BLITAR – Kampung Heritage Kayutangan Malang terus menjadi magnet wisata favorit di Kota Malang. Kawasan yang berada di Jalan Jenderal Basuki Rahmat ini menawarkan perpaduan sejarah, budaya, dan suasana perkampungan tempo dulu yang masih terjaga hingga kini. Tak heran jika Kampung Heritage Kayutangan Malang kerap ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Memasuki kawasan Kampung Heritage Kayutangan Malang, pengunjung langsung disambut suasana khas kota lama. Deretan rumah warga bergaya kolonial, gang-gang sempit yang bersih, serta mural warna-warni menciptakan pengalaman wisata yang berbeda dari kawasan modern Kota Malang. Udara sejuk khas Malang membuat aktivitas berjalan kaki menyusuri kampung ini terasa semakin nyaman.
Kawasan Heritage di Tengah Kota Malang
Kampung Heritage Kayutangan merupakan kawasan permukiman warga yang disulap menjadi destinasi wisata berbasis sejarah. Meski menjadi objek wisata, kehidupan warga tetap berjalan normal. Pengunjung bisa melihat aktivitas sehari-hari masyarakat, mulai dari ibu-ibu yang berjualan, warung kopi rumahan, hingga anak-anak yang bermain di sekitar gang kampung.
Untuk masuk ke kawasan ini, wisatawan dikenakan tiket masuk sebesar Rp5.000 per orang. Dengan harga tersebut, pengunjung sudah bisa menikmati berbagai sudut kampung yang penuh cerita sejarah dan spot foto menarik.
Di dalam kawasan, tersedia beragam fasilitas pendukung seperti toilet umum, kedai kopi, warung makan, hingga toko oleh-oleh khas Malang. Salah satu yang cukup diminati wisatawan adalah keripik tempe dan jajanan tradisional yang dijual oleh warga setempat.
Makam Mbah Honggo dan Nilai Sejarah
Salah satu titik sejarah penting di Kampung Heritage Kayutangan Malang adalah makam Mbah Honggo atau Pangeran Honggo Kusumo. Ia dikenal sebagai guru spiritual keluarga Bupati Malang pertama, RAA Notodiningrat. Berdasarkan informasi di lokasi, Mbah Honggo memiliki peran penting dalam sejarah Malang pada era awal abad ke-19.
Makam Mbah Honggo berada di area permukiman warga dan masih terawat dengan baik. Banyak pengunjung yang menyempatkan diri berziarah sekaligus mempelajari sejarah lokal Malang dari tokoh ini.
Tangga Seribu dan Sungai yang Terawat
Ikon lain yang tak kalah populer adalah Tangga Seribu. Tangga ini sering muncul di berbagai unggahan media sosial karena bentuknya yang unik dan fotogenik. Di sekitar Tangga Seribu, pengunjung dapat menemukan area duduk santai serta pemandangan sungai yang bersih dan tertata rapi.
Aliran sungai di kawasan Kampung Heritage Kayutangan Malang menjadi bukti keseriusan warga dan pengelola dalam menjaga kebersihan lingkungan. Tak hanya menjadi elemen estetika, sungai ini juga menambah kesan alami di tengah kawasan perkotaan.
Mural Estetik dan Spot Foto Favorit
Sepanjang kampung, pengunjung akan menjumpai berbagai mural artistik dengan tema sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat. Mural-mural ini menjadi spot foto favorit wisatawan, terutama generasi muda dan wisatawan asing yang kerap terlihat berkeliling kampung.
Tak hanya mural, bangunan-bangunan lama dengan arsitektur klasik juga menjadi latar foto yang menarik. Setiap sudut kampung seolah menawarkan cerita dan visual yang berbeda.
Desa Wisata Berkelas Nasional
Kampung Heritage Kayutangan Malang tercatat sebagai salah satu dari 75 desa wisata terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023. Penghargaan ini semakin mengukuhkan posisi Kayutangan sebagai destinasi wisata unggulan Kota Malang yang memiliki daya saing nasional.
Rekomendasi Waktu Berkunjung
Berdasarkan pengalaman pengunjung, waktu terbaik untuk menjelajahi Kampung Heritage Kayutangan Malang adalah sore hingga malam hari, sekitar pukul 16.00 hingga 22.00 WIB. Pada jam tersebut, cuaca lebih sejuk dan suasana kampung terlihat semakin cantik dengan pencahayaan lampu.
Dengan trotoar yang lebar, bersih, serta akses yang mudah dari pusat kota, Kampung Heritage Kayutangan Malang layak menjadi destinasi wajib saat berlibur ke Kota Malang.(*)
Editor : Rendra Febrian Permana