SURABAYA - Bonek Mania dikenal sebagai kelompok suporter militan yang setia mendukung Persebaya Surabaya. Di balik fanatisme dan loyalitas tinggi tersebut, sejarah Bonek Mania menyimpan kisah panjang tentang keberanian, solidaritas, hingga perubahan stigma yang sempat melekat pada pendukung Bajul Ijo.
Istilah Bonek sendiri merupakan akronim dari “Bondo Nekat” yang berarti berangkat dengan modal keberanian semata. Filosofi tersebut menggambarkan karakter suporter Persebaya yang rela menempuh perjalanan jauh demi memberikan dukungan langsung kepada tim kebanggaan mereka. Seiring waktu, Bonek Mania tidak hanya menjadi simbol dukungan sepak bola, tetapi juga berkembang menjadi identitas sosial masyarakat Surabaya.
Bahkan, dalam perkembangannya, Bonek tidak hanya fokus mendukung Persebaya di stadion. Mereka juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial melalui komunitas seperti Bonek Peduli. Hal ini menunjukkan transformasi peran suporter yang tidak sekadar hadir sebagai pendukung tim, tetapi juga berkontribusi bagi masyarakat.
Lahirnya Julukan Bonek pada Era Perserikatan
Sejarah mencatat, julukan Bonek baru muncul pada pertengahan musim kompetisi Perserikatan 1987-1988. Saat itu, Persebaya berhasil melaju ke babak 12 besar dan harus menghadapi Persija Jakarta di Stadion Gelora Bung Karno.
Pada masa tersebut, fenomena suporter tandang yang mengawal tim kesayangannya masih sangat jarang terjadi. Namun, ribuan pendukung Persebaya justru nekat berangkat ke Jakarta tanpa koordinasi yang jelas. Antusiasme yang tinggi membuat banyak suporter datang tanpa tiket pertandingan dan bahkan tanpa bekal yang memadai.
Situasi tersebut membuat banyak pendukung Persebaya terlantar di sekitar stadion dan beberapa sudut ibu kota. Dari kejadian itulah muncul julukan Bonek, yang menggambarkan suporter dengan modal keberanian dan keyakinan besar untuk mendukung tim secara langsung.
Siapa Pencetus Istilah Bonek?
Terdapat beberapa versi mengenai sosok yang pertama kali mencetuskan istilah Bonek. Salah satu versi menyebutkan bahwa julukan tersebut diperkenalkan oleh Dahlan Iskan. Saat itu, ia disebut terkejut melihat banyaknya suporter Persebaya yang memadati area luar stadion tanpa persiapan matang.
Versi lain menyebutkan bahwa istilah tersebut pertama kali dilontarkan oleh Purnomo Kasidi, yang saat itu menjabat sebagai ketua umum Persebaya sekaligus Wakil Ketua DPRD Jawa Timur. Ia melihat banyak suporter yang tidur di sekitar hotel tempat mereka menginap karena tidak memiliki biaya penginapan.
Meski awalnya memiliki konotasi negatif, para pendukung Persebaya justru merangkul istilah tersebut sebagai identitas kebanggaan. Bonek kemudian berkembang menjadi simbol loyalitas tanpa batas terhadap tim.
Militansi Bonek dalam Mendukung Persebaya
Militansi Bonek semakin terlihat ketika Persebaya menghadapi berbagai pertandingan besar. Rivalitas sengit kerap terjadi saat melawan tim-tim besar seperti Persib Bandung, PSIS Semarang, dan Madura United yang memiliki kedekatan geografis maupun emosional.
Namun, pertandingan yang paling menyedot perhatian Bonek adalah duel melawan Arema FC. Laga yang dikenal sebagai Derbi Super Jawa Timur ini selalu menghadirkan atmosfer panas dan emosional. Tiket pertandingan bahkan kerap habis dalam hitungan menit karena tingginya antusiasme suporter.
Bonek dikenal selalu memenuhi stadion ketika Persebaya bertanding, baik laga kandang maupun tandang. Semangat “wani” atau berani menjadi identitas yang melekat kuat dalam setiap aksi dukungan mereka.
Transformasi Bonek Menuju Citra Positif
Seiring perjalanan waktu, Bonek juga menghadapi berbagai tantangan, termasuk stigma negatif akibat beberapa insiden yang melibatkan suporter. Namun, perubahan perlahan terjadi melalui berbagai gerakan internal yang mendorong perilaku lebih positif dan sportif.
Kini, Bonek berupaya menampilkan wajah baru sebagai suporter yang cinta damai, menjunjung sportivitas, serta aktif dalam kegiatan sosial. Transformasi tersebut menunjukkan bahwa Bonek bukan sekadar kelompok suporter, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Surabaya.
Dengan semangat solidaritas dan loyalitas tinggi, Bonek Mania terus menjadi kekuatan besar dalam perjalanan Persebaya di kompetisi sepak bola nasional, termasuk dalam persaingan di BRI Liga 1. Dukungan tanpa batas dari Bonek menjadi bukti bahwa sepak bola tidak hanya tentang pertandingan, tetapi juga kebanggaan dan identitas daerah.
Editor : Novica Satya Nadianti