BLITAR – Kota Bekasi kini tengah bersiap menyambut wajah baru yang spektakuler melalui proyek Wisata Air Kalimalang. Kawasan yang dulunya hanya sekadar saluran irigasi dan jalan penghubung, kini disulap menjadi destinasi wisata berkelas dunia dengan anggaran fantastis mencapai Rp 125 miliar. Proyek ambisius hasil kolaborasi Pemerintah Kota Bekasi di bawah arahan Tri Adhianto dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat ini diprediksi akan menjadi ikon baru kebanggaan warga Bekasi Selatan.
Kehadiran Wisata Air Kalimalang ini diharapkan mampu mengubah stigma negatif Bekasi yang sering dijuluki sebagai "planet lain" karena kemacetan dan cuacanya yang panas. Dengan anggaran total sekitar Rp 120 hingga Rp 125 miliar, pembangunan ini mencakup revitalisasi besar-besaran, mulai dari pembongkaran 13 jembatan lama hingga pembangunan jalur pedestarian yang nyaman bagi pejalan kaki. Revitalisasi ini tidak hanya mengedepankan aspek estetika, tetapi juga fungsionalitas di mana jembatan dibangun lebih tinggi agar kapal wisata dapat melintas di bawahnya.
"Bekasi saat ini betul-betul berbenah besar-besaran. Ke depannya kawasan Kalimalang direncanakan menjadi pusat wisata air sekaligus destinasi kuliner. Setelah selesai, kapal bisa lewat dan warga tidak perlu jauh-jauh untuk berwisata, cukup di Kalimalang," ujar Abdul Fath Arifin dalam pantauan udara di lokasi proyek Wisata Air Kalimalang baru-baru ini. Proyek ini pun disebut-sebut akan memiliki nuansa yang mirip dengan Venesia, Italia, berkat deretan jembatan melengkung dan fasilitas pendukung yang modern.
Pembangunan Jembatan Melengkung dan Kontainer Kuliner
Salah satu fokus utama dari proyek ini adalah pembongkaran dan pembangunan kembali 13 jembatan di sepanjang aliran Kalimalang. Biaya untuk jembatan-jembatan baru ini saja dialokasikan sekitar Rp 60 miliar dari Pemprov Jabar. Desain jembatan yang dibuat melengkung dengan material plat baja tahan korosi diharapkan mampu memberikan kesan artistik sekaligus memungkinkan akses transportasi air.
Selain infrastruktur jembatan, Pemkot Bekasi juga telah menyiapkan puluhan kontainer yang nantinya akan difungsikan sebagai lapak UMKM dan pusat kuliner. Berdasarkan pantauan di lapangan, setidaknya sudah ada 21 unit kontainer yang tertata rapi. Area ini diproyeksikan menjadi tempat nongkrong favorit bagi warga yang ingin menikmati suasana sore di pinggir sungai sambil menikmati hidangan lokal.
Kritik Terhadap Pengerjaan Tanggul dan Kebersihan
Meskipun proyek ini disambut antusias, sejumlah kritik juga muncul terkait detail pengerjaan di lapangan. Salah satu poin yang disoroti adalah pengerjaan sheet pile atau tanggul penahan air yang dianggap belum tuntas di beberapa titik. Pengamat konstruksi di lapangan mengkhawatirkan adanya luapan air ke jalan raya jika tanggul tidak ditutup secara sempurna dengan batu bronjong atau parapet.
"Pengerjaan sheet pile ini terlihat setengah-setengah di beberapa ujung. Jika air Kalimalang meluap, bisa masuk ke jalan raya. Seharusnya ada batu bronjong di titik-titik kritis tersebut," ungkap Abdul dalam videonya. Selain masalah teknis, masalah sampah juga masih menjadi pekerjaan rumah bagi masyarakat dan pemerintah setempat agar citra "Venesia Bekasi" tidak tercoreng oleh limbah rumah tangga yang mengapung di aliran sungai.
Uji Coba Bus Wisata dan Transportasi Air
Pemerintah Kota Bekasi juga tengah merancang integrasi transportasi wisata. Namun, muncul kekhawatiran dari netizen mengenai tinggi jembatan yang melengkung. Beberapa pihak mempertanyakan apakah bus pariwisata yang berukuran besar dan tinggi bisa melintasi bagian atas jembatan tanpa tersangkut.
Dinas Perhubungan diharapkan segera melakukan uji coba ketat sebelum peresmian dilakukan secara total. Standar keamanan dan kenyamanan harus menjadi prioritas utama agar anggaran besar yang telah dikucurkan tidak terbuang sia-sia. Dengan segala tantangan yang ada, Wisata Air Kalimalang tetap menjadi proyek yang paling dinanti, membawa harapan baru bagi peningkatan ekonomi lokal dan pariwisata di jantung Kota Bekasi. (*)
Editor : Vicky Hernanda