JAKARTA - Ajang bergengsi Koi Show Indonesia 2026 melalui gelaran Indonesian Japan Koi Show resmi mempertemukan deretan ikan terbaik untuk memperebutkan gelar tertinggi. Kompetisi skala besar ini menjadi arena pembuktian kualitas antara varietas koi lokal milik pembudidaya tanah air melawan dominasi ikan impor asal Jepang. Seluruh proses penilaian dilakukan oleh panel juri internasional dengan pengawasan ketat dari Asosiasi Pencinta Koi Indonesia (APFKI).
Pesta akbar para penghobi ini mencatatkan partisipasi luar biasa dengan total kepesertaan mencapai 1.044 ekor ikan yang bertanding. Angka tersebut menegaskan posisi strategis ajang Koi Show Indonesia sebagai salah satu barometer kompetisi paling prestisius di Asia Tenggara. Fokus utama persaingan ketat hari ini langsung tertuju pada kategori paling bergengsi, yakni kelas utama over 80 sentimeter.
Pada kategori over 80 sentimeter ini, seluruh spesimen yang bertanding telah memiliki ukuran tubuh raksasa di atas 80 sentimeter hingga mendekati satu meter. Karena ukuran tubuhnya yang masif, pihak panitia penyelenggara harus menyiapkan fasilitas kolam ukur khusus atau fat dengan diameter minimal 110 sentimeter. Pertarungan di kelas tertinggi ini menguras perhatian juri karena kualitas keindahan visual masing-masing kandidat berada pada level tertinggi.
Dominasi Kohaku dan Sengatan Sowa di Kelas A
Persaingan di Kelas A yang menjadi panggung utama bagi varietas elit Go Sanke berlangsung sangat menegangkan sejak menit pertama penjurian dimulai. Pada kelas utama ini, pertarungan gelar tertinggi mengerucut pada persaingan langsung antara juara satu Kohaku dan juara satu Sowa. Spesimen Kohaku unggulan tampil mendominasi dengan ukuran panjang tubuh mencapai 97 sentimeter, hampir menyentuh satu meter utuh.
Lawan tandingnya adalah seekor Sowa eksotis berukuran 87 sentimeter yang memiliki keunggulan kualitas kulit dan pola warna sangat seimbang. Perwakilan juri lokal sekaligus tokoh perikanan, Pak Reza, memimpin pengamatan intensif bersama juri ahli yang didatangkan langsung dari Jepang. Kedua ikan raksasa tersebut dinilai secara mendalam berdasarkan parameter overall beauty yang mencakup volume tubuh, kualitas kulit, dan kerapian corak warna.
Secara fisik, varietas Sowa 87 sentimeter milik peserta tersebut menunjukkan kombinasi tiga warna yang sangat solid dari kepala hingga ekor. Warna merah (Beni) terlihat halus dan dalam, berpadu kontras dengan warna hitam (Sumi) pekat serta area putih (Shiroji) yang bersih. Namun, keunggulan dimensi tubuh Kohaku yang lebih panjang 10 sentimeter menjadi faktor pembeda yang sangat kuat di mata para penilai.
Proses penentuan pemenang akhir dilakukan oleh panel juri melalui mekanisme voting tertutup menggunakan aplikasi digital khusus secara langsung. Setelah melalui proses rekapitulasi suara elektronik yang ketat, varietas Kohaku 97 sentimeter resmi dinobatkan sebagai peraih gelar Grand Champion Kelas A. Sementara itu, varietas Sowa 87 sentimeter harus puas menempati posisi terhormat sebagai Run Up Grand Champion pada gelaran kali ini.
Keberhasilan varietas Sowa tersebut meraih gelar Run Up Grand Champion tetap disambut gembira oleh tim penanganan dari Banten Koi Farm. Meski belum menjadi nomor satu, potensi pertumbuhan ikan berukuran 87 sentimeter ini diprediksi masih sangat besar untuk kompetisi masa depan. Hasil ini membuktikan bahwa manajemen perawatan ikan dari wilayah Tangerang, Banten, mampu bersaing di level tertinggi kejuaraan nasional.
Kejutan Siro Utsuri Bandung di Kelas B
Beralih ke Kelas B, perhatian seluruh penonton langsung tertuju pada persaingan ketat empat ekor ikan berkarakter kuat. Salah satu kandidat terkuat yang mencuri perhatian sejak awal adalah varietas Siro Utsuri milik Kang Edwin yang berasal dari Kota Bandung. Karakter visual ikan ini dinilai sangat menonjol berkat kombinasi warna hitam dan putih yang menyerupai bentuk formasi bunga.
