BLITAR – Sebelum periode sulit yang sempat dialami beberapa tahun lalu, AC Milan pernah berdiri di puncak dunia sebagai tim yang paling disegani.
Di bawah tangan dingin pelatih Carlo Ancelotti, klub berjuluk I Rossoneri ini bertransformasi menjadi kekuatan yang menakutkan, memenangkan dua gelar Liga Champions dan mengukir sejarah tak terlupakan dalam dekade 2000-an.
Era Ancelotti bukan sekadar tentang trofi, melainkan tentang revolusi taktik. Salah satu langkah paling briliannya adalah menempatkan Andrea Pirlo sebagai deep-lying playmaker atau regista, sebuah keputusan yang mengubah dinamika permainan Milan secara total.
Ancelotti juga dikenal dengan formasi inovatif 4-3-2-1 yang ikonik, yang dikenal sebagai formasi "Pohon Natal", demi mengakomodasi gelandang-gelandang kreatif seperti Rui Costa, Clarence Seedorf, dan bintang muda berbakat, Kaka.
Puncak kejayaan awal era ini terjadi pada malam final Liga Champions 2003 di Old Trafford.
Dalam "All Italian Final" yang penuh tensi melawan Juventus, AC Milan berhasil keluar sebagai juara melalui adu penalti yang dramatis.
Eksekusi penentu dari Andriy Shevchenko memastikan trofi Liga Champions keenam bagi Milan, sekaligus menjadi pembuktian bagi Ancelotti yang sebelumnya sempat diragukan.
Keberhasilan ini juga melahirkan duet pertahanan legendaris antara Paolo Maldini dan Alessandro Nesta yang dianggap sebagai salah satu yang terbaik sepanjang masa.(*)
Editor : Satria Wira Yudha Pratama