Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

PT Taspen Ungkap Fakta Layanan Pensiunan ASN, Masih 65 Persen Klaim Dilakukan Manual Meski Layanan Digital Terus Diperkuat

Gita Dwi Nuraini • Senin, 29 Juni 2026 | 13:45 WIB
PT Taspen ungkap 65 persen klaim pensiunan ASN masih dilakukan manual meski layanan digital terus diperkuat.(Gemini AI)
PT Taspen ungkap 65 persen klaim pensiunan ASN masih dilakukan manual meski layanan digital terus diperkuat.(Gemini AI)

 

BLITAR KAWENTAR PT Taspen mengungkapkan bahwa transformasi layanan digital bagi pensiunan ASN terus mengalami perkembangan. Namun demikian, mayoritas peserta ternyata masih memilih proses manual dalam mengurus berbagai layanan, mulai dari pengajuan klaim hingga autentikasi penerima pensiun.

Fakta tersebut disampaikan Direktur Utama PT Taspen, Roni, saat memaparkan kondisi perusahaan dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI. Ia menjelaskan bahwa PT Taspen saat ini mengelola layanan bagi sekitar 8,7 juta peserta, terdiri atas 4,7 juta peserta aktif dan 3,1 juta penerima pensiun yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dalam paparannya, Roni menegaskan bahwa pelayanan kepada pensiunan ASN dan pengelolaan investasi menjadi dua fokus utama perusahaan. Menurutnya, Taspen terus memperkuat inovasi layanan agar proses administrasi semakin cepat, mudah, dan efisien tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada peserta.

Baca Juga: Angka Pengangguran Kabupaten Blitar Masih 4,49 Persen, Disnaker Gelar Job Fair 2026 dengan 900 Lowongan Kerja

Layanan Digital Terus Dikembangkan

Saat ini Taspen telah menghadirkan berbagai inovasi pelayanan, seperti layanan tanpa dokumen (paperless), autentikasi digital, Taspen One Hour Online Service, layanan antar pembayaran pensiun, klaim otomatis, hingga penyelesaian klaim dalam waktu satu jam.

Meski demikian, tingkat pemanfaatan layanan digital masih belum optimal. Roni mengungkapkan bahwa baru sekitar 35 persen peserta yang mengajukan klaim secara digital. Artinya, sekitar 65 persen pengajuan masih dilakukan secara manual melalui kantor cabang.

Kondisi serupa juga terjadi pada proses autentikasi penerima pensiun. Baru sekitar 58 persen pensiunan memanfaatkan autentikasi digital menggunakan aplikasi di telepon genggam. Sisanya masih memilih datang langsung ke kantor cabang atau menerima kunjungan petugas Taspen.

Baca Juga: Lahan Pacuan Kuda di Talun Blitar Bakal Dibangun Sekolah Rakyat, Pemkab Ungkap Progresnya

Kendala Literasi Digital Pensiunan

Menurut Roni, masih banyak pensiunan yang merasa lebih nyaman menggunakan pelayanan manual. Faktor keterbatasan kemampuan menggunakan teknologi, kekhawatiran melakukan kesalahan, hingga rasa takut menjadi korban penipuan menjadi alasan utama rendahnya penggunaan layanan digital.

Karena itu, Taspen tetap mempertahankan pelayanan langsung melalui jaringan kantor cabang maupun kunjungan ke rumah peserta yang membutuhkan bantuan administrasi.

Layanan kunjungan juga dilakukan kepada peserta yang belum melakukan autentikasi selama tiga bulan berturut-turut. Selain memastikan status penerima pensiun, petugas juga melakukan verifikasi terhadap penerima pensiun janda atau duda agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Baca Juga: Toko Cat Perdana Warna, Solusi Lengkap Kebutuhan Cat dan Material Bangunan di Blitar Raya

Jaringan Pelayanan Menjangkau Seluruh Indonesia

Untuk melayani jutaan peserta, Taspen memiliki 57 kantor cabang, sekitar 17 ribu titik layanan, serta bekerja sama dengan 44 mitra bayar di berbagai daerah.

Selain itu, perusahaan juga menempatkan petugas di sejumlah Mal Pelayanan Publik yang kini mulai bertransformasi menjadi Mal Pelayanan Publik Digital guna mendukung percepatan layanan administrasi.

Roni menjelaskan bahwa sekitar 70 persen dari total 1.344 pegawai Taspen ditempatkan di kantor cabang. Hal tersebut disesuaikan dengan tingginya kebutuhan pelayanan tatap muka yang masih mendominasi.

Aset Kelolaan Capai Ratusan Triliun Rupiah

Dalam aspek keuangan, Taspen juga mencatatkan kinerja yang positif sepanjang 2024.

Aset program Tabungan Hari Tua (THT), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), dan Jaminan Kematian (JKM) mencapai sekitar Rp149,53 triliun. Sementara dana Akumulasi Iuran Pensiun (AIP) yang dikelola mencapai sekitar Rp250,77 triliun.

Roni menjelaskan bahwa pertumbuhan aset AIP lebih tinggi dibandingkan program THT karena rasio pembayaran klaim THT tergolong besar. Bahkan pada 2024, setiap penerimaan iuran sebesar Rp1.000 harus diimbangi pembayaran klaim sekitar Rp2.570.

Selisih tersebut dapat ditutup melalui hasil investasi dan pendapatan lain perusahaan sehingga kondisi keuangan tetap terjaga.

Hasil Investasi Lampaui Rata-rata Pasar

Taspen juga mencatat hasil investasi yang berada di atas rata-rata pasar. Tingkat imbal hasil investasi (yield on investment) program THT mencapai 7,68 persen, sedangkan AIP mencapai 7,24 persen.

Sebagian besar dana investasi ditempatkan pada Surat Berharga Negara (SBN) dengan tenor jangka panjang sehingga dinilai mampu memberikan imbal hasil yang stabil sekaligus memperoleh keuntungan apabila terjadi apresiasi harga akibat perubahan kondisi makroekonomi.

Di sisi lain, laba korporasi Taspen sepanjang 2024 mencapai sekitar Rp1,2 triliun. Menurut Roni, capaian tersebut menunjukkan bahwa perusahaan tetap mampu menjaga kesehatan keuangan di tengah besarnya kewajiban pembayaran manfaat kepada jutaan pensiunan ASN di Indonesia.

Ke depan, Taspen menegaskan akan terus memperluas digitalisasi layanan sekaligus mempertahankan pelayanan langsung bagi peserta yang belum sepenuhnya siap beralih ke sistem digital.

Editor : Gita Dwi Nuraini
#layanan digital Taspen #Klaim Pensiun #Investasi Taspen #Pensiunan ASN #PT Taspen