Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Persebaya Surabaya Kritis? Sorotan Tajam ke Edu Perez, Uston Nawawi, dan Yahya Alkatiri Usai Skuad Rp82 Miliar Terseok

Findika Pratama • Jumat, 21 November 2025 | 01:00 WIB
Persebaya Surabaya Kritis? Sorotan Tajam ke Edu Perez, Uston Nawawi, dan Yahya Alkatiri Usai Skuad Rp82 Miliar Terseok
Persebaya Surabaya Kritis? Sorotan Tajam ke Edu Perez, Uston Nawawi, dan Yahya Alkatiri Usai Skuad Rp82 Miliar Terseok

BLITAR  – Persebaya Surabaya kembali menjadi sorotan setelah performanya terus menurun dalam beberapa pekan terakhir di Super League. Kondisi ini memicu tanda tanya besar: siapa yang harus bertanggung jawab atas jebloknya performa Persebaya Surabaya? Pertanyaan itu mengemuka seiring hilangnya arah permainan Green Force, yang selama ini dikenal garang dan penuh karakter. Para pendukung mulai mempertanyakan peran tiga sosok kunci di balik layar: pelatih kepala Edu Perez, asisten pelatih Uston Nawawi, dan manajer tim Yahya Alkatiri.

Situasi yang menimpa Persebaya Surabaya tidak datang tanpa sebab. Sejak awal musim, harapan besar ditempelkan pada tim berjuluk Bajol Ijo tersebut. Namun rangkaian hasil inkonsisten dan performa yang tidak menunjukkan identitas jelas membuat banyak pihak menyorot manajemen dan kepelatihan. Lalu apa yang sebenarnya terjadi?

Pelatih Edu Perez Jadi Sorotan Terbesar

Kedatangan Edu Perez dari Spanyol awalnya membawa harapan besar. Reputasinya sebagai pelatih dengan pendekatan taktik modern disambut baik oleh suporter. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan kebalikannya. Alih-alih memberi warna baru, racikan strategi Perez justru dianggap membuat Persebaya bermain tanpa arah.

Identitas permainan Persebaya yang selama ini dikenal agresif, cepat, dan penuh determinasi, tidak tampak dalam delapan laga awal musim. Strategi Perez dianggap belum menemukan bentuk terbaik, bahkan dinilai membuat skuad terlihat gamang dalam mengambil keputusan di lapangan.

Uston Nawawi Belum Berdampak

Di posisi asisten pelatih, legenda hidup Persebaya, Uston Nawawi, juga menjadi bagian dari spotlight. Banyak yang berharap ia bisa membawa karakter khas khas suroboyoan: wani, ngeyel, dan penuh determinasi. Tetapi sejauh ini, belum tampak pengaruh signifikan yang mampu mengangkat mental dan gaya bertarung tim.

Publik menilai peran Uston mestinya menjadi penguat dalam menjaga semangat lokal. Namun stagnasi performa tim membuat posisinya turut dipertanyakan.

Peran Manajer Yahya Alkatiri Dinilai Belum Maksimal

Di sisi manajemen, Yahya Alkatiri sebagai manajer tim juga tidak luput dari kritik. Keputusannya dalam perekrutan pelatih dan pemain dianggap belum menghasilkan komposisi tim yang kokoh. Padahal, Persebaya memiliki sumber daya besar dengan dukungan finansial kuat dan basis suporter fanatik Bonek yang tidak pernah berhenti memberi dukungan.

Persebaya seperti kapal besar yang kehilangan kompas. Semua elemen sebenarnya sudah ada, namun tidak bergerak ke arah yang sama.

Skuad Mewah Rp82,56 Miliar Tak Cukup Mengangkat Prestasi

Persebaya Surabaya memiliki nilai skuad mencapai Rp82,56 miliar—angka yang mestinya menempatkan mereka sebagai penantang papan atas Super League. Tetapi uang besar terbukti belum menjamin hasil. Ketidakseimbangan permainan kembali terlihat saat mereka bermain imbang melawan PSBS Biak di Stadion Maguwoharjo, Sleman.

Dua kartu merah untuk Leo Lelis dan Mikael Tata membuat Green Force bermain dengan sembilan pemain. Hasil seri itu terasa seperti kemenangan tertunda, namun menjadi alarm keras bahwa skuad mewah tidak menjamin kestabilan performa.

Edu Perez tetap tenang usai laga. “Saya bangga dengan pemain saya,” ujarnya. Kalimat yang sederhana, tetapi menyiratkan tekanan besar yang kini menumpuk di pundaknya.

Statistik yang Belum Memuaskan

Dalam delapan laga awal, Persebaya mencatat tiga kemenangan, dua imbang, dan tiga kekalahan. Total 11 poin, 9 gol, dan 8 kali kebobolan. Angka ini jauh dari ekspektasi publik, terutama jika dibandingkan klub-klub lain dengan nilai skuad setara atau di bawah Persebaya.

Di tribun stadion, suara Bonek terus bergemuruh. Mereka bukan hanya penonton, melainkan bagian dari identitas klub. “Persebaya bukan sekadar klub, tapi harga diri kota,” ujar seorang suporter di Gelora Bung Tomo.

Rivera Tunjukkan Loyalitas Tinggi

Dalam situasi sulit itu, Francisco Rivera menjadi satu dari sedikit pemain yang menunjukkan loyalitas dan kebanggaan mendalam. Usai laga melawan PSBS Biak, Rivera menegaskan rasa bangganya menjadi bagian Persebaya.

“Siapapun tahu betapa beratnya bermain dengan sembilan pemain. Jadi saya sangat bangga dengan semua rekan tim,” ucapnya. Ia juga memuji kerja keras tim, termasuk penampilan gemilang Ernando Ari yang berulang kali menggagalkan peluang lawan.

“Saya sangat bangga menjadi seorang Persebaya,” tutup Rivera. Pernyataan singkat yang menjadi pengingat bahwa meski badai besar menerpa, semangat dan loyalitas di tubuh Persebaya masih hidup.

 

Editor : Findika Pratama
#edu perez #bonek #persebaya surabaya #Yahya Alkatiri #uston nawawi