BLITAR - Kecurangan di dunia sepak bola bukan cerita baru. Dari liga kecil hingga panggung sebesar Piala Dunia dan Liga Champions, kontroversi wasit dan dugaan match fixing kerap mewarnai perjalanan si kulit bundar.
Isu kecurangan di dunia sepak bola bahkan sering kali lebih ramai dibanding hasil pertandingan itu sendiri. Keputusan kontroversial, gol yang dianulir, penalti tak diberikan, hingga dugaan pengaturan skor membuat publik bertanya-tanya: apakah sepak bola benar-benar bersih?
Berikut deretan kasus kecurangan di dunia sepak bola yang paling banyak diperbincangkan, termasuk yang menyeret Indonesia.
Chelsea vs Barcelona 2009: Luka Lama Liga Champions
Finalis paling kontroversial dalam sejarah Liga Champions terjadi pada semifinal 2009 antara Chelsea dan Barcelona. Dalam laga leg kedua di Stamford Bridge, sejumlah pelanggaran pemain Barcelona di kotak penalti tak berbuah penalti untuk The Blues.
Michael Ballack hingga Didier Drogba terlihat memprotes keras keputusan wasit Tom Henning Ovrebo. Setidaknya ada beberapa dugaan handsball dan pelanggaran yang diabaikan.
Ironisnya, di menit akhir Andres Iniesta mencetak gol penentu yang membawa Barcelona ke final. Hingga kini, laga tersebut masih disebut sebagai salah satu contoh paling terang-terangan dari kecurangan di dunia sepak bola versi netizen.
Korea Selatan vs Italia 2002
Piala Dunia 2002 juga tak lepas dari kontroversi. Saat Korea Selatan menghadapi Italia di babak gugur, dua gol Italia dianulir. Francesco Totti bahkan diganjar kartu merah setelah dianggap melakukan diving.
Padahal tayangan ulang menunjukkan situasi yang masih bisa diperdebatkan. Korea akhirnya menang lewat gol di babak perpanjangan waktu. Banyak pihak menilai tuan rumah diuntungkan keputusan wasit.
Kontroversi tersebut menambah daftar panjang dugaan kecurangan di dunia sepak bola di level turnamen terbesar sekalipun.
Gol Ronaldo yang Tak Diakui
Pada kualifikasi Piala Dunia 2022 antara Portugal melawan Serbia, Cristiano Ronaldo sempat mencetak gol di menit akhir. Bola terlihat sudah melewati garis gawang sebelum disapu bek Serbia.
Namun wasit tak mengesahkan gol tersebut. Ronaldo sampai membanting ban kapten karena kecewa. Meski saat itu sudah ada VAR di turnamen besar, laga ini belum menggunakan teknologi garis gawang.
Banyak fans menyebut momen tersebut sebagai contoh kelalaian fatal yang merugikan tim.
Match Fixing Nigeria dan Liga Arab
Kasus match fixing juga pernah mencuat di Liga Nigeria. Dalam satu pertandingan, investigasi sembilan tahun kemudian membuktikan wasit menerima pesanan agar laga menghasilkan lima gol.
Dua penalti kontroversial diberikan demi memenuhi target tersebut. Rekaman ulang menunjukkan keputusan yang janggal, termasuk handsball yang sebenarnya tidak terjadi.
Di Liga Arab, ada pula momen kiper menepis bola di luar kotak penalti tanpa kartu merah. Laga tetap berjalan seperti tak terjadi pelanggaran. Tayangan televisi memperlihatkan kejanggalan tersebut secara jelas.
Sepak Bola Gajah Indonesia
Indonesia pun tak lepas dari sorotan. Pada Piala Tiger 1998, Indonesia dan Thailand diduga sengaja menghindari status juara grup agar tidak bertemu lawan tertentu di semifinal.
Pertandingan berlangsung aneh, bahkan terjadi gol bunuh diri yang disengaja. Publik mengenalnya sebagai “sepak bola gajah”.
Kasus serupa terjadi pada laga PSIS Semarang vs PSS Sleman beberapa tahun lalu. Dalam waktu singkat tercipta beberapa gol bunuh diri demi menghindari lawan tertentu di fase berikutnya. Sanksi pun dijatuhkan kepada klub dan pemain terlibat.
Wasit Liga 1 dan VAR “Mandiri”
Ada pula kisah unik dari Liga 1 Indonesia tahun 2017. Seorang wasit berinisiatif melihat tayangan ulang dari kamera siaran televisi karena ragu mengambil keputusan.
Karena saat itu belum tersedia monitor VAR resmi, tindakannya dianggap melanggar prosedur. Ia kemudian dijatuhi sanksi larangan memimpin pertandingan selama beberapa pekan.
Meski bukan bentuk kecurangan, peristiwa ini menunjukkan bagaimana regulasi dan teknologi sangat berpengaruh dalam meminimalkan kecurangan di dunia sepak bola.
Sepak bola selalu dipenuhi emosi, rivalitas, dan kepentingan besar. Uang yang berputar di dalamnya pun tak sedikit. Karena itu, pengawasan terhadap wasit, federasi, hingga sistem kompetisi menjadi kunci menjaga sportivitas.
Publik tentu berharap, dengan teknologi seperti VAR dan transparansi yang lebih baik, praktik kecurangan di dunia sepak bola bisa ditekan. Sebab pada akhirnya, sepak bola seharusnya dimenangkan oleh kualitas permainan, bukan keputusan kontroversial.
Editor : Axsha Zazhika