BLITAR – Proses Persebaya cari pelatih baru setelah pemecatan Eduardo Perez semakin menyita perhatian publik. Prosedur yang dianggap lambat memicu kritik dari Bonek, terutama karena hingga kini belum ada tanda-tanda hadirnya pelatih pengganti. Situasi ini membuat tekanan kepada manajemen Persebaya Surabaya meningkat, apalagi performa tim sedang turun. Dalam tiga paragraf awal ini, isu Persebaya cari pelatih baru terus menjadi sorotan utama seiring desakan suporter yang meminta klub bergerak cepat.
Dorongan agar Persebaya cari pelatih baru dengan cara yang lebih efektif muncul setelah publik membandingkan proses tersebut dengan metode rekrutmen PSM Makassar. Suporter menilai PSM berhasil menjalankan scouting pelatih dengan cepat, tepat, dan efisien. Keberhasilan PSM mendatangkan Thomas Truca menjadi contoh ideal yang terus digaungkan para pendukung Bajol Ijo. Dalam konteks pencarian pelatih, nama Persebaya kembali disorot karena dianggap tidak mampu bergerak secepat klub lain.
Kegagalan Persebaya menjaga konsistensi performa di lapangan turut memperkeruh suasana. Tim masih tertahan di papan tengah klasemen, sementara proses Persebaya cari pelatih baru berjalan lambat dan belum menunjukkan arah jelas. Kondisi ini membuat ekspektasi publik semakin tinggi terhadap manajemen agar merespons situasi secara konkret sebelum tim semakin terpuruk pada putaran kedua.
Desakan agar Persebaya meniru pendekatan PSM Makassar muncul bukan tanpa alasan. PSM berhasil menunjukkan efektivitas kerja cepat di bawah Thomas Truca. Truca langsung menghadirkan perubahan instan: tiga kemenangan beruntun, sembilan poin, dan 10 gol dalam tiga laga awal. Publik menilai itu hasil dari scouting yang tajam dan perencanaan matang.
Ucapan seperti “Scouting PSM jarang gagal” atau “Coba kalau Persebaya bajak tim scouting PSM” menggambarkan kehormatan publik terhadap cara PSM bekerja meski memiliki kondisi finansial terbatas. Hal ini berbanding terbalik dengan Persebaya yang dianggap lambat mengidentifikasi sosok pelatih yang tepat untuk memulai transformasi tim.
Ekspektasi semakin membesar ketika banyak netizen menyinggung bahwa pelatih pilihan Persebaya seharusnya tidak butuh adaptasi panjang. Suporter berharap pelatih baru bisa langsung “nyetel”, memperbaiki gaya permainan, dan membawa energi segar seperti yang dilakukan Truca di PSM.
Selain isu pelatih, lini serang Persebaya juga menjadi sumber masalah serius. Krisis gol kembali menjadi pembahasan hangat setelah Green Force hanya membawa pulang satu poin dari markas Bhayangkara Presisi Lampung FC. Hingga pekan ke-14, lini depan yang bernilai Rp12,61 miliar hanya mencetak dua gol, sangat jauh dari ekspektasi.
Padahal tiga striker asing—Mihailo Perovic, Dejan Tumbas, dan Diego Mauricio—diharapkan menjadi tumpuan utama. Namun kontribusi mereka jauh dari optimal. Perovic baru mencetak dua gol dari 12 laga meski menit bermainnya nyaris 1.000 menit. Sementara Tumbas mengalami pergantian posisi ekstrem, dari striker ke gelandang bertahan hingga bek kiri, membuat produktivitasnya anjlok. Sosok berpengalaman seperti Diego Mauricio pun belum menunjukkan kontribusi signifikan karena masalah kebugaran.
Minimnya ketajaman lini depan membuat publik mempertanyakan efektivitas investasi klub dalam mendatangkan pemain asing. Sorotan semakin tajam karena lini belakang juga belum solid, sehingga Persebaya sulit keluar dari tren inkonsisten musim ini.
Di tengah turbulensi klub, muncul sisi lain dari Persebaya yang ikut menyita perhatian publik luar negeri. Wonderkid abadi, Gali Freitas, kembali menjadi pusat perhatian setelah beberapa akun suporter Singapura menyoroti potensinya menjelang SEA Games 2025.
Freitas, yang kini berusia 20 tahun, kembali diterpa isu kembali terkait usia dan performa, meski sebelumnya telah dinyatakan sah tampil oleh AFF pada 2019. Musim ini, pemain muda itu tampil cukup stabil bersama Persebaya dengan torehan satu gol dan dua assist dari 12 pertandingan.
Komentar dari akun suporter Timnas Singapura membuat nama Freitas kembali ramai di media sosial, terutama karena ia hampir pasti memperkuat Timor Leste U-22 pada SEA Games. Liga domestik akan libur selama turnamen tersebut, sehingga Persebaya dipastikan melepas sang wonderkid.
Dengan tiga isu besar—krisis gol, performa tidak stabil, dan lambatnya proses Persebaya cari pelatih baru—Green Force menghadapi masa kritis yang membutuhkan keputusan strategis. Desakan publik agar Persebaya meniru PSM Makassar menunjukkan besarnya tuntutan suporter untuk melihat klub kembali kompetitif.
Manajemen ditantang bergerak cepat: menemukan pelatih berkualitas, merombak lini depan, dan membenahi sektor bertahan. Putaran kedua digadang-gadang sebagai momentum kebangkitan, namun tanpa keputusan cepat di kursi pelatih, Persebaya bisa semakin tertinggal dari pesaingnya.
Editor : Anggi Septiani