JAKARTA - Pameran ikan terbesar di dunia, Nusatik 2026, resmi digelar di Jakarta dengan menampilkan persaingan sengit dalam ajang kompetisi Koi Show Indonesia tingkat internasional. Event akbar ini mempertemukan berbagai varietas koi terbaik hasil budidaya lokal (Indonesian bred) dengan koi impor legendaris asal Jepang (Japanese bred). Persaingan ketat ini tidak hanya memperebutkan gelar prestisius Grand Champion, tetapi juga menjadi panggung pembuktian bahwa kualitas ikan terompet tanah air kini telah sejajar dengan standar global.
Ajang kompetisi akbar berskala dunia ini berhasil menarik perhatian para kolektor, pebisnis, hingga pembudidaya mancanegara yang berkumpul untuk menyaksikan keindahan anatomi fisik satwa air tersebut. Tingkat disiplin dan keseriusan panitia Indonesia dalam menyelenggarakan pameran berskala masif ini menuai banyak pujian dari komunitas internasional. Setiap tangki penampungan ikan difasilitasi dengan sistem pengamanan ekstra ketat termasuk pemasangan jaring pelindung pada setiap wadah guna memastikan keamanan ikan agar tidak mengalami cedera atau melompat keluar.
Proses persiapan yang melelahkan terlihat sejak malam sebelum penjurian dimulai, di mana para pemain besar saling menyusun strategi penempatan ukuran kelas hingga menit-menit terakhir pendaftaran ditutup. Para pemilik ikan berukuran raksasa sengat berhati-hati dalam memantau pergerakan kompetitor sebelum memutuskan kategori ukuran tangki mana yang akan mereka masuki secara resmi. Strategi penentuan ukuran draf ini menjadi faktor krusial yang menentukan kemenangan akhir pada ruang penjurian yang sangat ketat dan kompetitif.
Dominasi Tiga Raksasa Koi dan Ketatnya Persaingan Jumbo Champion
Persaingan ketat pada perebutan gelar tertinggi kelas berat didominasi oleh tiga nama besar industri koi nasional, yakni Majestic Koi Farm, Golden Koi Center, dan Samurai Koi Center. Ketiga pusat budidaya ini saling pamer kualitas dengan menurunkan koleksi monster raksasa peliharaan mereka yang rata-rata berukuran mendekati satu meter ke dalam kolam kontes. Pengkondisian suhu air kolam juga dijaga ketat menggunakan balok-balok es agar kondisi fisik ikan tetap segar dan kualitas kulit ari mereka terlihat mengkilap sempurna saat dinilai tim juri.
Pada babak penentuan gelar Jumbo Champion, kehebohan sempat terjadi di arena akibat kejar-mengejar poin yang sangat dramatis antara varietas Asagi dengan varietas Shusui. Tim juri memberikan penilaian secara mendalam dari segi tingkat kesiapan ikan di atas panggung pameran kontes. Hasil akhir akhirnya memenangkan varietas Asagi karena memiliki keunggulan pada bagian warna kepala yang bersih putih total tanpa noda kekuningan seperti yang terlihat pada kompetitornya.
Kemenangan tipis tersebut disusul dengan pemilihan posisi runner up terbaik di mana varietas Shusui berhasil mengungguli varietas Hi Utsuri pada kelas ukuran yang sama. Parameter penilaian juri sangat objektif dengan menitikberatkan pada struktur anatomi tulang belakang, kelebaran area kepala, serta proporsi fukurine atau guratan kulit di antara sisik ikan. Kriteria fisik monster raksasa inilah yang membuat ikan berukuran megah terlihat sangat seimbang saat berenang di dalam wadah pengamatan sementara.
Sabi Koyo Borong Tiga Penghargaan Nusantara Award
Prestasi luar biasa dan paling membanggakan dalam pameran kali ini berhasil ditorehkan oleh seekor koi lokal hasil budidaya asli peternak Indonesia yang dinamakan Sabi Koyo. Ikan berukuran panjang 86 sentimeter ini sukses memborong tiga piala sekaligus untuk kategori Best in Variety Kawarimono, Best in Size kelas 85 sentimeter, serta piala bergengsi Nusantara Award 2026. Nusantara Award sendiri merupakan penghargaan khusus yang dibuat untuk memberikan apresiasi tertinggi bagi ikan hasil karya peternak dalam negeri agar mampu bersaing dengan dominasi ikan impor.
Perjalanan pertumbuhan Sabi Koyo tergolong sangat istimewa setelah setahun lalu sempat dinilai biasa saja, namun mengalami perubahan drastis setelah diberikan formula pakan khusus bermerek Mega Jumbo. Hasil dari pola perawatan intensif tersebut memicu pertumbuhan volume tubuh serta mematangkan warna cokelat pekatnya berubah menjadi corak jingga kemerahan yang sangat eksotis. Kualitas kilauan ginrin pada tepian sisiknya tumbuh merata secara bertahap dan menjadikannya salah satu ikan lokal pertama yang sukses memikat pasar internasional.
Gelar juara utama di kelas tertinggi Grand Champion A akhirnya sukses dipertahankan oleh seekor Kohaku legendaris berukuran panjang tepat 100 sentimeter milik Golden Koi Center setelah tahun lalu juga meraih juara pada ukuran 96 sentimeter. Kohaku raksasa ini memiliki pola tiga langkah (three-step pattern) yang sangat sempurna sesuai buku panduan standar keindahan koi internasional, dimulai tepat dari area hidung hingga berakhir indah sebelum sirip ekor. Konsistensi perbaikan kualitas fisik dan volume ketebalan tubuh Kohaku raksasa ini membuatnya mustahil untuk dikalahkan oleh kontestan lain.
Rencana Ekspor Massal ke Amerika Serikat Resmi Dibahas
Selain kesuksesan gelaran kontes kecantikan ikan, perhelatan Nusatik tahun ini juga menelurkan sebuah langkah maju bagi sektor perdagangan komoditas ikan hias nasional di masa depan. Sebuah pertemuan penting berskala bilateral telah digelar secara resmi antara perwakilan pengusaha internasional dengan pihak Otoritas Karantina Indonesia yang dipimpin langsung oleh Kepala Karantina. Agenda utama dari pembicaraan tertutup tersebut berfokus pada upaya pencarian solusi serta pembukaan jalur distribusi pengiriman koi Indonesia menuju pasar Amerika Serikat secara langsung.
Selama ini, proses pengiriman logistik satwa air ke wilayah Amerika Serikat dikenal memiliki regulasi birokrasi yang sangat rumit dengan rute transit yang tidak efisien bagi kesehatan komoditas ikan. Melalui hasil diskusi yang berjalan positif tersebut, regulasi baru tengah digodok guna mempermudah akses masuk bagi koi lokal berkualitas tinggi untuk segera merambah pangsa pasar pehobi di negara paman sam. Langkah ini diyakini akan mendongkrak nilai ekonomi para peternak lokal sekaligus memperkenalkan potensi genetik luar biasa dari industri perikanan Indonesia ke panggung dunia.
Penutupan hari terakhir pameran ditandai dengan proses pengemasan kembali seluruh ikan juara ke dalam kantong plastik beroksigen murni yang aman sebelum didistribusikan kembali ke daerah asal. Atmosfer penyelenggaraan acara yang megah layaknya sebuah pesta besar yang bertenaga terbukti sukses memberikan kesan mendalam bagi seluruh pengunjung internasional yang hadir. Keberhasilan ini sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan baru dalam peta industri dan kiblat perkembangan keindahan ikan koi dunia di masa yang akan datang.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : House of koi