JAKARTA - Menanam cabai rawit ternyata bisa dilakukan dengan memanfaatkan galon bekas air mineral sebagai pot sederhana. Cara tersebut menjadi salah satu alternatif bagi yang ingin bercocok tanam menggunakan wadah bekas. Dalam sebuah video tutorial, prosesnya dimulai dari memotong galon, membuat lubang drainase, menyiapkan media tanam, hingga merawat tanaman selama 80 hari sampai buah cabai mulai memerah dan siap dipanen.
Pemanfaatan galon bekas tidak hanya membuat wadah tanam lebih mudah diperoleh, tetapi juga dapat dibuat lebih menarik dengan pengecatan pada bagian luarnya. Setelah pot siap, tahap berikutnya adalah menyiapkan media tanam dan bibit cabai sebelum masuk ke proses perawatan.
Baca Juga: Joran Popping Ghost Track Blue Rift Diuji di Pulau Seribu, Hasilnya Bikin Kaget
Galon Bekas Diubah Menjadi Pot Cabai
Langkah pertama adalah memotong galon menjadi dua bagian mengikuti alur garis yang tersedia pada wadah. Setelah terpotong, bagian bawah galon dibuat lubang drainase agar air dapat mengalir dan tidak menggenang di dalam pot.
Lubang tersebut dapat dibuat menggunakan bor atau solder. Jika tidak memiliki keduanya, lubang bisa dibuat dengan besi yang terlebih dahulu dipanaskan.
Untuk mempercantik sekaligus membantu melindungi akar dari paparan sinar matahari, bagian luar galon dapat dicat. Setelah pengecatan selesai, wadah perlu dijemur hingga kering sebelum digunakan.
Media tanam kemudian dibuat dari campuran tanah, kompos, sekam mentah, dan arang sekam dengan perbandingan 2:1:1. Jika tersedia, kapur dolomit juga dapat ditambahkan sebanyak satu genggam atau satu gelas. Seluruh bahan kemudian diaduk hingga tercampur rata.
Bibit Cabai Dipindah ke Pot
Setelah media tanam dimasukkan ke dalam pot dan wadah ditempatkan di lokasi yang mendapatkan sinar matahari, proses pindah tanam dapat dilakukan. Media terlebih dahulu dibasahi, kemudian dibuat lubang di bagian tengah pot.
Bibit cabai dimasukkan ke lubang dengan kedalaman sebatas daun lembaga. Setelah itu, bagian sekitar bibit ditimbun kembali dan disiram secara perlahan.
Sekitar 10 hari setelah tanam, gulma yang tumbuh perlu dibersihkan agar tidak mengganggu tanaman. Pemotongan pucuk juga dapat dilakukan untuk membantu memunculkan tunas sehingga tanaman menjadi lebih rimbun.
Untuk pemupukan, digunakan NPK 16-11 dengan takaran satu sendok yang dilarutkan dalam tiga liter air. Larutan tersebut diberikan sebanyak satu gelas untuk setiap pot dan dilakukan satu minggu sekali.
Perawatan hingga Cabai Mulai Berbuah
Memasuki 25 hari setelah tanam, tanaman terlihat lebih rimbun dan mulai banyak menghasilkan tunas serta bakal bunga. Pada tahap ini, pemupukan dilakukan menggunakan NPK 16-1 yang ditambah pupuk Karate Plus Boroni. Masing-masing digunakan satu sendok dan dilarutkan dalam tiga liter air.
Selain pemupukan melalui media tanam, tanaman juga mendapatkan pemupukan melalui daun menggunakan Gandasil B. Satu sendok teh pupuk dilarutkan dalam tiga liter air untuk kemudian disemprotkan ke tanaman.
Penyemprotan dianjurkan dilakukan pada pagi atau sore hari ketika daun sedang membuka dengan sempurna.
Pada 45 hari setelah tanam, tanaman tampak semakin rimbun dan calon buah mulai bermunculan. Ajir dapat dipasang agar tanaman tidak mudah rebah ketika terkena angin atau hujan.
Baca Juga: Joran Popping Ghost Track Blue Rift Diuji di Pulau Seribu, Hasilnya Bikin Kaget
Untuk mengantisipasi hama, penyemprotan pestisida dan fungisida dilakukan satu minggu sekali. Penyemprotan diarahkan ke daun dan batang, termasuk bagian bawah daun.
Memasuki 60 hari, buah cabai terlihat semakin banyak. Pada 75 hari, sejumlah buah mulai berubah warna menjadi merah. Panen kemudian dilakukan pada 80 hari setelah tanam dengan memetik buah bersama tangkainya.
Cara tersebut menunjukkan bahwa menanam cabai rawit menggunakan galon bekas dapat dilakukan melalui tahapan sederhana, mulai dari menyiapkan wadah, media tanam, bibit, pemupukan, hingga pengendalian hama dan panen.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Tanam Menanam