Dalam laga tersebut, taktik baru Barcelona menempatkan Pedri dalam peran yang sangat unik, yakni sebagai seorang libero di tengah kepungan pemain lawan. Berbeda dengan peran gelandang pada umumnya, Pedri diposisikan sejajar di antara dua bek tengah, Pau Cubarsi dan Gerard Martin, guna mengontrol aliran bola sejak dari lini pertahanan paling bawah. Strategi ini berhasil memaksa Atletico Madrid bertahan sangat dalam dan mengalami kesulitan luar biasa untuk mengembangkan permainan.
Transformasi taktik baru Barcelona ini menjadi studi kasus penting bagi dunia kepelatihan modern. Hansi Flick seolah membuang jauh-jauh rasa ragu dengan mendorong garis pertahanan setinggi mungkin hingga memasuki zona permainan lawan. Dengan dukungan sistem counter-press yang disiplin, para pemain Barcelona mampu meredam setiap upaya serangan balik dari duet maut Atletico, Antoine Griezmann dan Julian Alvarez, secara efektif.
Revolusi Hansi Flick: Pedri Sang Libero Baru
Secara teknis, Barcelona memulai pertandingan dengan formasi dasar 1-4-2-3-1 di atas kertas. Namun, saat menguasai bola, struktur tim berubah drastis menjadi tiga bek sejajar di lini belakang. Pedri yang biasanya beroperasi di lini tengah, justru ditarik mundur untuk menjadi poros utama atau libero. Peran ini memungkinkan Pedri untuk memiliki pandangan luas dalam mendistribusikan bola ke segala arah, baik ke sisi sayap maupun langsung ke jantung pertahanan lawan.
Menurut analisis Tommy Desky, peran Pedri ini berbeda dengan konsep Salida Lavolpiana yang sering dipopulerkan oleh Pep Guardiola. Jika biasanya gelandang masuk ke barisan bek hanya untuk menjemput bola lalu naik kembali, dalam sistem Flick, Pedri cenderung tetap stabil di posisi tersebut untuk menjaga sirkulasi bola tetap aman dan konsisten. Hal ini memberikan stabilitas yang luar biasa bagi Barcelona saat melakukan pengepungan total terhadap pertahanan lawan.
Bernal: Sang Penjelajah Ruang di Balik Agresivitas Barca
Kunci sukses lain dari strategi ini adalah peran Bernal yang bertugas mengeksploitasi ruang-ruang kosong. Saat pemain Atletico Madrid fokus menjaga lima penyerang Barcelona dan mengawasi pergerakan Pedri, Bernal muncul sebagai pemain tak terduga yang menusuk dari lini kedua. Bernal secara cerdas mampu membaca celah di struktur pertahanan lawan yang mulai renggang akibat tekanan bertubi-tubi dari sisi sayap melalui Lamine Yamal dan Joao Cancelo.
Proses terjadinya tiga gol Barcelona pun tidak lepas dari skema ini. Gol pertama berawal dari aksi individual Lamine Yamal yang memanfaatkan ruang hasil pergerakan Bernal. Gol kedua lahir dari titik putih setelah Pedri dijatuhkan, dan gol penutup tercipta melalui umpan silang akurat Cancelo yang lagi-lagi dipicu oleh pergerakan cerdik Bernal di kotak penalti. Efektivitas ini membuktikan bahwa strategi agresif Flick bukan sekadar gaya-gayaan, melainkan memiliki tujuan klinis yang jelas.
Risiko Tinggi di Balik Pertahanan Brutal Barcelona
Meski tampil mempesona, gaya bermain "brutal" ini bukannya tanpa risiko. Dengan garis pertahanan yang sangat tinggi dan penerapan man-to-man marking yang ketat, Barcelona sangat rentan terhadap umpan-umpan langsung ke belakang garis pertahanan. Namun, dalam pertandingan ini, Pau Cubarsi dan Gerard Martin tampil sangat prima dalam mengeliminasi ancaman serangan balik Atletico Madrid. Penjaga gawang Juan Garcia juga patut diapresiasi karena sigap dalam mematahkan peluang-peluang emas lawan.
Hansi Flick sendiri mengakui bahwa strategi ini lahir dari kondisi tim yang terdesak untuk mengejar defisit gol. Ia memuji kedisiplinan barisan pertahanan yang mampu menjalankan instruksi dengan sangat berani. Eksperimen taktikal ini memberikan sinyal kuat kepada tim-tim lain bahwa Barcelona di bawah asuhan Flick siap melepaskan struktur konvensional demi mencapai dominasi total di atas lapangan hijau.
Editor : Anggi Septian A.P.