Namun di balik kemegahan liga-liga besar Eropa, ada sebuah kompetisi sepak bola yang justru dikenal sebagai liga terkecil di dunia. Liga tersebut bernama Isles of Scilly Football League, sebuah kompetisi unik yang hanya memiliki dua klub peserta tetapi tetap eksis selama puluhan tahun.
Liga kecil ini bahkan telah diakui secara resmi oleh FIFA dan tercatat dalam Guinness World Records sebagai liga sepak bola terkecil di dunia.
Berasal dari Kepulauan Kecil di Inggris
Sesuai namanya, Isles of Scilly Football League berasal dari wilayah kepulauan kecil bernama Isles of Scilly yang terletak di barat daya Cornwall, Inggris.
Kepulauan ini berjarak sekitar 28 mil dari daratan Cornwall dan terdiri dari pulau-pulau kecil seperti St Mary’s, Tresco, St Martin’s, St Agnes, dan Bryher. Meski berupa gugusan pulau, total luas wilayahnya hanya sekitar 16,37 kilometer persegi.
Jumlah penduduknya juga sangat sedikit. Berdasarkan data terbaru, populasi kepulauan tersebut hanya sekitar 2.200 hingga 2.500 jiwa. Dengan jumlah penduduk yang jauh lebih kecil dibandingkan kapasitas stadion sepak bola modern, keberadaan liga sepak bola di wilayah ini terasa sangat unik.
Hanya Dua Klub Sejak 1982
Liga ini sebenarnya memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak sekitar tahun 1920-an, ketika sepak bola mulai dimainkan oleh masyarakat setempat setelah Perang Dunia I.
Awalnya kompetisi antar pulau digelar dalam turnamen bernama Lyoness Inter-Island Cup. Namun seiring waktu jumlah tim terus berkurang. Pada tahun 1950 hanya tersisa dua klub, yaitu Rangers dan Rovers.
Kemudian pada tahun 1982, kedua klub tersebut berubah nama menjadi Garrison Gunners dan Woolpack Wanderers. Sejak saat itulah Isles of Scilly Football League resmi berdiri dan terus berjalan hingga sekarang.
Dalam satu musim, kedua tim ini akan saling berhadapan 17 kali di liga. Selain kompetisi utama, mereka juga bertanding di beberapa turnamen tambahan seperti Lyonesse Cup, Foredeck Cup, serta pertandingan pembuka musim yang mirip Community Shield.
Sistem Pemain yang Unik
Hal yang membuat liga ini semakin unik adalah sistem pemilihan pemainnya. Tidak ada kontrak profesional atau transfer mahal seperti di liga besar.
Setiap musim, kapten dari kedua tim akan bertemu di sebuah pub lokal untuk memilih pemain yang tersedia. Semua pemain berasal dari warga lokal kepulauan tersebut.
Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai nelayan, pekerja kapal, hingga pegawai restoran. Syarat untuk bermain juga sederhana: minimal berusia 14 tahun dan mampu menendang bola.
Menariknya, pemain yang terpilih justru harus membayar sekitar 40 poundsterling sebagai biaya partisipasi. Dana tersebut digunakan untuk membantu operasional liga.
Kompetitif Meski Sederhana
Meski hanya memiliki dua tim, kompetisi tetap berlangsung sengit. Kedua klub terus bersaing memperebutkan gelar setiap musim.
Sejauh ini Garrison Gunners menjadi klub paling sukses dengan sekitar 12 gelar liga, sementara Woolpack Wanderers telah meraih 7 gelar.
Liga ini juga pernah mendapat perhatian dunia ketika sejumlah bintang sepak bola seperti David Beckham, Steven Gerrard, dan Daniele De Rossi mengunjungi kepulauan tersebut pada tahun 2008 dalam rangka kegiatan promosi sebuah merek olahraga.
Selain itu, liga ini juga sempat disponsori oleh perusahaan telekomunikasi global Vodafone sejak awal tahun 2000-an.
Sepak Bola untuk Kebersamaan
Meski kompetitif, tujuan utama Isles of Scilly Football League sebenarnya bukan sekadar mencari juara. Liga ini menjadi sarana hiburan bagi masyarakat kecil di kepulauan tersebut.
Para pemain bahkan bersama-sama menyiapkan pertandingan, mulai dari menggambar garis lapangan, memasang jaring gawang, hingga memperbaiki lapangan dari lubang kelinci.
Tradisi unik lainnya adalah pertandingan Boxing Day, yang mempertemukan tim orang tua melawan anak-anak. Pertandingan ini digelar hanya untuk bersenang-senang dan mempererat hubungan masyarakat.
Di tengah dominasi liga-liga besar dunia, Isles of Scilly Football League menjadi bukti bahwa sepak bola tidak selalu soal uang dan popularitas. Kadang, sepak bola hanya tentang kebersamaan, persahabatan, dan kegembiraan sederhana di lapangan hijau.
Editor : Anggi Septian A.P.