BLITAR – Berhenti makan gula tambahan ternyata dapat memicu perubahan besar pada tubuh. Mulai dari munculnya rasa ingin mengonsumsi makanan manis di hari-hari awal hingga menurunnya risiko berbagai penyakit jika kebiasaan tersebut dipertahankan dalam jangka panjang.
Fakta tersebut diungkap dalam sebuah pembahasan di kanal YouTube edukasi kesehatan yang menjelaskan bagaimana tubuh beradaptasi ketika asupan gula tambahan dihentikan. Menurut penjelasan itu, fase awal memang terasa berat, tetapi manfaat kesehatan mulai terlihat hanya dalam waktu sekitar 10 hari.
Konsumsi gula berlebih selama ini dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, seperti gigi berlubang, peradangan pada organ tubuh, obesitas, hingga peningkatan risiko penyakit kronis. Karena itu, mengurangi gula tambahan dinilai menjadi salah satu langkah sederhana untuk menjaga kesehatan.
Hari Kedua hingga Kelima Paling Berat
Perubahan pertama biasanya mulai dirasakan pada hari kedua setelah berhenti mengonsumsi gula tambahan.
Baca Juga: Integritas Pemimpin Jadi Kunci Suksesi Bisnis, Sandiaga Uno Ungkap Cara Memilih Penerus Perusahaan
Saat itu, keinginan menikmati makanan atau minuman manis meningkat tajam. Kondisi tersebut dapat disertai sakit kepala, rasa gelisah, sulit berkonsentrasi, hingga suasana hati yang berubah-ubah.
Hal ini terjadi karena otak telah terbiasa memperoleh rangsangan dari gula. Semakin sering seseorang mengonsumsi makanan manis, semakin besar pula kebutuhan tubuh terhadap rasa manis untuk mendapatkan sensasi yang sama.
Beberapa ilmuwan bahkan menilai mekanisme tersebut memiliki kemiripan dengan proses kecanduan, meski hingga kini status gula sebagai zat adiktif masih menjadi perdebatan di kalangan peneliti.
Tubuh Mulai Pulih Setelah 10 Hari
Jika mampu melewati masa sulit tersebut, tubuh mulai menunjukkan perubahan positif sekitar hari ke-10.
Baca Juga: Efisiensi Anggaran Jadi Sorotan, Sandiaga Uno Bongkar Perbedaan Budaya Birokrasi dan Dunia Bisnis
Kadar gula darah dan lemak tubuh disebut mulai menurun, sementara keseimbangan hormon menjadi lebih baik. Kondisi ini membuat tubuh terasa lebih stabil dan energi lebih terjaga sepanjang hari.
Penelitian yang dibahas juga menyebut konsumsi gula berlebih dapat memengaruhi kemampuan fokus. Ketika asupannya dikurangi, fungsi konsentrasi berpotensi meningkat.
Selain itu, lidah menjadi lebih sensitif terhadap rasa alami makanan. Buah-buahan atau makanan tanpa tambahan gula pun akan terasa lebih manis dibanding sebelumnya.
Perubahan juga terlihat pada kondisi kulit. Peradangan yang dipicu konsumsi gula berlebihan berpotensi berkurang sehingga jerawat lebih mudah mereda.
Enam Minggu Kemudian, Ngidam Manis Mulai Hilang
Setelah sekitar enam minggu menjalani pola makan rendah gula, keinginan mengonsumsi makanan manis umumnya sudah jauh berkurang.
Bahkan makanan yang dulu terasa biasa saja kini bisa dianggap terlalu manis. Adaptasi tersebut menunjukkan indra pengecap telah kembali mengenali rasa alami makanan.
Selain itu, kualitas tidur dilaporkan lebih baik, berat badan cenderung menurun, pencernaan menjadi lebih lancar, dan rasa kembung berkurang.
Dalam jangka panjang, konsumsi gula yang lebih rendah juga dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit kronis serta kemungkinan memperlambat proses penuaan sel berdasarkan sejumlah hasil penelitian.
Pemanis Buatan Juga Perlu Diwaspadai
Selain gula tambahan, video tersebut juga membahas penggunaan pemanis buatan yang semakin banyak ditemukan pada makanan dan minuman.
Meski menawarkan rasa manis dengan kalori lebih rendah, beberapa ahli mengingatkan bahwa pemanis buatan dapat membuat otak tetap terbiasa dengan sensasi manis sehingga keinginan mengonsumsi gula tidak benar-benar hilang.
Beberapa penelitian juga menemukan hubungan antara pemanis buatan dengan sejumlah gangguan kesehatan. Namun, hingga kini hubungan sebab-akibatnya masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Karena itu, solusi terbaik bukan sekadar mengganti gula dengan pemanis buatan, melainkan membatasi konsumsi makanan dan minuman manis secara keseluruhan. Pemerintah pun mulai mendorong pencantuman informasi kadar gula pada minuman kemasan agar masyarakat lebih mudah memilih produk yang lebih sehat.
Editor : Maylanni Diana Fitri