BLITAR KAWENTAR - Nubia Red Magic 11 Pro hadir sebagai HP gaming yang membawa inovasi tidak biasa. Bukan hanya mengandalkan chipset terbaru, ponsel ini menjadi HP komersial yang mampu menembus skor AnTuTu lebih dari 4 juta poin.
Nubia Red Magic 11 Pro menggunakan Snapdragon 8 Elite Gen 5, RAM 16 GB LPDDR5T, serta storage UFS 4.1 berkapasitas 512 GB. Namun, yang membuatnya berbeda adalah sistem pendingin liquid cooling yang dikombinasikan dengan kipas internal.
Kehadiran liquid cooling tersebut menjadi salah satu daya tarik utama. Sistem ini diklaim sebagai liquid cooling pertama yang diterapkan pada HP komersial yang dijual bebas, berbeda dengan konsep OnePlus 11 Concept yang sebelumnya hanya diperkenalkan sebagai perangkat konsep.
Baca Juga: Modifikasi Toyota Avanza Veloz 2014 Full Black, Mobil Kenangan Disulap Jadi Gahar
Liquid Cooling dengan Cairan Fluorinasi
Bagian belakang Red Magic 11 Pro dibuat transparan untuk memperlihatkan jalur cairan berwarna biru di dalam bodinya. Cairan tersebut bukan air biasa, melainkan cairan fluorinasi yang dirancang untuk mendinginkan komponen elektronik.
Cara kerjanya cukup sederhana. Pompa akan mengalirkan cairan melewati area komponen yang menghasilkan panas. Cairan tersebut menyerap panas, kemudian menyebarkannya ke area lain yang lebih dingin sebelum kembali berputar ke bagian awal.
Sistem ini juga dipadukan dengan vapor chamber berukuran 13.116 mm². Ukuran tersebut lebih besar dibandingkan vapor chamber 8.000 mm² yang digunakan pada iQOO 15 dalam pengujian yang sama.
Baca Juga: Pemkot Blitar Bangun Irigasi Jalan Sawunggaling untuk Kurangi Debit Air dari Utara
Bisa Tembus 4 Juta Poin AnTuTu
Dari sisi performa, Red Magic 11 Pro memang dirancang untuk mengejar performa maksimal. Dalam pengujian yang dilakukan, perangkat mampu meraih skor AnTuTu sekitar 4,1 juta poin.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan iQOO 15 yang memperoleh sekitar 3,9 juta poin. Padahal keduanya sama-sama menggunakan chipset generasi terbaru dengan RAM dan storage yang relatif serupa.
Perbedaan tersebut salah satunya berkaitan dengan cara Red Magic mengatur performanya. Ketika benchmark dijalankan, perangkat berani mempertahankan performa tinggi meski temperatur meningkat.
Dalam pengujian 3DMark Wildlife Extreme Stress Test, temperatur Red Magic bahkan sempat mencapai sekitar 53 derajat Celsius pada titik terpanas. Sementara iQOO 15 berada di kisaran 47–48 derajat Celsius.
Menariknya, Red Magic memperoleh skor puncak sekitar 8.100, sedangkan iQOO 15 berada di kisaran 7.000-an. Hal tersebut menunjukkan Red Magic lebih agresif dalam mempertahankan performa tinggi.
Baca Juga: Modifikasi Toyota Avanza Veloz Ceper ala Mahasiswa, Simpel tapi Tetap Ganteng
Liquid Cooling Ternyata Tidak Terlalu Signifikan
Pertanyaan berikutnya adalah apakah liquid cooling benar-benar memberikan dampak besar?
Pengujian dilakukan dengan beberapa kombinasi, mulai dari kipas dan liquid cooling yang sama-sama aktif hingga keduanya dimatikan. Hasilnya ternyata tidak menunjukkan perbedaan yang konsisten.
Dalam beberapa skenario, perbedaan skor hanya berada di kisaran 1–5 persen. Bahkan ketika liquid cooling aktif dan kemudian dibandingkan dengan kondisi liquid cooling mati, selisih performanya hanya sekitar 1–2 persen.
Artinya, berdasarkan pengujian tersebut, kontribusi liquid cooling terhadap peningkatan performa tidak terlihat signifikan. Sistem tersebut tetap menarik secara teknologi, tetapi bukan berarti otomatis membuat HP jauh lebih dingin atau lebih kencang.
Gaming Normal Justru Terasa Stabil
Menariknya, temperatur tinggi tersebut terutama terlihat ketika perangkat dipaksa menjalankan benchmark secara maksimal. Saat digunakan untuk bermain game, hasilnya jauh lebih terkendali.
Ketika digunakan memainkan Genshin Impact pada pengaturan Highest 60 FPS, temperatur maksimal yang tercatat hanya sekitar 37 derajat Celsius. Performa juga tetap stabil sehingga perangkat tidak perlu terus-menerus bekerja pada kemampuan maksimalnya.
Selain sistem pendingin, HP ini membawa layar 1,5K dengan refresh rate 144 Hz, baterai berkapasitas besar, bypass charging, shoulder trigger, jack audio 3,5 mm, serta kipas internal yang dapat aktif otomatis ketika bermain game atau mengisi daya.
Kamera Jadi Bagian yang Biasa Saja
Di balik performa ekstremnya, sektor kamera bukan menjadi keunggulan utama. Red Magic 11 Pro membawa kamera utama 50 MP dan ultrawide 50 MP.
Hasil kamera belakang dinilai cukup untuk penggunaan sehari-hari, tetapi belum bisa disebut sebagai kekuatan utama di kelasnya. Kamera ultrawide juga mengalami penurunan detail dan warna dalam kondisi tertentu.
Kamera depan bahkan menjadi salah satu kompromi terbesar. Karena menggunakan desain layar penuh tanpa punch-hole, kamera depan berada di balik layar. Hasil videonya dapat terlihat berkabut dan hanya mendukung perekaman 1080p 30 FPS.
Pada akhirnya, Nubia Red Magic 11 Pro memang bukan HP yang dibuat untuk semua pengguna. Perangkat ini lebih mengutamakan performa, desain gaming, fitur kontrol, serta sistem pendinginan dibandingkan kemampuan kamera.
Dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, RAM 16 GB, storage 512 GB, kipas internal, vapor chamber besar, dan liquid cooling, Red Magic 11 Pro tampil sebagai salah satu HP gaming paling ekstrem. Teknologi liquid cooling-nya memang belum menunjukkan peningkatan besar dalam pengujian, tetapi keberaniannya menawarkan konsep tersebut pada perangkat komersial membuat HP ini tampil berbeda dari kebanyakan flagship saat ini.
Editor : Gita Dwi Nuraini
Sumber : pinterest