JOMBANG - Sejumlah tokoh ulama memiliki peran besar dalam perjalanan Nahdlatul Ulama (NU), baik melalui pendidikan pesantren, pemikiran keagamaan, kepemimpinan organisasi maupun kontribusi dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.
Di antara nama yang disebut berpengaruh adalah KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Bisri, KH Ahmad Siddiq hingga KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Daftar tersebut disampaikan dalam sebuah video Kampung Aswaja yang mengulas 10 tokoh ulama yang dinilai memiliki pengaruh besar di organisasi Nahdlatul Ulama.
Baca Juga: Megawati Hangestri Pakai Nomor 88 di Hyundai Hill State, Ini Skuad Barunya
Tokoh pertama adalah Hadrotus Syekh KH Hasyim Asy’ari. Dalam video disebutkan, pendiri NU tersebut lahir di Desa Gedang, Jombang, pada 14 Februari 1871.
Ia berasal dari keluarga elite santri. Ayahnya, KH Asy’ari, disebut sebagai pendiri Pesantren Keras, sedangkan kakeknya, KH Usman, merupakan pendiri Pesantren Gedang.
Buyut dari pihak ayah, KH Sihah, disebut sebagai pendiri Pesantren Tambakberas.
Baca Juga: Zehra Gunes dan Megawati Jadi Sorotan, Klaim Panas Jelang Laga Hillstate Perlu Dicek
Nama kedua adalah KH Abdul Wahab Hasbullah yang lahir di Tambakberas, Jombang, pada Maret 1888.
Ia disebut memiliki hubungan nasab dengan KH Hasyim Asy’ari melalui KH Abdul Salam.
Pendidikan keagamaannya ditempuh di sejumlah pesantren, termasuk Langitan, Mojosari, Cempaka Tawangsari, Kademangan Bangkalan dan kemudian Tebuireng.
Baca Juga: Zehra Gunes dan Megawati Disebut Bakal Jadi Duet Impian di Korea
Tokoh dengan Peran dalam Pemikiran NU
Tokoh ketiga yang disebut adalah KH Bisri. Ia lahir di Tayu, Jawa Tengah, pada 18 September 1886.
Sejak kecil, ia belajar agama kepada sejumlah kiai sebelum melanjutkan pendidikan ke Bangkalan dan kemudian Jombang.
Di Tebuireng, ia berguru kepada KH Hasyim Asy’ari.
Dalam video disebutkan, setelah enam tahun belajar, KH Bisri mendapatkan ijazah untuk mengajarkan kitab hadis Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim serta kitab fikih Manazil Az-Zubad.
Baca Juga: Zehra Gunes dan Megawati Disebut Bakal Jadi Duet Impian di Korea
Tokoh keempat adalah KH Ahmad Siddiq. Ia dikenal melalui pemikirannya mengenai penerimaan NU terhadap Pancasila sebagai asas tunggal organisasi.
Dalam video dikutip pernyataannya saat Munas Alim Ulama 1983 di Situbondo mengenai Pancasila.
NU disebut sebagai organisasi Islam pertama yang menerima Pancasila sebagai asas tunggal.
Baca Juga: Zehra Gunes dan Megawati Jadi Sorotan, Benarkah Ingin Satu Tim di Korea?
Kepemimpinan KH Ahmad Siddiq sebagai Rais Syuriah NU juga disebut turut mengangkat posisi NU pada periode tersebut.
Selanjutnya ada KH Wahid Hasyim atau Gus Wahid, putra KH Hasyim Asy’ari.
Ia disebut mulai belajar mengaji kepada ayahnya sejak usia lima tahun dan telah khatam Al-Qur’an ketika berusia tujuh tahun.
Baca Juga: Zehra Gunes dan Megawati Jadi Sorotan, Ini Fakta di Balik Duel Hyundai Hillstate
Pada usia 13 tahun, ia melanjutkan pendidikan ke sejumlah pesantren, termasuk Siwalan Panji Sidoarjo, Mojosari Nganjuk dan Lirboyo.
Tokoh keenam adalah KH Muhammad Ilyas Ruhiyat. Ia lahir pada 31 Januari 1934 dan merupakan putra Ajengan Ruhiyat dan Siti Aisyah.
Sejak kecil ia menempuh pendidikan di Cipasung. Dalam organisasi NU, ia mulai berkiprah sejak 1954 dan pernah menjadi Ketua NU Cabang Tasikmalaya.
Dari Fikih Sosial hingga Kepemimpinan Nasional
Tokoh ketujuh adalah KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh, pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah.
Baca Juga: Hari Baik Menikah Menurut Islam Tak Harus Cari Weton Ini Penjelasannya
Kehidupannya disebut sangat berkaitan dengan dunia pesantren, ilmu fikih dan pengembangan masyarakat.
Pemikiran yang paling menonjol adalah fikih sosial kontekstual.
Dalam menghadapi persoalan sosial, KH Sahal Mahfudh dikenal menjunjung sikap tawasuth, tawazun dan tasamuh.
Baca Juga: Hari Baik Menikah Menurut Islam, Apakah Boleh Memilih Hari Tertentu?
Tokoh kedelapan adalah KH Idham Chalid. Ia lahir pada 27 Agustus 1922 di Setui, wilayah Kalimantan Selatan.
Sejak kecil ia disebut memiliki kecerdasan dan keberanian. Bakat pidatonya mulai terlihat ketika bersekolah dan kemudian menjadi salah satu modal dalam perjalanan hidupnya.
Tokoh kesembilan adalah KH Ali Maksum. Ia lahir pada 15 Maret 1915 di Lasem, Rembang, Jawa Tengah.
Baca Juga: Hari Baik Menikah Menurut Islam Bukan Ditentukan Weton atau Jasa Dukun
Ia merupakan putra KH Maksum, pemimpin Pesantren Al-Hidayah Sohitan, Lasem.
Dalam video disebutkan, Ali Maksum pernah belajar di sejumlah pesantren dan berguru kepada Syekh Dimyati At-Tarmasi.
Tokoh terakhir adalah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Ia lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 7 September 1940 dan meninggal di Jakarta pada 30 Desember 2009 dalam usia 69 tahun.
Baca Juga: Hari Baik Menikah Menurut Islam Bukan Ditentukan Weton atau Jasa Dukun
Gus Dur dikenal sebagai tokoh muslim Indonesia, pemimpin politik, sekaligus Presiden Indonesia keempat yang menjabat pada 1999 hingga 2001.
Kesepuluh nama tersebut menggambarkan beragam peran ulama dalam perjalanan NU, mulai dari pendirian pesantren, pendidikan, pengembangan pemikiran keagamaan, kepemimpinan organisasi hingga kontribusi dalam kehidupan kebangsaan.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.