Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Menelusuri Jejak Sejarah Bobotoh: Akar Fanatisme Pendukung Persib Bandung Sejak Era Kolonial hingga Menjadi Fenomena Global

Satria Wira Yudha Pratama • Kamis, 15 Januari 2026 | 20:15 WIB
Sejarah panjang Bobotoh Persib Bandung terungkap! Berawal dari istilah penyemangat
Sejarah panjang Bobotoh Persib Bandung terungkap! Berawal dari istilah penyemangat

BLITAR – Nama Persib Bandung tidak bisa dilepaskan dari peran luar biasa pendukung setianya, Bobotoh. Dikenal sebagai salah satu basis suporter paling fanatik dan loyal di Indonesia, Bobotoh selalu menjadi "pemain ke-12" yang memenuhi stadion dengan atribut serba biru. Namun, tahukah Anda bahwa istilah Bobotoh memiliki akar sejarah yang sangat dalam, bahkan sudah ada jauh sebelum Persib secara resmi berdiri pada tahun 1933?

Secara etimologi, istilah Bobotoh berasal dari bahasa Sunda. Merujuk pada kamus Eersat jadi Brata, Bobotoh memiliki makna sebagai orang yang menghidupkan semangat kepada mereka yang hendak berkelahi atau bersaing. Pada masa awal, istilah ini memiliki makna luas dalam dunia persaingan atau perkelahian untuk menjadi pemenang, sebelum akhirnya mengerucut menjadi identitas suporter sepak bola.

Eksis Sejak Zaman BIVB
Jejak Bobotoh di kancah sepak bola Bandung sudah terekam sejak tahun 1923 saat berdirinya Bandung Inlandsche Voetbal Bond (BIVB). Saat itu, setiap pertandingan BIVB selalu didatangi oleh penonton yang memberikan dukungan langsung di stadion. Istilah Bobotoh pun mulai lazim digunakan untuk menyebut para pendukung ini.

Fanatisme ini semakin mengkristal ketika dua perkumpulan sepak bola, PS IB dan NVB, sepakat melebur menjadi satu nama: Persib Bandung pada 14 Maret 1933. Sejak saat itu, dukungan Bobotoh menjadi kekuatan utama yang mengiringi perjalanan Maung Bandung di kancah sepak bola tanah air.

Sejarah Konvoi Juara dan Rekor Dunia
Momen bersejarah yang memperkuat ikatan emosional antara Persib dan Bobotoh terjadi pada tahun 1937. Kala itu, Persib meraih gelar juara kompetisi Perserikatan untuk pertama kalinya setelah mengalahkan Persis Solo di Stadion Sriwedari. Keberhasilan ini memicu gelombang kedatangan Bobotoh ke Solo dan melahirkan tradisi konvoi juara saat tim tiba kembali di Bandung.

Tak hanya di level nasional, fenomena Bobotoh juga sempat mencuri perhatian dunia pada tahun 1986. Saat laga final Perserikatan melawan Perseman Manokwari, ratusan ribu Bobotoh memadati Stadion Utama Senayan (sekarang GBK), Jakarta. Kehadiran massa yang luar biasa ini menjadi salah satu rekor kehadiran penonton terbanyak dalam sejarah sepak bola Indonesia.

-Baca Juga: Klaim Rapel Pensiun Resmi Cair dan Sudah Masuk Rekening Viral, TASPEN Tegaskan Tidak Ada Keputusan Final Pemerintah

Transformasi Kelompok Suporter Modern
Memasuki tahun 1990-an, nama Bobotoh semakin populer melalui pemberitaan media cetak nasional. Dari sinilah mulai bermunculan kelompok-kelompok suporter terorganisir di Stadion Siliwangi yang masih eksis hingga saat ini mendukung Persib Bandung.

Beberapa nama besar yang menjadi tulang punggung dukungan Persib di antaranya adalah Viking Persib Club (VPC), Bomber (Bobotoh Maung Bandung Bersatu), hingga La Curva Pasundan (LCP). Meskipun terbagi dalam berbagai organisasi, mereka tetap berada di bawah satu identitas besar yang sama, yaitu Bobotoh, yang terus setia mengawal kejayaan Maung Bandung lintas generasi.(*)

Editor : Satria Wira Yudha Pratama
#bobotoh #Sejarah Persib #Viking Persib Club #persib bandung #suporter indonesia