Begini Metode Pemilihan Ahwa Muktamar NU, 9 Ulama dengan Suara Terbanyak Dipilih

Anggi Septian A.P. • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 08:00 WIB
Pemilihan Ahwa Muktamar NU dilakukan dengan menghimpun usulan cabang dan wilayah. Sembilan ulama dengan suara terbanyak menjadi anggota Ahwa.
Pemilihan Ahwa Muktamar NU dilakukan dengan menghimpun usulan cabang dan wilayah. Sembilan ulama dengan suara terbanyak menjadi anggota Ahwa.

JOMBANG - Pemilihan Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa) menjadi salah satu tahapan penting dalam Muktamar Nahdlatul Ulama (NU).

Forum yang beranggotakan sembilan ulama tersebut nantinya bertugas memilih Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama melalui mekanisme musyawarah mufakat.

Sekretaris Steering Committee (SC) Muktamar NU dalam wawancara dengan TV NU menjelaskan, Ahwa merupakan forum yang memiliki kewenangan untuk memilih Rais Aam Syuriah PBNU.

Baca Juga: Megawati Hangestri Pakai Nomor 88 di Hyundai Hill State, Ini Skuad Barunya

Posisi tersebut merupakan kepemimpinan tertinggi dalam struktur Syuriah NU.

Menurutnya, Rais Aam harus memenuhi kualifikasi tertentu, terutama dalam bidang keagamaan.

Selain memiliki kompetensi keilmuan dan moral, sosok tersebut juga diharapkan memahami pergerakan serta tata aturan organisasi.

Baca Juga: Zehra Gunes dan Megawati Jadi Sorotan, Klaim Panas Jelang Laga Hillstate Perlu Dicek

Syuriah memiliki kedudukan strategis karena memberikan inspirasi sekaligus melakukan kontrol terhadap jalannya organisasi agar tetap berada sesuai ketentuan.

Syuriah juga memiliki peran menerjemahkan gagasan besar organisasi ke dalam langkah operasional yang dijalankan jajaran eksekutif.

Karena posisi tersebut sangat strategis, pemilihan Rais Aam dilakukan melalui forum yang diisi para ulama, fuqoha dan kiai yang dinilai memiliki kompetensi serta kapasitas.

Baca Juga: Zehra Gunes dan Megawati Disebut Bakal Jadi Duet Impian di Korea

Sembilan Nama Dihimpun dari Cabang dan Wilayah

Dalam mekanisme pemilihan Ahwa, pengurus Syuriah di tingkat cabang dan wilayah mengusulkan nama-nama ulama.

Setiap cabang mengusulkan sembilan nama untuk kemudian dihimpun dan ditabulasi oleh panitia.

Pada tahapan yang dijelaskan dalam wawancara tersebut, panitia melakukan tabulasi terhadap seluruh usulan yang telah disampaikan pengurus cabang dan wilayah.

Proses tabulasi dilakukan secara paralel di beberapa tempat untuk mempercepat penghitungan.

Baca Juga: Zehra Gunes dan Megawati Jadi Sorotan, Benarkah Ingin Satu Tim di Korea?

Masing-masing tempat tabulasi juga dihadiri saksi.

Dalam penjelasan Sekretaris SC tersebut, setidaknya terdapat tiga saksi di setiap tempat, meskipun jumlah saksi yang hadir disebut lebih banyak.

Mekanisme tersebut dilakukan agar proses penghitungan dapat berlangsung secara terbuka dan dapat disaksikan oleh pihak yang berkepentingan.

Baca Juga: Zehra Gunes dan Megawati Jadi Sorotan, Ini Fakta di Balik Duel Hyundai Hillstate

Setelah hasil tabulasi dari masing-masing tempat selesai, seluruh hasil tersebut akan direkap.

Dari rekapitulasi itu kemudian diambil sembilan nama ulama dengan perolehan suara terbanyak.

Sembilan ulama tersebut selanjutnya ditetapkan sebagai anggota Ahwa.

 

Setelah ditetapkan, mereka menjalankan tugas utama, yakni bermusyawarah untuk menentukan sosok yang akan diberi amanah sebagai Rais Aam.

Usulan Bisa Online atau Tertulis

Dalam proses pengusulan nama Ahwa, panitia juga memberikan mekanisme penyampaian secara online.

Namun, peserta yang tidak dapat mengirimkan usulan secara online tetap diperbolehkan membawa dokumen usulan secara tertulis.

Baca Juga: Hari Baik Menikah Menurut Islam Tak Harus Cari Weton Ini Penjelasannya

Dokumen fisik tersebut kemudian dicocokkan dengan data yang masuk secara online.

Mekanisme tersebut diterapkan untuk memudahkan proses administrasi sekaligus memastikan seluruh usulan dapat dihimpun.

Setelah proses tabulasi selesai, hasilnya akan dibacakan dalam sidang pleno.

Baca Juga: Hari Baik Menikah Menurut Islam, Apakah Boleh Memilih Hari Tertentu?

Dalam penjelasan Sekretaris SC, sidang pleno dijadwalkan untuk membacakan hasil tabulasi sekaligus menetapkan sembilan anggota Ahwa.

Setelah sembilan anggota Ahwa ditetapkan, forum tersebut bekerja secara terpisah untuk melakukan musyawarah dalam menentukan Rais Aam.

Pemilihan Rais Aam dilakukan dengan pendekatan musyawarah mufakat.

 

Menurut penjelasan tersebut, mekanisme Ahwa menjadi bagian penting karena Muktamar NU tidak sekadar memilih kepemimpinan organisasi.

Muktamar juga menjadi forum evaluasi kinerja kepengurusan selama lima tahun sekaligus menetapkan arah organisasi untuk periode berikutnya.

Muktamar juga menjadi ruang untuk membahas berbagai gagasan, program dan agenda perbaikan organisasi.

Baca Juga: Hari Baik Menikah Menurut Islam Bukan Ditentukan Weton atau Jasa Dukun

Dalam konteks yang disampaikan dalam wawancara, salah satu agenda strategis adalah merumuskan grand design khidmah NU untuk memasuki 100 tahun kedua.

Sekretaris SC menilai hasil Muktamar memiliki dampak luas karena NU menggerakkan potensi umat dalam jumlah besar.

Kontribusi NU di bidang pendidikan, kesehatan dan sosial dinilai dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Baca Juga: Menikah di Bulan Syawal Disebut Mitos, Nabi Muhammad SAW Justru Melakukannya

Karena itu, Muktamar NU dipandang sebagai forum permusyawaratan tertinggi yang tidak hanya berkaitan dengan pergantian kepemimpinan.

Tetapi juga menjadi momentum konsolidasi kekuatan organisasi serta penyusunan gagasan besar NU untuk periode mendatang.(*)

Editor : Anggi Septian A.P.
Muktamar NU Pemilihan Ahwa Muktamar NU Ahwa NU Rais Aam NU nahdlatul ulama