BLITAR KAWENTAR - Nama Joko Pramono belakangan semakin dikenal di kalangan pegiat literasi dan kebangsaan di Kota Blitar. Selain sebagai Kepala PKBM Tunas Pratama, dia juga merupakan sosok di balik lahirnya Kelas Bung Karno, sebuah forum diskusi yang berupaya menghidupkan kembali pemikiran dan ajaran presiden pertama RI, Soekarno, khususnya pada generasi muda.
Ide mendirikan Kelas Bung Karno berangkat dari kegelisahan pribadi Joko. Sebagai warga Blitar yang hidup berdampingan dengan makam dan Perpustakaan Nasional Bung Karno, dia mengaku merasa malu karena banyak masyarakat, termasuk dirinya kala itu, belum memahami secara mendalam ajaran Sang Proklamator.
“Blitar sering disebut dapurnya nasionalisme. Tapi saya bertanya, di mana dapurnya? Di mana ruang untuk memasak dan menghidupkan pemikiran Bung Karno, khususnya agar bisa dipahami generasi muda?” ujarnya.
Kegelisahan itu kemudian diwujudkan menjadi Kelas Bung Karno, sebuah ruang literasi dan diskusi yang rutin digelar dua kali dalam sebulan di Istana Gebang.
Program tersebut menggandeng Pemerintah Kota Blitar dan Perpustakaan Nasional Bung Karno dengan menghadirkan sejumlah narasumber untuk membahas pemikiran Bung Karno secara lebih kontekstual.
Menurut Joko, tujuan utama Kelas Bung Karno bukan sekadar mengenalkan sejarah, melainkan mendorong generasi muda memahami dan mengaktualisasikan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.
Dia menilai banyak anak muda mengenal Pancasila hanya sebagai hafalan atau simbol tanpa memahami makna yang terkandung di dalamnya.
Karena itu, Kelas Bung Karno tidak hanya menghadirkan forum diskusi. Berbagai program pengembangan diri juga disiapkan, mulai kelas orasi, menulis, kepemimpinan, kreativitas digital, hingga sosial dan kewirausahaan.
Seluruh program dirancang untuk membentuk generasi muda yang kritis, berkarakter, serta memiliki kepedulian sosial.
Sasaran utama program ini adalah Generasi Z dan generasi muda yang akan menjadi pemimpin masa depan. Joko berharap mereka tidak sekadar mengenal Bung Karno sebagai tokoh sejarah, tetapi mampu menerjemahkan gagasan-gagasannya ke dalam tindakan nyata dan kehidupan sehari-hari.
Lebih jauh, dia memiliki mimpi besar menjadikan Blitar sebagai pusat pembelajaran nasionalisme berbasis pemikiran Bung Karno.
Menurutnya, wisata ke Blitar tidak cukup hanya berziarah ke makam Bung Karno, tetapi juga perlu dilengkapi ruang belajar yang memperkenalkan nilai kepemimpinan, kebangsaan, dan karakter yang diwariskan Sang Proklamator.
“Harapannya, orang datang ke Blitar bukan hanya pulang membawa foto atau kenangan, melainkan juga membawa pemahaman dan semangat kebangsaan yang kuat,” pungkasnya.(ang/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah