BLITAR KAWENTAR - Sejarah Nahdlatul Ulama tidak hanya berkaitan dengan berdirinya organisasi pada 1926. Lambang NU yang menjadi simbol organisasi tersebut juga memiliki cerita tersendiri. Pembuatan lambang dipercayakan kepada KH Ridwan Abdullah oleh KH Hasyim Asy'ari.
KH Ridwan Abdullah dikenal sebagai seorang alim ulama yang juga memiliki keterampilan melukis. Karena kemampuan tersebut, KH Hasyim Asy'ari meminta dirinya membuat logo untuk organisasi Nahdlatul Ulama.
Dalam pembuatan lambang, KH Hasyim Asy'ari memberikan sejumlah arahan. Lambang NU diminta tidak meniru lambang organisasi lain. Selain itu, simbol tersebut harus memiliki wibawa dan tidak membosankan untuk digunakan dalam jangka panjang.
Baca Juga: Begini Metode Pemilihan Ahwa Muktamar NU, 9 Ulama dengan Suara Terbanyak Dipilih
Tugas tersebut kemudian dijalankan KH Ridwan Abdullah dengan pendekatan yang tidak biasa.
Mendapat Inspirasi dari Mimpi
Suatu malam, sebelum tidur, KH Ridwan Abdullah berwudhu kemudian melaksanakan salat istikharah. Salat tersebut dilakukan untuk memohon petunjuk Allah dalam membuat lambang Nahdlatul Ulama.
Setelah salat, KH Ridwan Abdullah tidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi melihat sebuah langit berwarna biru. Di langit tersebut tampak seperti bola dunia yang dikelilingi bintang serta tali penyambung dan pengait.
Baca Juga: Lirik Syi'iran Muktamar Ke-35 NU 2026 Nurin Nabila, Sarat Doa untuk Indonesia
Setelah terbangun, KH Ridwan Abdullah kemudian mulai menuangkan gambaran dalam mimpinya ke dalam sebuah sketsa. Ia menggambar apa yang dilihat dalam mimpinya ke sebuah kanvas dan mulai mendesain lambang Nahdlatul Ulama.
Hasil desain tersebut kemudian disetujui KH Hasyim Asy'ari. Lambang itu selanjutnya ditetapkan sebagai logo resmi Nahdlatul Ulama.
Kisah pembuatan lambang tersebut menjadi salah satu bagian menarik dari sejarah NU. Di balik simbol organisasi yang kemudian dikenal luas, terdapat proses penciptaan yang melibatkan kemampuan seni, arahan tokoh NU, serta pengalaman spiritual KH Ridwan Abdullah.
Lambang dalam Perjalanan NU
Lambang tersebut kemudian menjadi simbol bagi organisasi yang berkembang dalam berbagai bidang. NU tidak hanya bergerak di bidang keagamaan, tetapi juga pendidikan, sosial, budaya, dan ekonomi.
Sejak berdiri pada 31 Januari 1926, NU berkembang dalam konteks masyarakat Indonesia yang saat itu masih berada di bawah penjajahan. Sumber tersebut menyebut banyak anggota organisasi, terutama dari kalangan pesantren, turut berjuang melawan penjajah.
Baca Juga: Muktamar NU di Jombang Memanas, Suhu Diprediksi Tembus 33 Derajat
Banyak santri dan anggota organisasi yang gugur dalam peperangan melawan penjajah. Meski demikian, hanya sebagian nama yang kemudian dikenal luas dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Perjalanan NU kemudian berlanjut melewati berbagai periode sejarah Indonesia. Organisasi tersebut sempat terlibat dalam politik praktis, kemudian memutuskan kembali tidak mengikuti politik praktis setelah Muktamar di Situbondo.
Di tengah perjalanan panjang itu, lambang NU tetap menjadi bagian dari identitas organisasi. Kisah pembuatannya menjadi salah satu cerita yang memperlihatkan sisi lain dari sejarah Nahdlatul Ulama.
Baca Juga: Lirik Syi'iran Muktamar Ke-35 NU 2026 Nurin Nabila, Sarat Doa untuk Indonesia
Bagi organisasi yang memiliki perjalanan panjang, sebuah lambang bukan sekadar gambar. Dalam sejarah NU, proses kelahiran lambang tersebut juga berkaitan dengan tokoh-tokoh yang berada di balik pendiriannya.
Kisah KH Ridwan Abdullah menunjukkan bahwa perjalanan NU tidak hanya menyimpan cerita mengenai pertemuan ulama dan perkembangan organisasi, tetapi juga cerita mengenai proses lahirnya simbol yang kemudian menjadi identitas Nahdlatul Ulama.
Editor : Aprillita Saskia Azzahrah Putri Kurniawan