BLITAR – Polemik mengenai posisi Yahya Alkatiri Persebaya akhirnya mencapai titik baru. Manajemen Persebaya Surabaya resmi mengistirahatkan sang manajer tim setelah desakan kuat dari Bonek yang kembali menggelar aksi unjuk rasa di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Rabu malam, 13 Desember 2023. Keputusan ini disampaikan langsung oleh Direktur Operasional Persebaya, Candra Wahyudi, beberapa jam setelah Persebaya kembali gagal meraih kemenangan saat menjamu Persis Solo.
Aksi protes Bonek berlangsung setelah Persebaya Surabaya hanya mampu bermain imbang 1-1 dalam laga kandang tersebut. Hasil itu memperpanjang catatan tanpa kemenangan tim hingga delapan pertandingan beruntun. Kondisi inilah yang memantik kembali kemarahan dan kekecewaan pendukung setia Bajol Ijo.
Desakan Bonek Berujung Keputusan Berat Manajemen
Dalam orasinya di hadapan ribuan Bonek yang memadati area GBT, Candra Wahyudi menegaskan bahwa tidak tampaknya Yahya Alkatiri Persebaya di bench bukan kebetulan. Ia memastikan bahwa keputusan itu akan berlaku hingga akhir musim sebagai bentuk evaluasi menyeluruh terhadap performa tim.
“Kalau teman-teman perhatikan, hari ini tidak ada manajer Persebaya Yahya Alkatiri di bench. Dan kami memastikan hal itu akan berlangsung sampai akhir musim,” ujar Candra. Ucapan tersebut langsung disambut sorak-sorai Bonek yang sejak awal menuntut perubahan besar di manajemen tim.
Para suporter menilai Yahya Alkatiri gagal menjalankan tugasnya sebagai manajer tim, terutama dalam hal peningkatan performa Persebaya. Bonek sudah beberapa kali menggelar aksi unjuk rasa serupa, dan momen ini menjadi ketiga kalinya suara massa menuntut sang manajer untuk lengser.
Delapan Laga Tanpa Kemenangan, Catatan Terburuk Sejak Liga 1 2017
Kegagalan meraih kemenangan dalam delapan laga terakhir menjadi titik kritis dalam evaluasi Persebaya. Dari delapan pertandingan tersebut, empat di antaranya berakhir imbang dan empat lainnya berakhir dengan kekalahan. Kondisi ini disebut sebagai rekor terburuk sejak Persebaya kembali berlaga di Liga 1 pada musim 2017.
Situasi negatif tersebut memicu gelombang protes dan mendorong manajemen untuk mengambil langkah tegas. Candra mengakui bahwa performa Persebaya berada dalam fase paling sulit dalam beberapa tahun terakhir.
“Kami juga ingin periode negatif ini berakhir. Masih ada 13 pertandingan, dan kami tidak bisa menghukum Persebaya hanya dari laga ke-21,” tandasnya.
Selain meredakan tensi suporter, keputusan mengistirahatkan Yahya Alkatiri Persebaya juga menjadi sinyal bahwa manajemen mulai berbenah. Mereka meminta waktu kepada Bonek untuk bekerja keras memperbaiki performa tim hingga akhir musim.
Manajemen Minta Waktu, Bonek Minta Bukti
Meski merasa cukup puas mendengar keputusan tersebut, Bonek tetap memberikan catatan penting. Mereka menuntut agar Persebaya segera kembali ke jalur kemenangan. Target terdekat adalah laga kontra Persikabo pada 17 Desember 2023. Laga tersebut dianggap sebagai momentum penting bagi tim untuk bangkit dan menunjukkan respons nyata dari manajemen dan pelatih.
Candra kembali menegaskan bahwa pihaknya siap menanggung konsekuensi bila upaya perbaikan tidak membuahkan hasil.
“Kalau nanti di akhir musim Persebaya tidak sesuai harapan suporter atau Bonek, silakan hukum Persebaya,” ujarnya di hadapan para pengunjuk rasa.
Pernyataan ini semakin mempertegas bahwa manajemen membuka diri terhadap evaluasi menyeluruh, termasuk perombakan lebih besar apabila hasil tak kunjung membaik. Bonek memberikan dukungan, namun tetap dengan syarat: performa harus segera naik.
Tuntutan Prestasi Jadi Tekanan Berlapis
Polemik Yahya Alkatiri Persebaya menjadi cermin tingginya ekspektasi publik pada tim kebanggaan Kota Pahlawan ini. Sebagai salah satu klub dengan basis suporter terbesar di Indonesia, Persebaya selalu berada di bawah perhatian publik. Setiap hasil minor langsung memunculkan reaksi keras dari pendukungnya.
Kini, dengan absennya Yahya dari struktur tim hingga akhir musim, bola panas ada di tangan pelatih dan jajaran manajemen lain. Mereka harus mencari cara untuk mengembalikan performa, merapikan kembali mental pemain, serta memastikan Persebaya tidak terpuruk lebih jauh.
Menatap Laga Berikutnya dengan Harapan Baru
Keputusan ini membuka babak baru bagi Persebaya menjelang sisa kompetisi. Tantangan besar menanti, namun dukungan Bonek menjadi energi tambahan bagi tim untuk bangkit. Laga kontra Persikabo akan menjadi ujian awal atas keputusan penting ini.
Bonek berharap perubahan ini bukan sekadar formalitas, tetapi langkah nyata memperbaiki performa tim. Mereka menuntut konsistensi, kerja keras, dan transparansi—sesuatu yang telah lama mereka suarakan dalam berbagai aksi.
Dengan kondisi internal yang mulai berbenah, Persebaya memiliki kesempatan untuk memutus tren buruk dan kembali bersaing di papan tengah Liga 1. Semua mata kini tertuju pada bagaimana Persebaya memanfaatkan momentum ini untuk memperbaiki diri.
Editor : Findika Pratama