat gaya komunikasinya yang membumi.
“Biasanya menteri keuangan terlihat perlente, jauh dari rakyat, jarang bicara, dan sulit dimengerti. Tapi Purbaya beda. Ia berbicara dengan gaya yang langsung ke kantong rakyat,” ujarnya.
Dari Blunder ke Figur Optimistis
Awalnya, Purbaya sempat dihujat karena pernyataannya yang dinilai arogan saat menanggapi gerakan rakyat pada 17 Agustus lalu. Namun dalam waktu singkat, persepsi publik berbalik. Masyarakat kini melihatnya sebagai pejabat yang berani, jujur, dan optimistis.
Menurut Hasnat, transformasi citra ini tidak lepas dari apa yang disebut dalam teori komunikasi sebagai konsistensi kognitif—yakni ketika pesan dan gaya komunikasi seseorang sesuai dengan ekspektasi publik.
“Dia masuk dengan gaya yang diharapkan rakyat untuk memecahkan kebuntuan ekonomi keluarga. Karena itu, banyak yang bilang kalau dengar Purbaya ngomong, rasanya bulan depan bisa kaya,” ujar Hasnat sambil tertawa.
Ungkapan itu menggambarkan bagaimana Purbaya Yudistira Menteri Keuangan mampu memunculkan optimisme baru di tengah tekanan ekonomi. Bagi sebagian masyarakat, Purbaya bukan sekadar pejabat teknokrat, melainkan sosok yang mampu memberikan harapan dan rasa percaya diri.
Komunikasi yang “Nyentuh Kantong Rakyat”
Perbedaan paling mencolok antara Purbaya dan pendahulunya seperti Sri Mulyani, Chatib Basri, atau Bambang Brodjonegoro, terletak pada cara berkomunikasi.
“Kalau menteri-menteri keuangan sebelumnya cenderung teknis dan berhati-hati, Purbaya lebih spontan. Dia tabrak aja, yang penting pesannya nyampe,” kata Hasnat.
Meski dinilai kasar oleh sebagian kalangan, justru gaya itulah yang membuatnya dekat dengan publik. Di media sosial, berbagai kepanjangan nama “Purbaya” bermunculan, mulai dari “Perubahan Besar untuk Indonesia Raya” hingga “Punya Rencana Buat Rakyat Kaya.”
Netizen ramai-ramai menjulukinya “Netizen Darling”, sebutan akrab bagi tokoh publik yang dicintai warganet.
Dampak Politik dan Dukungan Publik
Menariknya, popularitas Purbaya bahkan merambah ranah politik. Dalam diskusi yang sama, disebutkan bahwa sudah ada kelompok masyarakat yang mulai mendorong duet “Prabowo–Purbaya 2029” sebagai pasangan calon presiden dan wakil presiden masa depan.
“Bahkan karena nama Purbaya sering disebut, muncul kekhawatiran di kalangan relawan Jokowi soal arah dukungan politik menjelang 2029,” kata Hasnat.
Meski begitu, ia menilai fenomena ini wajar. Masyarakat haus figur pejabat yang berani bicara apa adanya dan tidak sekadar menyajikan angka-angka ekonomi di atas kertas. “Optimisme publik tumbuh karena gaya komunikasinya sesuai dengan keresahan masyarakat,” tambahnya.
Kontroversi Tak Hilang
Namun, popularitas itu bukan tanpa kontroversi. Salah satu pernyataan Purbaya yang menyebut “cukai rokok 57% seperti di era Firaun” menuai kritik dari kalangan penggiat kesehatan. Mereka menilai gaya sarkastik itu bisa menyesatkan publik terkait urgensi kenaikan cukai untuk pengendalian konsumsi rokok.
Meski demikian, sebagian analis menilai kontroversi semacam ini justru memperkuat citra Purbaya sebagai pejabat yang otentik dan tidak berpura-pura.
“Setiap pejabat pasti punya kontroversi. Tapi kalau dia bisa membuat publik bicara tentang ekonomi dengan bahasa yang mereka mengerti, itu pencapaian besar,” ujar Hasnat menutup pembahasan.
Citra Baru di Kementerian Keuangan
Kini, Purbaya Yudistira Menteri Keuangan bukan hanya dikenal karena kebijakannya, tetapi juga karena pendekatan komunikasinya yang dianggap membuka ruang baru antara rakyat dan pemerintah.
Dengan karisma dan gaya bicara yang “apa adanya”, ia berhasil mengubah persepsi publik terhadap Kemenkeu—dari lembaga yang dianggap elitis menjadi lebih dekat dan membumi.
Apakah gaya komunikasinya akan mampu memperkuat kinerja ekonomi nasional? Waktu yang akan menjawab. Namun satu hal pasti: Purbaya Yudistira Dewa telah berhasil mengubah blunder menjadi momentum kebangkitan citra seorang menteri keuangan di era baru.