JAKARTA - Arema juara Liga Indonesia 2010 menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan sepak bola nasional. Di tengah kondisi kompetisi yang masih solid tanpa dualisme, Singo Edan justru tampil menggila dan menutup musim dengan catatan impresif. Hingga kini, gelar Arema juara Liga Indonesia 2010 masih dikenang sebagai simbol kejayaan sekaligus bukti ketangguhan mental tim asal Malang tersebut.
Bagi Aremania, musim itu bukan sekadar soal trofi. Arema juara Liga Indonesia 2010 lahir dari perjuangan berat, mulai dari krisis finansial hingga materi pemain yang sempat diragukan publik.
Krisis Finansial Tak Hentikan Langkah Singo Edan
Di balik gemerlap trofi, Arema sempat diterpa persoalan serius. Setelah tak lagi disokong sponsor utama, kondisi keuangan klub goyah. Bahkan pada pekan ke-12, gaji pemain dan pelatih sempat mengalami keterlambatan.
Situasi tersebut berpotensi memecah konsentrasi tim yang saat itu tengah bersaing di papan atas klasemen. Namun, manajemen, pelatih, dan pemain memilih menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan. Solidaritas menjadi kunci.
Hasilnya luar biasa. Arema menutup musim dengan 23 kemenangan, 4 hasil imbang, dan 7 kekalahan. Mental baja inilah yang menjadi fondasi kuat keberhasilan mereka meraih gelar juara.
Materi Pemain Minim Bintang, Maksimal Hasil
Krisis finansial membuat Arema tak leluasa berburu pemain bintang. Sebaliknya, mereka mengandalkan kombinasi pemain muda dan nama-nama yang belum terlalu populer.
Beberapa di antaranya adalah Kurnia Meiga, Ahmad Bustomi, Benny Wahyudi, hingga produk akademi seperti Dendi Santoso dan Johan Alfarizi. Saat itu, banyak yang meragukan kapasitas skuad ini untuk bersaing di papan atas.
Namun di tangan pelatih Robert Rene Alberts, yang kala itu menjalani debut di Indonesia, potensi para pemain muda berhasil dimaksimalkan. Strategi rekrutmen cerdas membuat Arema tidak sekadar kompetitif, tetapi juga konsisten sepanjang musim.
Duo Singapura yang Jadi Pembeda
Tak lengkap membahas Arema juara Liga Indonesia 2010 tanpa menyebut duet legendaris asal Singapura: Noh Alam Shah dan Muhammad Ridwan.
Baca Juga: Dinkes Sebut Virus Nipah Belum Ditemukan di Blitar, Tapi Minta Masyarakat Lakukan Pencegahan Ini
Keputusan mendatangkan dua pemain tersebut sempat menuai cibiran. Publik kala itu lebih terbiasa melihat pemain asing dari Afrika atau Eropa. Namun keraguan itu dibayar lunas.
Noh Alam Shah tampil tajam dan penuh determinasi, sementara Ridwan menjadi pelengkap ideal di lini serang. Keduanya menjadi mesin gol sekaligus simbol semangat juang Singo Edan. Hingga kini, nama mereka masih dielu-elukan Aremania.
Tembok Kokoh Pierre Njanka
Selain lini depan yang tajam, lini belakang Arema juga tampil solid. Bek asal Kamerun, Pierre Njanka, menjadi figur sentral pertahanan.
Eks pemain Piala Dunia 2002 itu membawa pengalaman kelas dunia ke jantung pertahanan Arema. Sepanjang musim, Singo Edan hanya kebobolan 22 gol dan mencatatkan 17 clean sheet, menjadikan mereka salah satu tim dengan pertahanan terbaik saat itu.
Pesta Juara di Stadion Utama Gelora Bung Karno
Momen paling ikonik tentu terjadi di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK). Secara kebetulan, laga terakhir digelar di kandang Persija Jakarta.
Arema menutup kompetisi dengan kemenangan telak 5-1 atas Persija. Meski gelar sudah dikunci sebelumnya usai menahan imbang PSPS Pekanbaru, kemenangan besar di Senayan menjadi penutup sempurna.
Hubungan harmonis Aremania dan Jakmania membuat perayaan berlangsung meriah. Bahkan muncul gurauan bahwa kemenangan tersebut adalah “kado” dari tuan rumah. GBK pun menjadi saksi sejarah Arema mengangkat trofi Liga Indonesia pertamanya.
Dua Nama yang Masih Bertahan
Dari 28 pemain dalam skuad juara, hanya Dendi Santoso dan Johan Alfarizi yang tetap bertahan hingga kini. Keduanya menjadi simbol loyalitas dan saksi hidup kejayaan Arema musim 2010.
Sebagai produk akademi, perjalanan mereka mencerminkan filosofi pembinaan jangka panjang yang kala itu dijalankan klub.
Kini, di tengah dualisme Arema yang masih menjadi perdebatan—antara Arema FC di Liga 1 dan Arema Indonesia di Liga 3—pertanyaan tentang siapa pewaris sah gelar 2010 kerap mencuat. Namun satu hal yang pasti, Arema juara Liga Indonesia 2010 tetap tercatat sebagai salah satu kisah emas sepak bola Indonesia.
Editor : Dyah Wulandari