BLITAR – Juventus merupakan klub sepak bola dengan identitas ganda yang kontras. Di satu sisi, mereka adalah klub sukses dengan sejarah panjang sejak 1897 dan didukung secara finansial oleh keluarga terkaya di Italia, Keluarga Agnelli.
Namun di sisi lain, julukan "La Vecchia Signora" atau "Sinyonya Tua" sering kali tercoreng oleh deretan skandal yang membuat mereka dicap sebagai tim paling bertanggung jawab atas citra kotor Liga Italia.
Dominasi Juventus dimulai sejak Eduardo Agnelli mengambil alih klub pada 1923, menjadikannya tim dengan aliran dana tak terbatas.
Namun, kedekatan dengan kekuasaan ini sering kali berujung pada manipulasi. Puncak kegelapan sejarah mereka terjadi pada musim 2004-2005 melalui skandal Calciopoli.
Investigasi mengungkap bahwa manajer umum saat itu, Luciano Moggi, menggunakan taktik ala mafia untuk menekan wasit agar membuat keputusan yang menguntungkan Juventus. Akibatnya, gelar juara mereka dicabut dan klub dipaksa degradasi ke Serie B.
Meski sempat bangkit dan meraih kembali pamornya melalui pemain bintang seperti Alessandro Del Piero hingga Cristiano Ronaldo, bayang-bayang skandal seolah tak pernah lepas.
Pada Mei 2023, Juventus kembali dihukum deduksi 10 poin akibat kasus akuntansi palsu dan manipulasi nilai transfer pemain.
Meski terus didera kontroversi, loyalitas para penggemarnya tetap tak tergoyahkan, menjadikan Juventus sebagai salah satu klub dengan basis fans terbesar sekaligus subjek perdebatan paling panas di dunia sepak bola.(*)
Editor : Satria Wira Yudha Pratama