Panel juri internasional membutuhkan waktu ekstra untuk memeriksa kualitas detail dari keempat kontestan Kelas B yang rata-rata berukuran di atas 85 sentimeter. Selain milik perwakilan Bandung, terdapat pula ikan berkualitas tinggi milik kontestan lain seperti milik Mas Edi dan koleksi dari The Lorenzo. Kehadiran tokoh komunitas seperti Om Wilsam di sekitar area kolam penilaian turut menambah atmosfer kompetisi menjadi semakin kompetitif.
Ketegangan akhirnya mereda setelah aplikasi sistem penilaian elektronik merilis hasil akhir rekapitulasi poin dari meja dewan juri. Varietas Siro Utsuri berukuran 87 sentimeter milik Kang Edwin dari Bandung sukses membawa pulang gelar tertinggi Grand Champion Kelas B. Kemenangan ini disambut hangat oleh mantan Ketua TRKC sekaligus pemilik akun Dua Warung Koi yang sejak awal memprediksi keunggulan ikan tersebut.
Duel Nilai Fantastis Tanco Sanke di Kelas C
Atmosfer ketat pameran Koi Show Indonesia semakin memanas saat penjurian bergeser ke Kelas C yang menampilkan empat kandidat unik. Evaluasi utama di kelas ini mempertemukan varietas Ochiba Ginrin 83 sentimeter dengan produk lokal unggulan berupa varietas Sabikoyo dari Husnul Koi Farm. Kehadiran Sabikoyo sebagai lambang local pride diharapkan mampu menumbangkan dominasi ikan-ikan berstatus impor yang ikut bertanding di kolam yang sama.
Secara visual, produk Sabikoyo milik Om Husnul ini memiliki bentuk tubuh yang sangat montok dengan kualitas kulit dan pola unik. Namun, langkah ikan lokal tersebut harus terhadang oleh penampilan luar biasa dari seekor Tanco Sanke berukuran panjang 91 sentimeter. Spesimen bernama Samurai Center tersebut tampil memukau dengan corak bulat merah di kepala dan struktur badan yang sangat proporsional.
Melalui keunggulan mutlak pada kualitas Shiroji yang bersih dan pola corak menyerupai lukisan alam, Tanco Sanke resmi meraih Grand Champion Kelas C. Keberhasilan Tanco Sanke dari Samurai Koi Center ini langsung memicu perbincangan hangat di kalangan penghobi mengenai nilai investasi ekonominya. Berdasarkan informasi valid dari pihak handler, estimasi harga pasar untuk ikan juara ini sudah setara dengan satu unit mobil Alphard baru.
Dominasi Susui dan Kejutan Karasigoi Raksasa
Pada persaingan Kelas D, dewan juri dihadapkan pada lima ekor kandidat terbaik yang seluruhnya memiliki status show quality. Kategori ini didominasi oleh persaingan tajam antara beberapa varietas Shusui pilihan serta varietas Asagi yang memiliki warna merah menyala. Melengkapi daftar kontestan di kolam Kelas D, terdapat pula satu ekor varietas Hi Utsuri yang memiliki ukuran tubuh masif.
Setelah melalui pengamatan visual yang mendalam terhadap aspek kesehatan kulit, gelar tertinggi Grand Champion Kelas D akhirnya jatuh kepada varietas Susui. Kemenangan Susui nomor urut satu ini sekaligus menutup rangkaian penilaian untuk kategori ikan bercorak warna kompleks di ajang IJKS. Selanjutnya, seluruh perhatian juri dialihkan menuju kolam terakhir yang menjadi panggung bagi ikan-ikan satu warna.
Penjurian untuk Kelas E yang melombakan kategori ikan polosan atau satu warna terpaksa menggunakan metode penilaian yang sedikit berbeda. Kategori ini dibagi ke dalam tiga sub-kelas utama, yaitu sub-kelas Kawarimono B, sub-kelas Kingrin C, dan sub-kelas Hikari Mujimono. Karena ukuran seluruh kontestan telah melebihi satu meter, para juri harus berjalan berkeliling karena ukuran ikan tidak muat di kolam ukur.
Ketua APFKI, Pak Santoso, bersama seluruh anggota tim juri berjalan memutari area untuk menentukan juara satu di tiap-tiap sub-kelas. Dari hasil penyaringan awal tersebut, terpilihlah tiga kandidat terbaik perwakilan dari masing-masing sub-kelas untuk diadu kembali di babak final. Ketiga finalis raksasa berukuran satu meter ini langsung dinilai secara komparatif untuk menentukan siapa yang berhak atas mahkota juara.
Pengumuman pamungkas dari meja panitia akhirnya menetapkan varietas Red Karasi dari kelompok Kawarimono B sebagai pemenang supremasi tertinggi Kelas E. Ikan polosan raksasa dengan panjang mendekati satu meter ini sukses memikat juri melalui keunggulan volume badan yang sangat tebal. Keberhasilan ini sekaligus menandai berakhirnya seluruh rangkaian penjurian kelas utama over 80 pada kompetisi Koi Show Indonesia tahun ini.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Banten Koi Farm