BLITAR - Bagi banyak orang, memulai hari tanpa seserep kopi rasanya seperti ada yang kurang. Entah itu kopi saset, giling sendiri, atau ngopi cantik di coffee shop estetik, minuman hitam ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian. Namun, tahukah Anda bahwa di balik kenikmatannya, Sejarah Kopi Arabika menyimpan fakta mengejutkan di mana minuman ini sempat dilarang keras di Jazirah Arab hingga Eropa karena dianggap berbahaya?
Asal-usul kata kopi sendiri merupakan penyerapan panjang dari berbagai bahasa. Berawal dari istilah Arab, kahwa, istilah ini menyebar ke Kekaisaran Ottoman menjadi kahve, hingga diserap oleh bangsa Eropa menjadi caffe, koffie, dan akhirnya coffee. Di Indonesia, kita mengenalnya sebagai kopi melalui serapan bahasa Belanda. Menariknya, pemahaman tentang Sejarah Kopi Arabika mengungkap bahwa kopi kini menjadi minuman yang paling banyak dikonsumsi nomor dua di dunia setelah air putih.
Meskipun saat ini kita bisa dengan bebas menikmatinya, Sejarah Kopi Arabika mencatat masa-masa sulit pada abad ke-15. Kala itu, para ulama di Mekah sempat mengharamkan kopi karena dianggap memiliki efek memabukkan layaknya khamr. Bahkan, di Inggris pada tahun 1675, Raja Charles II sempat memerintahkan penutupan seluruh kedai kopi karena takut tempat tersebut menjadi sarang diskusi politik yang memicu pemberontakan terhadap kekuasaannya.
Cerita penemuan kopi yang paling melegenda berasal dari Ethiopia pada abad ke-9. Seorang penggembala kambing bernama Kaldi terheran-heran melihat kambingnya mendadak sangat lincah setelah memakan beri merah liar. Kaldi yang ikut mencobanya merasa adrenalinnya terpompa hebat. Beri tersebut kemudian dibawa ke seorang pendeta, namun sang pendeta sempat membuangnya ke api karena takut berbahaya.
Tanpa diduga, dari bara api muncul aroma wangi yang menggoda. Biji yang terpanggang itu kemudian digiling dan dilarutkan dalam air panas, yang kini kita kenal sebagai metode penyeduhan kopi pertama di dunia. Para pendeta akhirnya memanfaatkan kopi agar kuat beribadah dan berdoa sepanjang malam tanpa rasa kantuk.
Pada abad ke-17, Jazirah Arab melalui Pelabuhan Moka di Yaman sempat memonopoli perdagangan kopi dengan melarang ekspor benih yang masih mentah. Namun, seorang peziarah India bernama Baba Budan berhasil menyelundupkan tujuh biji kopi keluar dari Arab. Dari sinilah kopi mulai menyebar ke India hingga akhirnya dibawa oleh VOC (Belanda) ke Pulau Jawa.
Pulau Jawa terbukti menjadi lahan emas bagi budidaya kopi. Produk dari Jawa seperti Java Preanger sangat digemari di Eropa. Bahkan, muncul campuran legendaris bernama Moka-Java, yang merupakan kombinasi biji kopi dari Pelabuhan Moka (Yaman) dan Pulau Jawa. Kombinasi ini menjadi standar rasa kopi premium yang konsisten bagi masyarakat Eropa pada abad ke-18.
Bagi penggemar film Hollywood, istilah Cup of Joe tentu tidak asing. Salah satu versi sejarah menyebutkan istilah ini muncul saat Perang Dunia I, ketika Sekretaris Angkatan Laut AS, Josephus Daniels, melarang konsumsi alkohol di kapal perang dan menggantinya dengan kopi. Para tentara yang kesal kemudian menyebut kopi sebagai Cup of Josephus (sindiran), yang lama-kelamaan disingkat menjadi Cup of Joe.
Sementara itu, menu Americano yang populer saat ini ternyata lahir dari ketidaksengajaan saat Perang Dunia II. Pasukan Amerika yang berada di Italia merasa Espresso lokal terlalu kental dan pahit. Orang Italia kemudian menyajikan Espresso dengan tambahan air panas agar lebih encer sesuai selera tentara Amerika. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga menjadi menu wajib di setiap kafe saat ini.
Kini, kopi bukan sekadar penghilang kantuk, melainkan simbol pertukaran ide. Sejarah mencatat bahwa tokoh besar seperti Mozart dan Beethoven sering menulis lagu di coffee house. Jadi, saat Anda duduk di kedai kopi hari ini, ingatlah bahwa Anda sedang menikmati minuman yang pernah mengubah jalannya sejarah dunia.(*)
Editor : Bherliana Naysila Putri Suwandi