SURABAYA – Persebaya kembali menelan hasil pahit di kandang sendiri setelah takluk 1-2 dari Bhayangkara Presisi Lampung FC pada lanjutan BRI Super League 2026. Kekalahan Persebaya ini terasa semakin menyakitkan karena terjadi di hadapan ribuan pendukung setia yang memadati Stadion Gelora Bung Tomo.
Dalam laga yang berlangsung sengit tersebut, Persebaya sebenarnya tampil dengan motivasi tinggi. Namun efektivitas Bhayangkara Presisi Lampung FC membuat Bajol Ijo harus mengakui keunggulan tim tamu. Hasil ini menjadi sorotan karena Persebaya kalah di kandang pada momen yang diharapkan menjadi titik kebangkitan di BRI Super League 2026.
Kekalahan Persebaya juga menyisakan kekecewaan mendalam, terutama bagi penjaga gawang Andika Ramadani. Dipercaya tampil sebagai starter menggantikan Ernando Ari yang cedera, Andika harus dua kali memungut bola dari gawangnya di Stadion Gelora Bung Tomo.
Andika Ramadani Tampil Gantikan Ernando Ari
Keputusan pelatih menurunkan Andika Ramadani sebagai starter menjadi perhatian publik. Ini merupakan laga keduanya musim ini bersama Persebaya. Kepercayaan tersebut sejatinya menjadi kesempatan emas bagi Andika untuk membuktikan kapasitasnya sebagai kiper utama saat Ernando Ari menepi karena cedera.
Namun, pertandingan justru berjalan tidak sesuai harapan. Dua gol dari Bhayangkara Presisi Lampung FC membuat Persebaya tertinggal dan gagal membalikkan keadaan hingga peluit panjang dibunyikan. Skor 1-2 pun bertahan hingga akhir laga.
Bagi Andika, malam itu menjadi ujian mental yang tidak ringan. Bermain di hadapan ribuan bonek dan bonita tentu membawa tekanan tersendiri. Terlebih, ekspektasi publik terhadap performa Persebaya di kandang selalu tinggi.
Permintaan Maaf Terbuka untuk Bonek dan Bonita
Seusai pertandingan, Andika Ramadani menunjukkan sikap ksatria. Dengan raut wajah penuh penyesalan, ia menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada para suporter.
“Saya mewakili teman-teman pemain memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh suporter. Kami belum mampu memberikan hasil maksimal malam ini. Dukungan kalian sangat berarti dan kami sadar hasil ini belum sesuai harapan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi bentuk tanggung jawab moral pemain terhadap dukungan luar biasa yang diberikan suporter sepanjang pertandingan. Meski kalah, tribun Stadion Gelora Bung Tomo tetap dipenuhi nyanyian dan dukungan tanpa henti.
Atmosfer kandang yang biasanya menjadi kekuatan tambahan, kali ini belum mampu menyelamatkan Persebaya dari kekalahan. Justru hasil ini menjadi tamparan keras yang harus segera dievaluasi.
Evaluasi dan Janji Bangkit di Laga Berikutnya
Andika menegaskan bahwa kekalahan Persebaya dari Bhayangkara Presisi Lampung FC tidak akan dibiarkan berlarut-larut. Ia menyebut laga ini sebagai pelajaran penting bagi tim.
“Ini pelajaran penting buat kami. Kami harus belajar cepat, memperbaiki kesalahan, dan memastikan di pertandingan berikutnya tampil lebih kuat. Kami berjanji akan bangkit dan membalas kepercayaan kalian dengan kerja keras di lapangan,” tegasnya.
Evaluasi menyeluruh dipastikan akan dilakukan tim pelatih, terutama dalam aspek pertahanan yang masih mudah ditembus lawan. Selain itu, efektivitas lini depan juga menjadi pekerjaan rumah agar peluang yang tercipta bisa berbuah gol maksimal.
Kekalahan di BRI Super League 2026 ini menjadi alarm bagi Persebaya untuk segera berbenah jika tak ingin tertinggal dalam persaingan papan atas klasemen. Kompetisi masih panjang, namun konsistensi menjadi kunci utama.
Bagi Bonek dan Bonita, kekalahan memang menyakitkan. Namun dukungan terhadap Bajol Ijo diyakini tidak akan surut. Persebaya dikenal sebagai tim dengan basis suporter fanatik yang selalu hadir dalam kondisi apa pun.
Kini, fokus Persebaya tertuju pada laga berikutnya. Momentum kebangkitan harus segera diciptakan agar kepercayaan diri tim kembali terangkat. Publik Surabaya menanti respons nyata di pertandingan selanjutnya, bukan sekadar janji.
Kekalahan Persebaya di kandang sendiri menjadi catatan penting dalam perjalanan musim ini. Namun seperti yang ditegaskan Andika Ramadani, setiap hasil buruk bisa menjadi pijakan untuk bangkit lebih kuat.
Editor : Dyah Wulandari