BLITAR - Tren kendaraan ramah lingkungan kini tidak lagi hanya didominasi oleh mobil listrik berbasis baterai atau Full Electric Vehicle (EV). Belakangan, sorotan industri otomotif mulai bergeser pada teknologi Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV) yang menggunakan bahan bakar hidrogen. Salah satu yang mencuri perhatian adalah kemunculan Toyota Hilux bertenaga hidrogen yang dinilai memberikan efisiensi luar biasa dibandingkan pendahulunya.
Mobil Hidrogen digadang-gadang menjadi solusi paling masuk akal bagi pengguna kendaraan yang membutuhkan jarak tempuh jauh tanpa harus terbebani waktu pengisian daya baterai yang lama. Berbeda dengan EV yang mengandalkan listrik dari charging station, mobil hidrogen bekerja dengan cara mengalirkan hidrogen melalui fuel cell. Proses kimia ini menghasilkan listrik yang kemudian disimpan dalam baterai untuk menggerakkan mesin, dengan hasil pembuangan berupa air murni yang sangat ramah lingkungan.
Keunggulan Toyota Hilux Hidrogen Dibandingkan Model Sedan
Penggunaan teknologi hidrogen pada model double cabin seperti Toyota Hilux dianggap jauh lebih efektif dibandingkan pada model sedan seperti Toyota Mirai. Masalah utama pada mobil penumpang kecil adalah ukuran tangki hidrogen yang sangat besar, sehingga seringkali memakan ruang kabin dan membuat interior terasa sempit.
Baca Juga: Pemkot Blitar Berambisi Bangun BTC Tahun Ini, Berikut Sejumlah Aktivitas di Dalamnya
Namun, pada Toyota Hilux yang memiliki sasis besar dan kokoh, penempatan tangki hidrogen bisa dilakukan di bagian tengah maupun belakang tanpa mengorbankan kenyamanan penumpang. Hal ini membuat mobil tetap fungsional sebagai kendaraan pekerja keras namun tetap mempertahankan kenyamanan maksimal. Dengan tangki yang optimal, jarak tempuhnya pun tidak main-main, diklaim mampu mencapai hingga 600 kilometer dalam satu kali pengisian.
Lebih Irit dan Efisien daripada Mobil Listrik (EV)
Banyak pakar otomotif menilai bahwa hidrogen sebenarnya jauh lebih murah dan lebih masuk akal daripada Full EV. Dari sisi operasional, harga hidrogen per liternya sangat terjangkau. Selain itu, emisi yang dihasilkan benar-benar bersih karena hanya mengeluarkan gas buang berupa air.
Meski demikian, tantangan besar masih menghadang di sektor infrastruktur. Kesuksesan mobil hidrogen di masa depan sangat bergantung pada ketersediaan stasiun pengisian hidrogen. Saat ini, pengisian hidrogen masih memiliki kendala teknis, seperti nosel pengisian yang sering membeku di suhu dingin, sehingga pengguna harus menunggu beberapa saat sebelum bisa melanjutkan proses pengisian.
Baca Juga: Lelah saat Berkendara Wajib Berhenti Tiap 4 Jam Perjalanan Jauh
Benarkah Mobil Listrik Tidak Sehijau yang Kita Kira?
Debat mengenai seberapa ramah lingkungan sebuah kendaraan terus bergulir. Meski EV tidak mengeluarkan polusi knalpot, proses pembuatan baterainya diketahui menggunakan bahan dasar yang dapat merusak lingkungan. Selain itu, sumber listrik yang digunakan untuk mengisi daya EV seringkali masih berasal dari pembangkit listrik tenaga batubara, sehingga jejak karbonnya tetap tinggi.
Di sisi lain, hidrogen juga memiliki tantangan dalam proses pembuatannya yang tidak sederhana. Komponen fuel cell pada mobil ini memiliki masa pakai tertentu dan akan mengalami kejenuhan sehingga perlu diganti dalam jangka waktu lama. Namun, jika dibandingkan dengan mesin pembakaran internal (combustion engine), hidrogen jelas menawarkan masa depan yang lebih hijau.
Hingga saat ini, kendaraan hidrogen seperti Toyota Hilux FCEV masih bersifat eksperimental. Konsumen disarankan untuk tetap memantau perkembangan infrastruktur sebelum memutuskan beralih. Namun satu hal yang pasti, jika stasiun pengisian sudah merata, hidrogen diprediksi akan menjadi pesaing kuat atau bahkan pengganti dominasi mobil listrik di masa depan. Kombinasi antara teknologi Hybrid dan Hidrogen dipercaya akan menjadi jembatan paling efektif menuju era transportasi nol emisi yang sesungguhnya. (*)
Baca Juga: Kreasi Unik Kuliner Jagung Manis di Blitar Ini Wajib Dicoba karena Bikin Ketagihan
Editor : Muhammad Adib Falih Rifly