Hari Baik Menikah Menurut Islam, Apakah Boleh Memilih Hari Tertentu?

Muhammad Rusdian Nuzula • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 18:44 WIB
Hari baik menikah menurut Islam dibahas dalam kajian ini, termasuk hukum memilih tanggal dan pandangan terhadap keyakinan hari sial. (PINTEREST)
Hari baik menikah menurut Islam dibahas dalam kajian ini, termasuk hukum memilih tanggal dan pandangan terhadap keyakinan hari sial. (PINTEREST)

JAKARTA - Hari baik menikah menurut Islam menjadi pertanyaan ketika sebagian masyarakat masih menggunakan pertimbangan hari dan bulan tertentu sebelum melangsungkan pernikahan. Dalam sebuah kajian, dijelaskan bahwa memilih waktu pernikahan diperbolehkan apabila pertimbangannya bersifat teknis, tetapi berbeda jika sebuah hari diyakini membawa kesialan atau keberuntungan tertentu.

Pertanyaan mengenai hal tersebut muncul dari seorang jamaah yang menyinggung kebiasaan masyarakat Jawa. Dalam tradisi yang berkembang di sejumlah lingkungan, orang tua terkadang memilih bulan atau hari tertentu untuk menikahkan anaknya. Pemilihan itu dilakukan karena adanya keyakinan bahwa waktu tertentu dapat membawa keberkahan, sementara waktu lainnya dianggap dapat memberikan dampak buruk.

Jamaah kemudian menanyakan bagaimana seorang Muslim seharusnya menyikapi keyakinan tersebut, terutama karena kepercayaan mengenai hari baik dan hari buruk untuk pernikahan tidak disebutkan dalam syariat Islam.

Baca Juga: Hari Baik Menikah Menurut Islam, Buya Ungkap Pandangan soal Hitungan Hari Jawa

Dalam jawabannya, Buya menyampaikan bahwa kebaikan dapat dilakukan kapan saja selama tidak ada larangan khusus dari Allah dan Nabi. Pernikahan juga disebut tidak dibatasi oleh waktu tertentu. Bahkan, dalam penjelasan kajian, pernikahan dapat dilakukan pada siang maupun malam.

Buya kemudian memberikan gambaran mengenai sebuah pernikahan yang pernah dilaksanakan sekitar pukul 12.00. Pernikahan tersebut dilakukan karena keluarga datang dari tempat yang jauh dan sudah memiliki kecocokan sehingga diputuskan untuk segera menikahkan pasangan tersebut.

Bedakan Memilih Hari dan Meyakini Hari Sial

Salah satu poin penting dalam kajian tersebut adalah membedakan antara memilih hari dengan keyakinan terhadap hari tertentu.

Memilih tanggal pernikahan untuk alasan yang masuk akal dinilai tidak menjadi persoalan. Contohnya, keluarga memilih hari tertentu karena pada waktu tersebut lebih banyak kerabat atau tamu yang dapat datang.

Dalam kondisi seperti itu, hari dipilih karena pertimbangan praktis, bukan karena dianggap memiliki kekuatan tertentu.

Berbeda halnya jika seseorang meyakini bahwa hari tertentu merupakan hari naas atau membawa kesialan bagi pasangan yang menikah. Keyakinan semacam itu menjadi persoalan yang perlu diluruskan.

Kajian tersebut mengarahkan agar masyarakat tidak menganggap ada hari atau bulan tertentu yang secara khusus menjadi waktu sial untuk melangsungkan pernikahan. Semua hari dapat digunakan untuk melakukan kebaikan selama tidak terdapat larangan.

Karena itu, apabila pasangan sudah siap menikah dan tidak ada kendala, pernikahan tidak perlu ditunda hanya karena takut terhadap hitungan hari tertentu.

Pendekatan dalam menyikapi tradisi juga menjadi bagian penting dari penjelasan. Buya mengingatkan agar perubahan keyakinan di tengah masyarakat dilakukan secara bijak dan tidak menimbulkan permusuhan.

Mengubah Tradisi Secara Perlahan

Dalam kajian tersebut, Walisongo dijadikan salah satu contoh bagaimana tradisi masyarakat dapat diarahkan secara perlahan. Perubahan tidak dilakukan dengan cara yang langsung menimbulkan pertentangan, tetapi melalui pendekatan yang lebih halus.

Contoh yang diberikan berkaitan dengan tradisi bersih desa. Disebutkan bahwa kegiatan tersebut dahulu memiliki bentuk dan praktik yang berbeda. Dalam perkembangannya, para juru dakwah mengarahkan kegiatan tersebut dengan memasukkan doa-doa.

Contoh tersebut menggambarkan pendekatan dakwah yang tidak hanya berfokus pada penolakan tradisi, tetapi juga mengubah bagian yang dianggap tidak sesuai secara bertahap.

Pendekatan serupa dapat diterapkan ketika menghadapi keyakinan mengenai hari pernikahan. Jika keluarga masih memilih hari tertentu, alasan pemilihannya dapat diarahkan kepada pertimbangan yang lebih realistis, seperti memastikan kerabat dan tamu dapat hadir.

Baca Juga: Hari Baik Menikah Menurut Islam, Buya Ungkap Pandangan soal Hitungan Hari Jawa

Dengan begitu, pemilihan tanggal tetap dilakukan tanpa harus menganggap hari tersebut memiliki sifat membawa keberuntungan atau kesialan.

Kajian itu juga mengingatkan bahwa mengubah kebiasaan masyarakat tidak selalu bisa dilakukan dalam satu atau dua hari. Prosesnya dapat dimulai dari diri sendiri, kemudian keluarga dan orang-orang terdekat.

Pendekatan perlahan dianggap lebih bijak daripada memaksakan perubahan secara frontal. Sebab, keyakinan yang sudah lama berkembang dapat memicu penolakan apabila langsung dihadapi dengan cara keras.

Pada akhirnya, pembahasan mengenai hari baik menikah menurut Islam mengarah pada satu pembedaan utama. Menentukan tanggal karena alasan teknis, seperti menyesuaikan waktu keluarga dan tamu, merupakan hal yang berbeda dengan meyakini hari tertentu sebagai pembawa nasib baik atau buruk.

Bagi masyarakat yang masih memegang tradisi pemilihan hari, penyesuaian alasan tersebut dapat menjadi salah satu cara agar keputusan pernikahan tetap mempertimbangkan kebutuhan keluarga tanpa mengaitkannya dengan keyakinan tentang hari sial.

Dengan pendekatan yang bijak dan bertahap, tradisi di tengah masyarakat dapat diarahkan tanpa harus menciptakan pertentangan.

 

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : AL-Bahjah TV
Hari Baik Menikah Menurut Islam Pernikahan Islam Hitungan Hari Jawa Hari Pernikahan Tradisi Jawa