Bonsai Santigi Dibentuk dengan Konsep Piramida Miring, Ini Tahapannya

Muhammad Rusdian Nuzula • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 17:21 WIB
Bonsai Santigi dibentuk melalui pemilihan muka, wiring, pembentukan tajuk piramida, kayu mati, hingga penataan dalam pot. (PINTEREST)
Bonsai Santigi dibentuk melalui pemilihan muka, wiring, pembentukan tajuk piramida, kayu mati, hingga penataan dalam pot. (PINTEREST)

JAKARTA - Bonsai Santigi dalam sebuah proses makeover dibentuk dengan mengutamakan pemilihan muka bonsai, konsep tajuk, wiring, pembentukan dahan, hingga penataan akhir dalam pot. Proses tersebut dilakukan untuk menonjolkan karakter visual tanaman sekaligus membentuk tampilan bonsai yang sesuai dengan skenario yang telah ditentukan.

Material Santigi yang digunakan terlihat dalam kondisi segar dan sehat. Hal itu terlihat dari warna daunnya yang hijau cerah. Sebelum masuk ke tahap pembentukan, bahan bonsai terlebih dahulu diamati dari berbagai sisi.

Tahap tersebut dilakukan untuk menentukan sisi yang memiliki nilai keindahan paling kuat. Bagian muka bonsai dipilih berdasarkan tampilan yang dianggap paling menarik, termasuk garis, ruang kedalaman, dimensi, serta tekstur pada batang yang dominan besar.

Dari hasil pengamatan tersebut, satu sisi kemudian dipilih sebagai bagian muka Bonsai Santigi. Pemilihan muka menjadi tahap penting karena akan menentukan arah visual keseluruhan bonsai.

Baca Juga: Dewan Siap Hadapi Pemeriksaan, Yohan Tri Waluyo Buka Opsi Gugat Balik

Dalam prosesnya, pembentukan bonsai juga dikaitkan dengan selera dan rasa visual pembuatnya. Seni dipandang memiliki sifat relatif dan subjektif sehingga keputusan bentuk tidak semata-mata berkaitan dengan benar atau salah.

Setelah muka ditentukan, langkah berikutnya adalah memilih bentuk tajuk. Dalam penjelasan pada video, terdapat tiga bentuk piramida yang digunakan sebagai pilihan untuk membentuk tatanan daun. Bentuk tersebut terdiri dari piramida tidak sama sisi yang miring ke kiri, piramida sama sisi, dan piramida tidak sama sisi yang miring ke kanan.

Untuk calon Bonsai Santigi tersebut, bentuk yang dipilih adalah piramida tidak sama sisi yang miring ke kanan. Pilihan itu kemudian menjadi dasar dalam mengarahkan dahan dan cabang ketika memasuki tahap eksekusi.

Dimulai dari Pembersihan hingga Wiring

Tahap eksekusi diawali dengan mengupas kulit yang sudah mati dan kering. Kayu yang telah mati juga dibersihkan agar bagian tanaman yang tersisa terlihat lebih jelas dan tidak tampak kotor.

Setelah proses pembersihan, seluruh dahan yang akan dibentuk mulai mendapatkan wiring atau pengawatan. Pengawatan dilakukan dari dahan berukuran besar hingga bagian yang lebih kecil.

Dahan-dahan tersebut kemudian diarahkan menuju titik tajuk daun sesuai konsep piramida yang sebelumnya dipilih. Detail pengawatan menjadi salah satu bagian penting karena semakin banyak bagian yang dapat dikendalikan, semakin mudah proses penekukan dan pembentukan dilakukan.

Tahap berikutnya adalah pembentukan. Fase ini disebut sebagai bagian yang sensitif sekaligus menentukan karena dahan dan cabang mulai diarahkan untuk membentuk konstruksi kanopi.

Pembentukan dimulai dari area kanopi. Dahan dan cabang ditekuk untuk mengatur posisi tinggi dan rendah, arah kiri dan kanan, serta konstruksi dahan yang membentuk keseluruhan kanopi.

Setelah kanopi terbentuk, pembentukan dilanjutkan ke tajuk-tajuk daun di bawahnya. Setiap bagian diatur secara bertahap agar keseluruhan tajuk mengikuti skenario piramida estetika yang sudah dipilih.

Baca Juga: Dewan Siap Hadapi Pemeriksaan, Yohan Tri Waluyo Buka Opsi Gugat Balik

Sentuhan Kayu Mati dan Penataan Akhir

Setelah kerangka keseluruhan bonsai terbentuk, bagian kayu mati dapat diberikan sentuhan tambahan. Batang atau kayu yang sudah mati maupun sengaja dimatikan jalurnya dapat dipahat atau diukir menggunakan peralatan mekanik ataupun manual.

Tujuannya untuk menghadirkan karakter kayu mati yang terlihat artistik. Dalam video disebutkan beberapa istilah seperti sarimiki, uro, saba, dan jin. Namun, inti dari proses tersebut adalah menghadirkan karakter kayu yang seolah terbentuk akibat fenomena alam seperti sambaran petir, patah, atau lapuk.

Proses tersebut dilakukan dengan hati-hati agar karakter kayu mati tetap mendukung tampilan Bonsai Santigi secara keseluruhan.

Tahap terakhir adalah memilih pot yang serasi dengan figur bonsai. Ukuran tinggi dan lebar pot juga diperhatikan agar keseluruhan tampilan memiliki komposisi yang sesuai.

Sebagai pelengkap, beberapa batu ditempatkan untuk memberikan kesan natural. Lumut hijau juga ditambahkan untuk menciptakan harmoni warna. Permukaan media kemudian diberi pasir Malang halus berwarna hitam.

Setelah seluruh tahapan selesai, Bonsai Santigi ditampilkan dalam bentuk akhirnya. Perbandingan sebelum dan sesudah makeover kemudian digunakan untuk melihat perubahan tampilan material setelah melalui proses pembentukan.

 

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Tedy Boy Bonsai
bonsai santigi Wiring Bonsai Santigi Bonsai Kayu Mati Seni Bonsai