JOMBANG - Muktamar NU ke-35 menjadi perhatian Kiai Ma’ruf Amin menyusul munculnya kekhawatiran mengenai politik transaksional menjelang forum tertinggi Nahdlatul Ulama (NU) tersebut.
Salah satu yang disoroti adalah adanya usaha menjual restu dengan membawa-bawa nama pemerintah.
Kiai Ma’ruf Amin menyebut para kiai sepuh merasa prihatin melihat sejumlah perilaku yang dinilai tidak sesuai dengan akhlak ulama serta cara-cara yang selama ini dijaga dalam tradisi NU.
Baca Juga: Megawati Hangestri Pakai Nomor 88 di Hyundai Hill State, Ini Skuad Barunya
“Ini misalnya munculnya kegaduhan, adanya transaksi-transaksi di dalam soal menunjuk Ahwa,” kata Kiai Ma’ruf dalam wawancara yang ditayangkan Kompas.
Menurut dia, Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa) memiliki posisi penting dalam Muktamar NU.
Lembaga tersebut berkaitan dengan proses pemilihan Rais Aam, yang menjadi salah satu posisi tertinggi dalam struktur kepemimpinan NU.
Baca Juga: Zehra Gunes dan Megawati Jadi Sorotan, Klaim Panas Jelang Laga Hillstate Perlu Dicek
Kiai Ma’ruf menilai orang-orang yang berada di dalam Ahwa harus memiliki kapasitas keilmuan dan integritas.
Mereka harus memahami sosok kiai yang layak dipilih serta mampu mengambil keputusan tanpa dipengaruhi bujukan maupun kepentingan tertentu.
“Dia memang melihat sesuatu itu mana yang terbaik,” ujarnya.
Soroti Isu Jual Restu Pemerintah
Kiai Ma’ruf juga menanggapi adanya usaha menjual restu dengan membawa narasi bahwa kandidat tertentu mendapatkan dukungan pemerintah.
Menurut dia, pemerintah tidak pernah melakukan intervensi dalam konflik internal NU sebelumnya.
Ia mencontohkan ketika terjadi persoalan kepengurusan pascapemecatan, pemerintah tidak serta-merta menerbitkan kepengurusan baru, melainkan mendorong penyelesaian melalui mekanisme internal.
Baca Juga: Zehra Gunes dan Megawati Jadi Sorotan, Klaim Panas Jelang Laga Hillstate Perlu Dicek
Karena itu, Kiai Ma’ruf meyakini klaim mengenai adanya dukungan pemerintah terhadap pihak tertentu perlu dilihat secara hati-hati.
“Saya kira begitu itu,” ujarnya ketika menanggapi dugaan adanya pihak yang mengklaim sebagai calon yang mendapat dukungan pemerintah.
Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya telah mendengar adanya rekaman yang beredar melalui WhatsApp terkait dugaan praktik transaksional menjelang Muktamar NU ke-35.
Baca Juga: Zehra Gunes dan Megawati Jadi Sorotan, Benarkah Ingin Satu Tim di Korea?
Namun, ketika ditanya siapa pihak yang bermain dalam persoalan tersebut, Kiai Ma’ruf memilih tidak menyebut nama.
“Saya kira tidak perlu saya itu, tentu orang akan tahu pihak mana itu yang terjadi,” katanya.
Menurut Kiai Ma’ruf, kekhawatiran tersebut menjadi dasar munculnya seruan moral dari para kiai sepuh.
Mereka mengingatkan agar proses Muktamar NU berjalan tanpa transaksi, mobilisasi maupun manipulasi.
Ahwa Dinilai Harus Berintegritas
Dalam wawancara tersebut, Kiai Ma’ruf juga menyinggung wacana penguatan posisi Ahwa.
Ia menilai Ahwa tidak semestinya hanya berfungsi untuk memilih Rais Aam, tetapi dapat diperkuat menjadi lembaga yang membantu menjaga NU, mendamaikan konflik, serta menyelesaikan persoalan internal organisasi.
Baca Juga: Zehra Gunes dan Megawati Disebut Bakal Jadi Duet Impian di Korea
Karena itu, menurut dia, anggota Ahwa harus merupakan ulama yang memiliki kapasitas keilmuan, kewaraan dan integritas yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Dia memang melihat sesuatu itu mana yang terbaik,” kata Kiai Ma’ruf.
Ia berharap proses pemilihan dalam Muktamar NU ke-35 nantinya berlangsung dengan mengutamakan kepatutan dan kualitas calon, bukan karena bujukan, rayuan atau kepentingan tertentu.
Baca Juga: Zehra Gunes dan Megawati Jadi Sorotan, Benarkah Ingin Satu Tim di Korea?
Kiai Ma’ruf juga menegaskan bahwa persoalan kepemimpinan NU tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan mengembalikan marwah organisasi.
Menurut dia, NU ke depan harus mampu melakukan islah, yakni mendamaikan berbagai kekuatan yang berseberangan sekaligus melakukan perbaikan di internal organisasi.
Ia berharap NU tetap menjadi organisasi yang utuh dan tidak terpecah oleh kepentingan tertentu.
Pemimpin NU ke depan, kata dia, harus mampu menyatukan potensi organisasi sekaligus memperbaiki gerakan NU di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, politik dan kebudayaan.
Terkait bursa calon Ketua Umum PBNU, Kiai Ma’ruf menyebut sejumlah nama yang beredar boleh saja muncul.
Namun, keputusan mengenai siapa yang paling tepat tetap berada dalam proses Muktamar. Para peserta, menurut dia, akan menilai kapasitas masing-masing calon.
Baca Juga: Hari Baik Menikah Menurut Islam Tak Harus Cari Weton Ini Penjelasannya
Termasuk soal peluang Gus Yahya kembali maju sebagai calon Ketua Umum PBNU, Kiai Ma’ruf tidak secara langsung menyatakan hal tersebut tidak tepat.
Ia menilai persoalan yang terjadi dalam periode sebelumnya masih perlu diurai secara menyeluruh, sehingga tidak mudah menyalahkan satu pihak.
“Tidak juga seperti itu,” kata Kiai Ma’ruf ketika ditanya apakah Gus Yahya tidak tepat untuk maju kembali.
Baca Juga: Hari Baik Menikah Menurut Islam, Apakah Boleh Memilih Hari Tertentu?
Ia menyerahkan penilaian tersebut kepada cabang dan wilayah serta peserta Muktamar NU ke-35 yang akan menentukan kepemimpinan NU berikutnya.
Meta Description: Muktamar NU ke-35 disorot Kiai Ma’ruf Amin.
Ia menyinggung isu jual restu pemerintah, politik transaksional hingga pentingnya integritas Ahwa.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.