Langkah strategis diambil manajemen dengan mendatangkan pemain baru Arema FC berposisi bek tengah asal Brasil, Walisson Maia. Perekrutan ini dikonfirmasi langsung oleh General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi. Kehadiran Walisson diharapkan menjadi kepingan puzzle terakhir untuk menambal celah di lini pertahanan yang menjadi evaluasi tim pelatih. Inal—sapaan akrab Yusrinal—optimistis bahwa pengalaman segudang pemain berusia 34 tahun ini akan membawa dampak instan bagi soliditas tim.
"Dengan kualitas yang dimilikinya, kami yakin ia dapat membantu meningkatkan performa dan kestabilan pertahanan Arema FC," ujar Inal di Kantor Arema FC, Kamis (5/2). Keyakinan manajemen terhadap pemain baru Arema FC ini bukan tanpa alasan. Rekam jejak Walisson terbilang mentereng. Sebelum mendarat di Bumi Arema, ia malang melintang di kompetisi kasta tertinggi Brasil bersama Coritiba FC, Criciuma, hingga Vila Nova SC. Tak hanya itu, ia juga memiliki pengalaman adaptasi di Asia Tenggara saat membela Da Nang FC di Liga Vietnam.
Hansamu Yama: Dari Cadangan Persija Jadi Pahlawan Arema
Sementara itu, cerita heroik datang dari rekrutan anyar lainnya, Hansamu Yama Pranata. Pemain yang dipinjam dari Persija Jakarta ini langsung membuktikan kelasnya pada pekan ke-19 Super League 2025/2026. Laga debutnya melawan Persijap Jepara berakhir bak dongeng. Hansamu yang di putaran pertama nyaris terlupakan di bangku cadangan Macan Kemayoran, justru tampil sebagai penentu kemenangan lewat gol debutnya.
Meski langsung mencatatkan nama di papan skor, mantan punggawa Persebaya Surabaya ini memilih tetap membumi. Baginya, gol hanyalah bonus. Fokus utamanya adalah mendapatkan menit bermain reguler yang hilang selama setengah musim terakhir. Seperti diketahui, di Persija Jakarta, Hansamu kalah bersaing dengan tembok tebal seperti Thales Lira, Rizky Ridho, dan Jordi Amat. Ia tercatat hanya bermain empat kali sebagai pemain pengganti di menit-menit akhir.
"Saya tidak memikirkan gol. Yang terpenting bagi saya dapat kesempatan main," tegas Hansamu usai laga. Performa solidnya ini diprediksi akan membuat pelatih Arema FC, Marcos Santos, semakin yakin memberikan satu tempat utama di jantung pertahanan Singo Edan. Kepercayaan pelatih bahkan sudah terlihat saat Hansamu langsung diturunkan meski baru mengikuti dua kali sesi latihan.
Pengalaman Walisson Maia: Kematangan Usia Jadi Kunci
Kembali menyoroti Walisson Maia, keputusan Arema merekrut pemain berusia 34 tahun ini menunjukkan adanya perubahan strategi. Manajemen tampaknya lebih memprioritaskan kematangan mental dan pengalaman (leadership) ketimbang sekadar kecepatan pemain muda. Di kompetisi sekeras Super League, ketenangan di lini belakang seringkali menjadi faktor pembeda antara kemenangan dan kekalahan.
Klub terakhir Walisson, Vila Nova SC di Serie B Brasil, dikenal memiliki kompetisi fisik yang ketat. Bekal fisik dan pemahaman taktik dari kiblat sepak bola dunia tersebut diharapkan bisa ditularkan kepada bek-bek muda Arema lainnya. Koneksi Brasil di tubuh Arema pun kian kental dengan keberadaan pelatih Marcos Santos, yang diprediksi akan memudahkan proses adaptasi Walisson.
Eksperimen Taktikal: Gustavo Franca Nyaman di Sayap
Selain kedatangan pemain baru, Arema FC juga melakukan penyesuaian taktik yang menarik di putaran kedua ini. Gustavo Franca, pemain asing asal Brasil yang biasanya beroperasi sebagai gelandang serang (playmaker), kini digeser melebar ke posisi sayap (winger).
Perubahan posisi ini ternyata tidak menjadi masalah bagi Franca. Dalam wawancaranya pada Kamis (5/2), ia mengaku nyaman dan siap menjalankan instruksi pelatih demi kemenangan tim. "Pelatih tahu saya bisa bermain lebih ke dalam atau bermain di sayap. Saya tetap nyaman berada di posisi ini," ungkap Franca.
Fleksibilitas Franca ini memberikan keuntungan besar bagi Marcos Santos. Dengan Franca di sayap, Arema memiliki opsi serangan yang lebih variatif—bukan hanya mengandalkan lari, tetapi juga tusukan ke dalam (cut inside) dan visi umpan yang mematikan. Franca juga menegaskan bahwa chemistry dengan pelatih berjalan sangat baik. "Saya benar-benar merasa seperti di rumah, pelatih sudah membantu saya," tambahnya.
Kombinasi antara solidnya pertahanan baru di bawah komando Walisson Maia dan Hansamu Yama, serta cairnya lini serang dengan peran baru Gustavo Franca, menjanjikan wajah Arema FC yang jauh lebih garang di sisa musim kompetisi ini. Aremania patut menantikan bagaimana racikan Marcos Santos ini akan membawa Singo Edan merangsek naik ke papan atas klasemen. (*)
Editor : Saifullah Muhammad Jafar