KABUPATEN BLITAR - Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Blitar cukup mengejutkan. Sejak 2009, jumlah penderita yang melakukan pengobatan mencapai angka 725 orang.
Pada kurun waktu 2009 sampai 2022, diketahui ada 501 kasus. Pada 2023 bertambah 199 kasus dan sampai April tahun ini ada penambahan 25 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Blitar, Anggit Ditya Putranto mengatakan, data tersebut didapat dari hasil skrining dan pemeriksaan dari kelompok berisiko.
Selain itu, ada juga yang bersumber dari orang yang datang secara sukarela untuk melakukan pengecekan.
“Kami ada beberapa pelayanan yang melayani pemeriksaan secara sukarela, seperti di RSUD Ngudi Waluyo ada pelayanan VCT di Klinik Cendana. Selain itu, ada juga di 24 puskesmas dan 12 klinik swasta yang melakukan pemeriksaan, tes, dan diagnostik. Bahkan untuk pengobatan HIV di 24 puskesmas sudah melakukan inisiasi ARV, termasuk 4 rumah sakit juga melakukan pemeriksaan dan pengobatan,” ujarnya.
Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa penyebaran kasus HIV/AIIDS di Kabupaten Blitar disebabkan oleh beberapa hal. Seperti seringnya berhubungan intim bukan pasangan, hubungan sesama jenis, dan terakhir adanya penularan dari ibu hamil yang menderita HIV.
Dari keseluruhan kasus tersebut, jumlah penularan terbanyak disebabkan oleh berhubungan intim dengan berganti pasangan. Lalu disusul hubungan sesama jenis.
“Banyaknya kasus ini disebabkan oleh hubungan seks bebas tanpa menggunakan pengaman. Terbanyak disebabkan hubungan heteroseks. Sedangkan yang paling sedikit itu penularan dari ibu ke bayi. Tahun ini jumlahnya hanya satu,” jelasnya.
Anggit juga megungkapkan bahwa penderita HIV/AIDS ini tidak bisa disembuhkan. Yang bisa dilakukan oleh pengidap virus ini ialah rutin meminum obat yang telah disediakan pemerintah untuk membantu memperkuat daya tahan tubuh. Alasannya, penderita penyakit ini rentan terserang penyakit lainnya.
Awalnya, penderita sakit ini tidak merasakan sakit atau gejala seperti sakit pada umumnya di tahun pertama. Namun, setelah empat atau lima tahun ditambah dengan perilaku yang tidak sehat, serta tidak adanya inisiasi untuk minum ARV (obat penderita HIV, Red), maka akan megakibatkan turunnya kesehatan.
“Penderita HIV/AIDS itu rentan terserang berbagai penyakit. Di antaranya seperti TB, diare, atau infeksi lain yang dapat menyerang tubuh penderita HIV yang kekebalannya rendah. Bahkan dari semua pasien kita itu, penyebab kematian terbanyak disebabkan oleh TB. Makanya jika merasa berisiko segera melakukan tes, dan apabila sudah terdiagnosis HIV perlu segera meminum ARV,” ungkapnya. (mg2/c1/hai)
Editor : Anggi Septian A.P.