Bonsai Santigi Diubah Jadi Lebih Artistik, Kuncinya Ada pada Pembentukan Tajuk

Muhammad Rusdian Nuzula • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 17:24 WIB
Bonsai Santigi dimakeover dengan menentukan muka, memilih tajuk piramida miring, wiring dahan, membentuk kayu mati, dan menata pot. (PINTEREST)
Bonsai Santigi dimakeover dengan menentukan muka, memilih tajuk piramida miring, wiring dahan, membentuk kayu mati, dan menata pot. (PINTEREST)

JAKARTA - Bonsai Santigi dapat dibentuk dengan menentukan sisi terbaik sebagai muka bonsai, kemudian mengarahkan dahan dan cabang menggunakan wiring sesuai konsep tajuk yang dipilih. Dalam proses makeover ini, bentuk piramida tidak sama sisi yang miring ke kanan digunakan sebagai dasar pembentukan tajuk.

Material Santigi yang digunakan terlihat segar dengan daun berwarna hijau cerah. Sebelum dilakukan perubahan bentuk, bahan bonsai diamati terlebih dahulu dari seluruh sisi. Pengamatan ini dilakukan untuk mencari tampilan yang paling kuat secara visual.

Sisi yang dipilih sebagai muka bukan hanya berdasarkan satu bagian tanaman. Garis, ruang kedalaman, dimensi, hingga tekstur pada batang yang berukuran dominan menjadi pertimbangan. Setelah dilakukan orientasi, salah satu sisi ditetapkan sebagai bagian muka yang akan ditampilkan.

Pemilihan tersebut kemudian menjadi dasar untuk menentukan arah pembentukan. Dalam prosesnya, keputusan artistik diserahkan pada rasa visual masing-masing pembuat bonsai. Hal ini karena bentuk bonsai sebagai karya seni dapat dinikmati berdasarkan tampilan dan ekspresi yang ingin ditonjolkan.

Setelah menentukan muka, pembentukan berlanjut pada pemilihan struktur tajuk. Ada tiga pilihan bentuk piramida yang dijelaskan, yakni piramida tidak sama sisi yang miring ke kiri, piramida sama sisi, dan piramida tidak sama sisi yang miring ke kanan.

Untuk material Santigi yang sedang dimakeover, pilihan jatuh pada piramida tidak sama sisi yang miring ke kanan. Konsep tersebut kemudian diterapkan pada arah dahan dan tajuk daun.

Baca Juga: Dewan Siap Hadapi Pemeriksaan, Yohan Tri Waluyo Buka Opsi Gugat Balik

Dahan Dibentuk Secara Bertahap

Sebelum wiring, bagian tanaman yang sudah mati dibersihkan. Kulit yang telah kering dikupas untuk melihat jalur bagian yang masih hidup. Kayu-kayu mati juga dibersihkan sehingga struktur tanaman tampak lebih jelas.

Selanjutnya, wiring dilakukan pada dahan yang akan ditekuk. Pengawatan dimulai dari dahan berukuran besar hingga bagian yang lebih kecil. Setiap bagian diarahkan menuju posisi tajuk yang telah direncanakan.

Detail wiring menjadi salah satu perhatian dalam proses tersebut. Pengawatan yang dilakukan secara lebih detail membuat dahan lebih mudah diarahkan ketika memasuki tahap pembentukan.

Tahap pembentukan dimulai dari bagian kanopi. Dahan dan cabang ditekuk untuk menentukan posisi serta konstruksi kanopi. Pengaturan dilakukan berdasarkan tinggi dan rendahnya bagian tanaman, termasuk arah kiri dan kanan.

Setelah area kanopi terbentuk, proses dilanjutkan pada tajuk-tajuk daun di bawahnya. Dahan diatur satu per satu agar membentuk susunan yang mengikuti konsep piramida yang telah dipilih.

Pembentukan dilakukan secara bertahap dari bagian atas menuju bagian bawah. Dengan pola tersebut, struktur keseluruhan bonsai dapat diarahkan sesuai skenario visual yang telah ditentukan sejak awal.

Kayu Mati Jadi Sentuhan Berikutnya

Setelah frame keseluruhan Bonsai Santigi terbentuk, bagian kayu mati diberikan sentuhan tambahan. Batang atau kayu yang sudah mati dapat dipahat atau diukir menggunakan peralatan mekanik maupun manual.

Proses ini ditujukan untuk menghadirkan karakter kayu mati yang artistik. Bentuknya dapat dibuat seolah-olah memiliki karakter akibat fenomena alam seperti sambaran petir, patah, atau lapuk.

Beberapa istilah yang disebut dalam proses tersebut antara lain sarimiki, uro, saba, dan jin. Namun, inti pengerjaannya adalah menghadirkan karakter kayu mati yang dapat memperkuat tampilan bonsai.

Baca Juga: Dewan Siap Hadapi Pemeriksaan, Yohan Tri Waluyo Buka Opsi Gugat Balik

Setelah pembentukan dan pengerjaan kayu selesai, bonsai ditempatkan pada pot yang dianggap serasi dengan figur tanaman. Tinggi dan lebar pot diperhatikan agar komposisi keseluruhan tetap selaras.

Penataan kemudian dilengkapi dengan beberapa batu yang ditempatkan untuk menghadirkan kesan natural. Lumut berwarna hijau ditambahkan untuk memperkuat harmoni warna, sedangkan permukaan media diberi pasir Malang halus berwarna hitam.

Hasil akhirnya kemudian dibandingkan dengan kondisi sebelum makeover. Perubahan tersebut memperlihatkan bagaimana material Santigi yang sebelumnya masih berupa bahan bonsai diarahkan menjadi karya dengan struktur tajuk, batang, dan elemen pendukung yang lebih tertata.

Proses tersebut menunjukkan bahwa pembentukan Bonsai Santigi tidak berhenti pada pemangkasan. Penentuan muka, pemilihan konsep tajuk, wiring, pembentukan dahan, pengerjaan kayu mati, hingga pemilihan pot menjadi rangkaian yang saling berkaitan dalam menghasilkan tampilan akhir.

 

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Tedy Boy Bonsai
bonsai santigi pembentukan bonsai Santigi Wiring Kayu Mati