JAKARTA – Proliga 2026 kembali menyita perhatian publik voli nasional. Kekalahan mengejutkan Jakarta Pertamina Enduro dari Gresik Petrokimia Pupuk Indonesia tak hanya memicu reaksi di dalam negeri, tetapi juga mendapat sorotan dari kancah internasional. Nama Megawati Hangestri Pertiwi menjadi pusat perbincangan setelah dinilai tidak dimaksimalkan oleh timnya sendiri dalam laga krusial tersebut.
Isu Megawati Hangestri di Proliga 2026 kian panas setelah pelatih klub raksasa Liga Korea Selatan, Pink Spiders, Tomoko Yoshihara, angkat bicara. Ia secara terbuka mengkritik pendekatan taktik Jakarta Pertamina Enduro yang dinilai gagal menjadikan Megawati sebagai poros utama permainan. Padahal, sang opposite hitter dikenal sebagai salah satu pemain paling berpengaruh di kompetisi voli Asia.
Kekalahan Pertamina Enduro terjadi pada laga lanjutan Proliga 2026 putri melawan Gresik Petrokimia Pupuk Indonesia di GOR FOPI Sumut Sport Center, Minggu (18/1/2026). Tim asal Jawa Timur tersebut tampil disiplin dan berhasil mengamankan kemenangan 3-1 dengan skor 25-17, 23-25, 25-18, dan 25-20.
Sorotan Tomoko Yoshihara untuk Megawati
Tomoko Yoshihara, yang akrab disapa Coach Yoshi, mengaku terus memantau perkembangan Megawati Hangestri sejak sang pemain berkiprah di Liga Korea. Menurutnya, Megawati adalah primadona yang mampu mengubah standar permainan voli di Negeri Ginseng.
“Saya selalu mengikuti perkembangan Mega. Dia pemain pembeda. Namun melihat laga melawan Petrokimia, saya merasa sesak. Kekalahan itu murni kesalahan taktis karena Mega tidak dijadikan tumpuan utama,” ujar Yoshihara dalam wawancara yang beredar luas di media sosial.
Pelatih bertangan dingin tersebut menilai keputusan tidak memaksimalkan Megawati sebagai kesalahan fatal. Ia bahkan menyarankan manajemen Pertamina Enduro segera mendatangkan pemain pendamping yang sepadan agar beban tidak sepenuhnya ditanggung Megawati seorang diri.
Pengakuan Jujur dari Kubu Lawan
Dari kubu pemenang, middle blocker Gresik Petrokimia, Shella Bernadetta, memberikan pernyataan yang tak kalah mengejutkan. Ia mengakui bahwa timnya sebenarnya sangat mewaspadai Megawati Hangestri sebelum pertandingan dimulai.
“Jujur kami takut. Kami latihan keras untuk meredam Mega karena dia ancaman terbesar Pertamina. Faktanya, dia tetap mencetak 23 poin,” ungkap Shella usai laga.
Namun menurut Shella, strategi Jakarta Pertamina Enduro justru mempermudah Petrokimia. Minimnya suplai bola dan skema serangan yang tidak terpusat pada Megawati membuat pertahanan Gresik lebih mudah bekerja.
Taktik Double Block Jadi Kunci
Terlepas dari sorotan individu, kemenangan Gresik Petrokimia di Proliga 2026 tidak lepas dari penerapan strategi yang matang. Pelatih Alessandro Lodi sukses menerapkan skema double block untuk meredam cross spike Megawati yang selama ini dikenal mematikan.
Shella Bernadetta bersama Giovanni Eka diplot sebagai tembok utama di depan net. Penempatan posisi yang presisi dan timing blok yang tepat membuat serangan Pertamina Enduro kerap buntu, terutama pada set ketiga yang ditutup dengan skor 25-18.
Transisi Cepat Penentu Kemenangan
Selain pertahanan solid, efektivitas transisi bertahan ke menyerang menjadi pembeda. Setter Arneta Putri tampil cemerlang dalam mengalirkan bola dengan cepat dan akurat setelah blok atau dig berhasil dilakukan. Skema ini memudahkan Alexandra Baitenko dan Annie Mitchem mengeksekusi serangan dengan leluasa.
Sebaliknya, Jakarta Pertamina Enduro mulai kehilangan fokus akibat tekanan bertubi-tubi. Hasil ini menegaskan bahwa pendekatan kolektif dan disiplin taktik mampu menundukkan tim bertabur bintang sekalipun.
Kekalahan ini menjadi alarm serius bagi Pertamina Enduro di Proliga 2026. Publik kini menanti, apakah manajemen akan merespons kritik dengan perubahan strategi, atau justru membiarkan Megawati Hangestri kembali berjuang sendirian di lapangan.
Editor : Novica Satya Nadianti