BLITAR – Bulan Ramadan seharusnya menjadi momentum emas bagi setiap Muslim untuk kembali kepada Allah (Inabah) dan mewujudkan ketakwaan yang sebenar-benarnya.
Namun, fenomena yang sering terjadi di berbagai belahan dunia menunjukkan adanya pergeseran makna, di mana Ramadan justru dijadikan bulan untuk begadang tanpa tujuan ibadah, berfoya-foya dalam urusan makanan, hingga tenggelam dalam tontonan sinetron yang menyita waktu zikir dan tadarus Al-Qur'an.
Banyak umat Muslim yang tanpa sadar hanya mengubah jadwal makan siang menjadi makan malam, namun tetap tidak meninggalkan perilaku buruk.
Praktik puasa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, gunjingan (ghibah), adu domba (namimah), hingga ketidakmampuan menjaga mata di alam nyata maupun maya (media sosial), hanya akan membuat puasa menjadi sia-sia dan kehilangan hikmah disyariatkannya
Selain itu, perlu dipahami kembali makna doa "Minal Aidin wal Faizin" yang sering diucapkan saat Idulfitri.
Kalimat tersebut bukanlah berarti "mohon maaf lahir dan batin", melainkan sebuah doa agar kita termasuk orang-orang yang kembali kepada Allah dengan pengampunan (Minal Aidin) dan menjadi orang yang beruntung dengan pahala yang berlipat ganda (Wal Faizin).
Dengan menyongsong Ramadan melalui persiapan mental dan semangat ibadah yang benar, diharapkan setiap Muslim dapat meraih keberuntungan sejati dan ampunan di bulan mulia ini.(*)
Editor : Satria Wira Yudha Pratama