BLITAR – Bahaya gula berlebihan kembali menjadi sorotan seiring meningkatnya konsumsi makanan dan minuman manis di masyarakat. Di balik rasanya yang lezat dan mampu meningkatkan suasana hati, konsumsi gula secara berlebihan ternyata menyimpan berbagai risiko kesehatan, mulai dari obesitas, diabetes, hingga gangguan fungsi otak.
Bahaya gula berlebihan tidak hanya berdampak pada orang dewasa. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah kasus diabetes pada anak di Indonesia juga dilaporkan mengalami lonjakan tajam. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa pola konsumsi makanan tinggi gula perlu segera dikendalikan sejak usia dini.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa bahaya gula berlebihan tidak bisa disamakan dengan rokok. Tubuh manusia tetap membutuhkan gula sebagai sumber energi. Yang menjadi masalah adalah ketika asupan gula dikonsumsi secara berlebihan dan berlangsung terus-menerus dalam jangka panjang.
Gula Memberi Energi Instan, tetapi Efeknya Cepat Hilang
Makanan atau minuman yang mengandung gula tinggi memang mampu memberikan tambahan energi dalam waktu singkat. Setelah dikonsumsi, kadar gula darah meningkat sehingga tubuh terasa lebih bertenaga.
Namun, efek tersebut tidak bertahan lama. Ketika kadar gula kembali turun, seseorang bisa merasa lemas, gelisah, bahkan ingin kembali mengonsumsi makanan manis. Siklus ini membuat banyak orang tanpa sadar terus mencari asupan gula sepanjang hari.
Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis yang membutuhkan biaya pengobatan tidak sedikit.
Risiko Tidak Hanya Diabetes
Selain meningkatkan risiko obesitas dan diabetes, konsumsi gula berlebihan juga dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan lainnya.
Baca Juga: Efisiensi Anggaran Jadi Sorotan, Sandiaga Uno Bongkar Perbedaan Budaya Birokrasi dan Dunia Bisnis
Terlalu banyak mengonsumsi makanan manis disebut dapat memengaruhi kesehatan mata, menurunkan kemampuan berpikir, hingga berhubungan dengan meningkatnya risiko gangguan suasana hati seperti depresi.
Karena itu, membatasi konsumsi gula menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan tubuh dalam jangka panjang.
Mengapa Sulit Berhenti Makan Manis?
Banyak orang mengaku sulit mengurangi konsumsi makanan manis. Salah satu penyebabnya adalah gula dapat memicu pelepasan hormon yang menimbulkan rasa senang sehingga otak perlahan terbiasa dan semakin menyukai makanan manis.
Kondisi tersebut membuat seseorang merasa ingin terus mengonsumsi gula meski sebenarnya tubuh tidak memerlukannya dalam jumlah besar.
Di sisi lain, makanan dan minuman tinggi gula juga sangat mudah ditemukan. Harganya relatif terjangkau dan tersedia hampir di setiap tempat, mulai dari minimarket hingga restoran.
Faktor kemudahan akses inilah yang membuat konsumsi gula berlebihan semakin sulit dikendalikan.
Gula dan Rokok Tidak Bisa Disamakan
Meski sama-sama berpotensi menyebabkan penyakit serius, gula dan rokok memiliki perbedaan mendasar.
Tubuh manusia membutuhkan gula sebagai sumber energi agar organ dapat bekerja dengan baik. Sebaliknya, tubuh sama sekali tidak membutuhkan zat adiktif yang terkandung dalam rokok.
Artinya, bukan gula yang harus dihindari sepenuhnya, melainkan konsumsi yang berlebihan.
Kuncinya adalah menjaga jumlah asupan agar tetap sesuai kebutuhan harian.
Negara Lain Mulai Membatasi Makanan Bergula
Sejumlah negara telah menerapkan berbagai kebijakan untuk menekan konsumsi gula di masyarakat.
Beberapa di antaranya memberikan label peringatan pada makanan dan minuman tinggi gula sehingga konsumen lebih mudah mengetahui kandungan yang dikonsumsi.
Ada pula negara yang membatasi iklan minuman bergula tinggi, terutama yang menyasar anak-anak, hingga menerapkan pajak khusus untuk produk tinggi gula.
Kebijakan tersebut dinilai mampu membantu menurunkan angka penyakit yang berkaitan dengan konsumsi gula berlebihan.
Bahkan, beberapa negara juga melarang penjualan makanan dan minuman manis kemasan di lingkungan sekolah sebagai upaya melindungi kesehatan anak.
Indonesia sendiri disebut tengah mengarah pada penerapan sejumlah kebijakan serupa untuk mengendalikan konsumsi gula di masyarakat.
Batas Konsumsi Gula Harian
Dokter menyarankan orang dewasa membatasi konsumsi gula maksimal sekitar empat sendok makan per hari.
Langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah mulai memperhatikan kandungan gula pada makanan dan minuman sebelum membeli atau mengonsumsinya.
Dengan mengurangi makanan dan minuman yang terlalu manis, risiko berbagai penyakit kronis dapat ditekan tanpa harus menghilangkan gula sepenuhnya dari pola makan.
Menikmati makanan manis sesekali bukanlah masalah. Yang terpenting adalah menghindari konsumsi berlebihan agar kesehatan tetap terjaga dan kualitas hidup tidak terganggu di masa depan.
Editor : Maylanni Diana Fitri