Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

LCGC Masih Laris di 2026 Meski Harga Nyaris Rp200 Juta, Ini Alasan Banyak Orang Tetap Pilih Mobil Murah Ini

Divka Vance Yandriana • Senin, 13 April 2026 | 16:10 WIB
LCGC masih laris di 2025 meski harga hampir Rp200 juta. Ini alasan banyak orang tetap memilih mobil murah ini.
LCGC masih laris di 2026 meski harga hampir Rp200 juta. Ini alasan banyak orang tetap memilih mobil murah ini.

 JAKARTA - LCGC masih laris di 2026 meski harganya kini sudah mendekati Rp200 juta. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan konsumen otomotif: mengapa mobil murah ramah lingkungan tersebut tetap diminati, padahal banyak alternatif non-LCGC dengan harga yang tidak terpaut jauh?

Dalam beberapa tahun terakhir, harga LCGC masih laris di 2026 mengalami kenaikan signifikan. Jika dulu mobil ini identik dengan harga di bawah Rp100 juta, kini hampir semua model LCGC dibanderol di atas Rp150 juta, bahkan mendekati Rp200 juta untuk varian tertinggi.

Meski demikian, fakta di lapangan menunjukkan bahwa LCGC masih laris di 2026 dan tetap masuk dalam daftar mobil terlaris di Indonesia. Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor harga bukan satu-satunya pertimbangan utama konsumen.

Baca Juga: Daihatsu Sigra 2026 Makin Laris! Ini Spesifikasi Tipe R AT, Fitur Lengkap dan Harga Terjangkau Bikin Penasaran

Awal Mula LCGC dan Tujuan Utamanya

Sebagai informasi, LCGC (Low Cost Green Car) merupakan program pemerintah yang diluncurkan pada 2013 melalui Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 33 Tahun 2013. Program ini bertujuan menghadirkan mobil yang hemat energi, ramah lingkungan, serta terjangkau bagi masyarakat.

Pada masa awal peluncurannya, beberapa model bahkan dijual di bawah Rp100 juta. Namun, seiring waktu dan berbagai faktor ekonomi, harga mobil LCGC terus mengalami penyesuaian hingga mencapai level saat ini.

Harga Naik, Tapi Masih Dianggap Terjangkau

Saat ini, harga LCGC seperti Honda Brio Satya tipe dasar sudah berada di kisaran Rp167 jutaan. Sementara model lain seperti Toyota Calya atau Daihatsu Sigra juga berada di rentang Rp150 juta hingga mendekati Rp200 juta.

Di sisi lain, mobil non-LCGC seperti hatchback atau MPV entry level sebenarnya bisa menjadi alternatif. Beberapa model bahkan bisa didapat dengan harga mendekati Rp200 juta setelah diskon dari dealer.

Namun, meskipun ada opsi tersebut, banyak konsumen tetap memilih LCGC. Hal ini menunjukkan bahwa ada nilai lain yang membuat mobil ini tetap relevan.

Baca Juga: Gebrakan Redistribusi Tanah Kabupaten Blitar 2026: Ribuan Warga Ringinrejo Segera Miliki Sertifikat di Atas Lahan Bank Tanah, Ini Skema Terbarunya!BLITAR - Upaya percepatan reforma

Persepsi First Buyer Jadi Faktor Utama

Salah satu alasan utama LCGC masih diminati adalah persepsi dari pembeli pertama atau first buyer. Banyak konsumen pemula menganggap mobil LCGC sebagai pilihan aman karena identik dengan biaya murah.

Ada tiga asumsi umum yang berkembang. Pertama, mobil murah berarti biaya perawatan murah. Kedua, mobil murah pasti irit bahan bakar. Ketiga, mobil murah lebih mudah dijual kembali.

Padahal, tidak semua asumsi tersebut sepenuhnya benar. Biaya perawatan LCGC memang lebih murah, tetapi selisihnya tidak terlalu signifikan dibanding mobil non-LCGC, terutama untuk komponen umum.

Baca Juga: Bursa Transfer Persib Bandung 2027 Memanas! Ramon Tanque Dilepas, Bidik Bintang Eropa hingga Eks Ajax

Efisiensi BBM Tidak Selalu Unggul

Dalam hal konsumsi bahan bakar, LCGC memang dikenal irit. Namun, pada kondisi tertentu seperti jalan menanjak atau membawa beban penuh, mobil dengan mesin kecil justru bisa bekerja lebih keras dan menjadi lebih boros.

Secara rata-rata, mobil modern dengan kapasitas mesin di bawah 1.500 cc memiliki konsumsi BBM yang tidak jauh berbeda, baik LCGC maupun non-LCGC.

Artinya, keunggulan efisiensi LCGC tidak selalu mutlak dalam semua kondisi penggunaan.

Tantangan di Pasar Mobil Bekas

Faktor lain yang mulai menjadi perhatian adalah nilai jual kembali. Berdasarkan pengalaman pelaku pasar, mobil LCGC bekas cenderung lebih lama terjual dibanding mobil non-LCGC.

Salah satu penyebabnya adalah kekhawatiran calon pembeli terhadap riwayat penggunaan, khususnya sebagai kendaraan taksi online. Mobil bekas dengan riwayat tersebut sering dianggap memiliki kondisi yang sudah menurun.

Akibatnya, proses penjualan kembali LCGC bisa memakan waktu lebih lama dibanding mobil lain di kelas yang berbeda.

Pajak dan Kenyamanan Finansial

Meski keunggulan LCGC mulai berkurang, salah satu faktor yang tetap menarik adalah pajak kendaraan yang relatif lebih rendah. Hal ini membuat biaya kepemilikan terasa lebih ringan bagi sebagian konsumen.

Selain itu, faktor psikologis juga berperan. Banyak orang merasa lebih nyaman secara finansial saat membeli mobil dengan harga lebih terjangkau, meskipun secara fitur dan kualitas mungkin lebih rendah.

Kesimpulan

Fenomena LCGC masih laris di 2026 menunjukkan bahwa keputusan konsumen tidak hanya didasarkan pada spesifikasi teknis atau harga semata. Faktor psikologis, persepsi, serta kebutuhan praktis masih menjadi penentu utama.

Meski memiliki sejumlah kekurangan, LCGC tetap menjadi pilihan realistis bagi masyarakat yang mengutamakan efisiensi dan rasa aman dalam kepemilikan kendaraan pertama.

Editor : Divka Vance Yandriana
#LCGC terbaik Indonesia #LCGC