JAKARTA - Perkembangan industri estetika global kembali menghadirkan arah baru bagi para pecinta mode dan perawat kulit di seluruh dunia. Sejumlah pakar dan pengamat kecantikan memprediksi hadirnya perubahan mendasar pada gaya riasan, prosedur estetika wajah, hingga pemanfaatan teknologi canggih. Tren kecantikan 2026 diperkirakan bakal didominasi oleh perpaduan gaya riasan klasik yang dimodernisasi, maraknya prosedur estetika di usia muda, hingga penggunaan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) secara masif dalam kampanye komersial.
Perubahan tren gaya hidup ini mencakup pergeseran preferensi konsumen yang mulai meninggalkan beberapa gaya populer dari tahun sebelumnya. Riasan wajah kini tidak lagi berfokus pada tampilan polos atau clean girl makeup, melainkan beralih ke gaya yang lebih berani, ekspresif, dan eksperimental. Berbagai jenama kosmetik global bahkan mulai meluncurkan rangkaian produk khusus untuk mendukung perubahan preferensi gaya riasan tersebut.
Perkembangan dunia estetika medis juga menunjukkan dinamika signifikan seiring tingginya paparan media sosial terhadap standar visual masyarakat modern. Normalisasi terhadap berbagai prosedur koreksi wajah kini menjangkau kelompok usia yang jauh lebih muda dibandingkan dekade sebelumnya. Fenomena ini memicu diskusi hangat di kalangan konsumen mengenai batasan antara perawatan estetika dan standar kecantikan yang realistis.
Dominasi Riasan Soft Goth, Frosty Lips, dan Estetika Retro
Sektor tata rias diprediksi bakal diwarnai oleh kebangkitan gaya soft goth yang mengombinasikan rona gelap kasual namun tetap nyaman digunakan sehari-hari (wearable goth). Penggunaan perona bibir berona dingin (cool toned) seperti pensil bibir berwarna abu-abu kini mulai diproduksi oleh berbagai merek kosmetik terkemuka, mengikuti popularitas gaya yang diusung sejumlah figur publik dunia seperti Jenna Ortega dan Gabriette.
Selain gaya riasan gelap yang lembut, perona bibir berkesan mengkilap (frosty lips) dan eyeshadow putih polos bertekstur mat maupun glamor kembali diminati sebagai adaptasi gaya era 1990-an. Pengaruh era 1960-an dan 1970-an juga hadir kembali lewat riasan mata grafis (graphic eye makeup) dengan garis eyeliner tebal yang terinspirasi dari gaya klasik ikon mode Twiggy dan Sophia Loren.
Pergeseran gaya juga terjadi pada tatanan rambut, di mana belahan rambut samping (side part) diprediksi bakal menggeser popularitas belahan tengah (middle part) yang telah bertahun-tahun mendominasi. Sementara untuk tekstur riasan kulit dan bibir, istilah busana berbahan lembut (velvet) atau efek samak (soft blur) diprediksi menjadi standar baru menggantikan penggunaan filter digital yang dinilai berlebihan.
Kontroversi Prosedur Facelift di Usia Muda dan Tren Fun Makeup
Fenomena paling kontroversial dalam prediksi industri kecantikan adalah meningkatnya minat wanita muda berusia 20 hingga 30 tahun untuk menjalani prosedur penarikan kulit wajah (facelift). Prosedur medis yang dahulunya identik dengan usia lanjut ini mulai diminati generasi muda demi memperoleh struktur wajah yang kencang secara instan. Normalisasi tindakan medis estetika seperti botox, filler, dan bedak medis membuat batas usia pasien tindakan bedah plastik menjadi semakin muda.
Di sisi lain, platform media sosial juga mendorong lahirnya tren riasan yang berfokus pada unsur hiburan atau fun makeup. Teknik riasan ini memanfaatkan ornamen tambahan seperti batuan kristal (rhinestones), stiker, hingga cetakan pola (stencils) berona cerah pada wajah. Tren dekoratif ini dipelopori oleh penata rias panggung ternama dan banyak diadaptasi untuk kebutuhan pembuatan konten digital maupun pertunjukan seni.
Inovasi pada seni merias kuku (nail art) juga menyelaraskan diri dengan tren fun makeup melalui penggunaan ornamen kristal dan desain 3D yang lebih eksperimental. Kehadiran ornamen mengilap ini dinilai memberikan ruang ekspresi diri yang lebih luas bagi para pengguna maupun kreator konten di media sosial.
Penerapan Teknologi AI dan Perangkat High-Tech Beauty
Sektor pemasaran industri estetika dipastikan bakal dibanjiri oleh penggunaan video dan model berbasis kecerdasan buatan (AI beauty commercials). Pemanfaatan teknologi digital ini memberikan efisiensi biaya bagi jenama kosmetik independen (indie brands) untuk menciptakan promosi visual berskala besar tanpa memerlukan anggaran hingga jutaan dolar. Namun, penggunaan model sintetis buatan AI juga memicu kekhawatiran terkait makin sulitnya membedakan antara citra manusia asli dan rekayasa komputer.
Kehadiran teknologi AI dalam visualisasi iklan dikhawatirkan dapat menciptakan standar kecantikan baru yang makin tidak nyata dan mustahil dicapai oleh wanita pada umumnya. Meski demikian, dari sisi fungsionalitas, teknologi canggih juga merambah ke dalam perangkat perawatan kulit rumahan (high-tech beauty devices). Negara Korea Selatan diprediksi tetap menjadi pelopor utama dalam memproduksi alat pemindai kondisi kulit berbasis AI serta terapi sinar laser mandiri yang semakin terjangkau bagi konsumen umum.
Secara keseluruhan, arah pergerakan dunia estetika di masa depan menyajikan perpaduan antara kecanggihan teknologi perangkat keras, ekspresi seni visual yang bebas, serta tantangan dalam menyikapi standar kecantikan modern secara bijak.
Editor : Maylanni Diana FitriSumber : yt: Amanda Benko