JAKARTA - Fanatisme The Jakmania terhadap Persija Jakarta tidak lahir dalam semalam. Fanatisme The Jakmania terbentuk melalui proses panjang, penuh kerinduan, bahkan sempat diwarnai masa ketika Persija Jakarta justru kehilangan dukungan besar dari suporternya. Kini, kelompok suporter Macan Kemayoran itu menjelma menjadi salah satu basis terbesar dan paling militan di Asia Tenggara.
Dalam perjalanan sejarahnya, Persija Jakarta pernah mengalami dekade tanpa dukungan suporter yang terorganisir. Padahal, sebagai klub ibu kota, Persija sudah meraih banyak gelar sejak era perserikatan. Namun anehnya, dukungan besar di stadion tak selalu berpihak kepada tim kebanggaan Jakarta tersebut.
Data pada Liga 1 2019 mencatat, The Jakmania menjadi penonton laga kandang terbanyak di Asia Tenggara. Dari 17 pertandingan kandang, total 400.131 penonton hadir langsung ke stadion. Angka ini mempertegas fanatisme The Jakmania terhadap Persija Jakarta yang kini begitu solid dan masif.
Dari Fijers hingga Kekosongan Suporter
Sebelum The Jakmania lahir pada 19 Desember 1997, Persija sebenarnya pernah memiliki kelompok suporter bernama Fijers. Kelompok ini aktif mendukung Persija saat masih bermarkas di Lapangan Petojo. Mereka rutin hadir di laga kandang maupun tandang dan ikut menyaksikan kejayaan Persija pada era awal.
Persija meraih gelar perserikatan pertama pada 1931, lalu kembali berjaya pada 1933, 1938, dan sejumlah musim berikutnya. Namun, masa pendudukan Jepang menjadi titik balik. Aktivitas kompetisi berkurang drastis dan perlahan Fijers menghilang.
Setelah nama klub berubah dari Voetbalbond Indonesia Jacatra menjadi Persija Jakarta, dukungan suporter resmi nyaris tak terdengar lagi. Bahkan setelah Indonesia merdeka dan Jakarta menjadi ibu kota negara, Persija tetap belum memiliki basis suporter besar yang terorganisir.
Ironi di Final Perserikatan
Kondisi memprihatinkan terlihat pada final perserikatan 1973 di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Saat itu, jumlah pendukung Persija kalah dari suporter Persebaya Surabaya. Situasi serupa kembali terjadi pada final 1979 ketika Persija menghadapi PSMS Medan.
Padahal, Persija adalah salah satu tim besar dengan sembilan gelar perserikatan. Namun, hingga dekade 1990-an, klub ibu kota ini belum memiliki basis suporter yang konsisten dan terorganisir.
Keresahan inilah yang menjadi latar belakang lahirnya The Jakmania. Sekelompok pemuda Jakarta merasa perlu menghadirkan wadah resmi bagi warga ibu kota untuk mencintai dan mendukung Persija secara total.
Lahirnya The Jakmania dan Awal Fanatisme
The Jakmania resmi dideklarasikan pada 19 Desember 1997. Sejak saat itu, mereka selalu hadir dalam setiap fase perjalanan Persija Jakarta. Dukungan mereka bukan hanya saat klub berjaya, tetapi juga ketika berada dalam masa sulit.
Persija sempat mengalami paceklik gelar selama 17 tahun sebelum akhirnya menjuarai Liga 1 2018. Gelar itu menjadi bukti kesabaran The Jakmania yang tetap setia mendukung di tengah penantian panjang.
Pada musim 2001, Persija meraih gelar Liga Indonesia dengan dukungan besar suporter. Bahkan saat klub menghadapi masalah finansial pada 2012, The Jakmania berbondong-bondong datang ke stadion untuk membeli tiket. Kontribusi mereka disebut-sebut mencapai sekitar 15 persen dari total pengeluaran klub musim tersebut.
Setia Saat Terombang-ambing Stadion
Fanatisme The Jakmania terhadap Persija Jakarta juga terlihat ketika klub kehilangan kandang tetap. Setelah Stadion Menteng dibongkar dan Stadion Lebak Bulus tak lagi digunakan karena proyek transportasi, Persija harus berpindah-pindah stadion.
Dalam kondisi tak menentu itu, The Jakmania tetap hadir. Mereka tak sekadar mendukung di tribun, tetapi juga menyuarakan tuntutan keadilan bagi klub yang dianggap kesulitan mendapatkan fasilitas memadai sebagai tim ibu kota.
Fanatisme ini lahir dari rasa rindu dan kecintaan terhadap Jakarta. The Jakmania bukan hanya kelompok suporter, tetapi simbol identitas kota. Mereka berusaha mengisi kekosongan dukungan yang pernah hilang selama puluhan tahun.
Kini, setiap kali Persija bertanding, lautan oranye menjadi pemandangan khas. Dukungan 100 persen diberikan tanpa henti. Dari klub yang pernah “tanpa suporter”, Persija kini memiliki basis fanatik yang siap berdiri di belakang tim dalam kondisi apa pun.
Fanatisme The Jakmania terhadap Persija Jakarta adalah hasil proses panjang—dari kehilangan, kerinduan, hingga kebanggaan. Dan seperti semboyan yang terus digaungkan, lambang Persija akan selalu ada di dada mereka.
Editor : Davina Ar Raafika