Menilik sejarah Bobotoh Familia 33, kelompok ini secara resmi mendeklarasikan diri pada tanggal 24 Mei 2013. Organisasi yang akrab disapa BF33 ini lahir dari rahim para pendukung militan yang sebelumnya sudah aktif di berbagai wadah suporter Persib lainnya. Salah satu pentolan BF33, Ilham, mengungkapkan bahwa seiring berjalannya waktu, pengikut gaya ultras semakin berkembang pesat sehingga butuh ruang ekspresi sendiri. "Tidak bisa ada negara berdiri di sebuah negara. Secara kita sendiri berbeda pemahaman dan gaya dukungan," tegas Ilham, menjelaskan alasan fundamental mereka memilih mandiri dan membentuk wadah baru.
Perkembangan sejarah Bobotoh Familia 33 sangat lekat dengan adopsi kultur Ultras ala Italia yang sangat kental. Dalam bahasa Latin, ultras sendiri bermakna 'di luar kebiasaan'. Hal ini tecermin jelas dari penampilan visual mereka yang kerap datang ke stadion secara bergerombol mengenakan atribut serba hitam, mulai dari kaus hingga sweater hoodie. Mereka selalu menempati tribun utara atau yang tenar disebut Curva Nord. Di sanalah identitas mereka berkibar lewat bendera-bendera raksasa, hand banner, message banner, hingga flaming banner, yang selalu diiringi nyanyian atau chants tanpa henti sepanjang pertandingan bergulir.
Akulturasi Ultras Italia dan Jati Diri Pasundan
Meski mengiblat pada gaya suporter Eropa, kelompok ini pantang menanggalkan identitas lokal kebanggaan mereka. Akulturasi budaya ini justru menjadi daya tarik utama organisasi. Ilham menegaskan bahwa BF33 tetap mengedepankan jati diri Pasundan dalam setiap interaksinya.
"Kalau mengobrol tetap kita pakai bahasa Sunda sama Indonesia. Karena kami berpandangan bahwa bobotoh yang dewasa dan keren itu adalah yang mampu bersaing dengan gaya luar, tetapi sama sekali tidak meninggalkan akar budaya sendiri," tuturnya. Mereka menyaring budaya ultras Eropa dengan cermat, hanya mengambil sisi positif yang wajar untuk diterapkan di persepakbolaan Indonesia.
Filosofi "No Leader Just Together" dan Makna Logo
Berbeda dengan organisasi suporter pada umumnya yang memiliki hierarki kepengurusan yang ketat, Familia 33 mengusung filosofi "No Leader Just Together". Artinya, tidak ada jabatan ketua di dalam tubuh organisasi. Sebagai gantinya, para anggota lama dan pendiri bertindak sebagai pembina dan pengarah koordinasi antar-anggota. Kata "Familia" sendiri berarti keluarga, yang bermakna merangkul siapa saja tanpa membeda-bedakan, asalkan memiliki satu tujuan: mendukung kemenagan Pangeran Biru. Sikap inklusif ini membuat anggota mereka kini mencapai ribuan orang yang tersebar di Cirebon, Garut, Sukabumi, Serang, hingga Bogor dan Karawang.
Keunikan lain dari kelompok ini terletak pada filosofi logonya yang sarat makna. Logo tersebut menampilkan empat bayangan anak laki-laki yang merepresentasikan persatuan dari empat elemen sub-kultur besar pendukung Persib, yakni Viking, Bomber, Ultras, dan Casual, yang kini melebur menjadi satu keluarga. Latar belakang bendera Italia disematkan sebagai bentuk penghormatan atas inspirasi semangat suporter di medio 2000-an yang menjadi penopang lahirnya kultur ultras di Kota Bandung.
Baca Juga: Polisi Ajak Masyarakat Blitar Gunakan Alat Tradisional untuk Aktivitas Ronda Sahur
Dinamika Tribun Utara dan Lahirnya Era Baru
Seiring berjalannya waktu, dinamika di tribun utara terus mengalami evolusi. BF33 sendiri sempat bergabung dan menjadi bagian penting dari La Curva Pasundan (LCP). Namun, dinamika pergerakan massa suporter membuat mereka akhirnya terpecah seiring dengan dibubarkannya LCP. Kini, eksistensi kelompok-kelompok lama di tribun utara mulai beririsan dengan entitas baru bernama Northern Wall, yang membawa ramuan dan semangat segar di Curva Nord.
Bagi Ilham, menjamurnya berbagai kelompok suporter merupakan sebuah tren yang sangat positif. Keberagaman ini diyakini akan menjadi kekuatan tersendiri bagi Persib Bandung. Dengan banyaknya pilihan wadah organisasi, para pendukung dapat bergabung dengan kelompok yang paling sesuai dengan jiwa dan gaya pribadinya. Selain itu, regenerasi pendukung menjadi lebih mudah diarahkan, dibimbing, dan diedukasi agar menjadi suporter yang kreatif, loyal, dan militan, tanpa mengesampingkan sportivitas. (*)
Editor : Anggi Septian A.P.